Lasem di Penghujung Tahun

Kami bersyukur, Lasem sedang diberkahi langit yang cerah pagi itu. Sebuah pagi di penghujung Desember yang selalu berkawan dengan langit kelabu, genangan di sisi jalan, atau ujung celanamu yang basah. Beberapa saat sebelumnya, saya dan Ary tiba di Lasem, setelah menempuh lebih dari tiga jam perjalanan darat dari Semarang. Bergerak ke arah timur, menyusuri jalur pantura Kudus, Pati hingga Rembang yang cukup lengang. Meski begitu, truk-truk besar yang berjalan merayap, serta bus-bus yang melaju kesetanan masih saja menjadi kawan perjalanan yang paling setia.

Semua bermula pada sebuah pagi di taman yang sejuk. Aryanto, seorang kawan yang saya kenal melalui tulisan-tulisan di blognya, sedang transit sebentar di Semarang sebelum melanjutkan perjalanannya. Kami menyempatkan untuk bertemu meski sebentar. Berbincang tentang banyak hal, berbagi pengalaman dan cerita, sambil berjalan kaki berkeliling di sekitar kawasan Kota Lama.
Museum Nyah Lasem
Lasem yang sedang diberkahi langit cerah.
Dari perbincangan itu, kami juga berencana melakukan petualangan bersama. Singkat cerita, Lasem adalah tempat yang kami sepakati. Ary sungguh penasaran dengan kota kecil di pantura Jawa Tengah itu, setelah membaca tulisan saya tempo hari. Dia yang belakangan ini menjejali kepalanya dengan kisah-kisah masa lalu yang penuh sejarah, tentu saja antusias sekali mengunjungi Lasem yang masih menyimpan memori-memori kejayaan pada masanya.

“Lasem dan Rembang beberapa kali disebut dalam karya Pram,” Katanya.
Baca Juga: Lasem dalam Lini Masa
Sedangkan bagi saya sendiri, ini adalah kesempatan kedua menyambangi kota yang sering disebut-sebut sebagai Tiongkok Kecil tersebut. Ingin rasanya melunasi daftar panjang tempat-tempat yang belum sempat saya datangi. Namun karena kali ini tidak sendirian, sepertinya saya harus sedikit meredam ego untuk menjadi orang yang telah menamatkan Lasem di setiap jengkalnya. 

Saya teringat seorang kawan yang pernah berkata, bahwa menikmati Lasem itu harus secara perlahan. Memandang takjub rumah-rumah tua yang berusia ratusan tahun, duduk melamun di terasnya, atau berbincang sambil menyesap kopi lelet pada malam-malam yang ditemani gerimis.
Karangturi Gang 4
Karangturi Gang 4
Karangturi Gang 4
Gerbang kenangan.
Kami bertemu Mas Pop di Museum Nyah Lasem yang berada di Karangturi Gang V. Tampaknya pria dengan rambut gondrong yang selalu dibiarkan tergerai itu sedang sibuk menemani rombongan tamu lain. Maka dari itu kami dipersilakan beristirahat sejenak di guest house, untuk kemudian menyusul Mas Pop.

“Nanti malam kita nginep di sini?” Saya hanya mengangguk pelan.

Saya bisa melihat raut wajah Ary yang seketika berubah. Sebelumnya saya sudah memberitahunya, bahwa tempat kami akan menginap akan sedikit berbeda. Bagaimana tidak, jendela kaca berdebu, pintu yang berderit ketika dibuka, hingga kipas angin rusak yang berputar menimbulkan suara aneh, tentu saja sudah cocok menjadi latar bagi sebuah film horor. Namun berkaca pada pengalaman saya setahun sebelumnya, saya bisa sedikit meyakinkan Ary bahwa semua akan baik-baik saja.

Setelah menuntaskan makan siang, kami mulai berkeliling tanpa ditemani Mas Pop yang masih sibuk. Kami mengawalinya dari Desa Karangturi, salah satu pemukiman Tionghoa atau pecinan yang masih bertahan di Lasem. Tembok-tembok tebal nan tinggi menjadi ciri khas. Di baliknya, rumah-rumah tua yang konon telah berusia ratusan tahun bersemayam dalam keheningan. Ada yang masih setia menjadi tempat bernaung bagi para penghuninya. Sebagian lainnya dibiarkan kosong begitu saja. Menanti nasib baik berpihak atau malah sebaliknya, roboh dimakan waktu.

Namun ada pula yang masih bisa diselamatkan dengan cukup baik. Rumah Merah adalah salah satu contoh bagaimana semangat pelestarian mulai digalakkan oleh masyarakat Lasem. Sesuai dengan namanya, tembok berwarna merah menyala terlihat mencolok sekali di Karangturi Gang IV
Rumah Juragan Kerupuk
Sepeda masih diandalkan untuk pergi ke rumah majikan.
Masih di gang yang sama, kami berdua menyelinap masuk ke sebuah rumah bagai sekawanan pencuri. Tentu saja tak ada adegan memanjat pagar ataupun mencongkel paksa pintu rumah seperti yang ada di film-film penjahat itu. Jika bertamu ke rumah orang biasanya diawali dengan mengetuk pintu atau memencet bel, yang harus kami lakukan sedikit unik. Sebuah tali yang ditambatkan pada pintu gerbang harus ditarik. Lonceng kecil berdenting dan seseorang akan membukakan pintu.

Oleh seorang perempuan paruh baya, kami berdua diarahkan langsung menuju beranda belakang. Menemui pemilik rumah yang dipenuhi berbagai tumpukan kardus dan kemasan kerupuk mentah di sudut-sudutnya itu. Di balik etalase kaca berukuran sedang, beliau terlihat sibuk sekali dengan kalkulator dan sebuah buku lusuh entah berisi catatan apa.

“Kalau mau lihat-lihat, masuk saja sana gapapa..” Katanya tiba-tiba, sambil menunjuk sebuah pintu.

Gerak-gerik kami tentu dengan mudah terbaca oleh ibu pemilik rumah, sekalipun kami sudah berdalih ingin membeli kerupuk. Namun kabar baiknya, kami dipersilakan masuk untuk melihat-lihat bagaimana rupa tempat tinggalnya.

Kami sempat mengintip sebentar apa yang ada di balik pintu tersebut. Pekarangan yang cukup luas, bahkan terlampau luas untuk ukuran sebuah pekarangan rumah. Pot-pot tanaman hias berbagai ukuran tampak berjajar rapi. Saya pikir, mungkin merawat tanaman-tanaman itu adalah salah satu cara sang juragan kerupuk untuk mengusir rasa sepi dan bosan. Dari perbincangan dengan salah satu pekerjanya, kami ketahui bahwa beliau tinggal di rumah sebesar itu seorang diri.

“Bapak sudah lama meninggal. Sedangkan ketiga anaknya merantau ke luar kota,”
Rumah Opa Gwan
Beranda rumah yang sunyi
Siang terus beranjak, ketika langit Desember begitu cepat berubah dan rintik hujan mulai turun ke bumi, kami menemui Opa Gwan dan Mbak Minuk di rumahnya, tak jauh dari kediamaan juragan kerupuk. Seperti biasa, Opa Gwan memang selalu senang kedatangan tamu, meski orang asing seperti kami sekalipun. Dengan senyum sumringahnya, kami berdua dipersilakan duduk di kursi rotan tua yang mengelilingi meja kayu di beranda rumah. Pun dengan Mbak Minuk yang tampak berusaha keras mengingat-ingat, setelah saya berkata pernah singgah di sini sebelumnya.

Namun kami tak betah duduk berlama-lama tanpa melakukan apapun. Perbincangan pun tercipta di sela-sela gonggongan dua ekor anjing yang tak berhenti untuk beberapa saat. Sekadar saling menanyakan kabar, dari daerah mana kami berasal, cuaca Desember yang dingin, atau apapun yang bisa dibicarakan. Kemudian Opa dengan penuh semangat menemani Ary berkeliling untuk melihat-lihat isi rumah, saat saya lebih memilih untuk duduk melamun di tangga teras, hingga sedikit usil mengusik Roto dan kawannya yang tampak ingin melanjutkan tidur siangnya.
Opa Gwan
Melamun di beranda.
Setahun berselang sejak kedatangan saya ke rumah Opa Gwan, tak ada perubahan berarti di rumah yang begitu tua ini. Semua masih tampak sama, perabotan lawas berdebu, meja altar yang menghadap pintu utama, hingga lantai kayu yang berderit ketika harus menahan beban tubuh saya. Satu yang berbeda adalah tidak ada lagi Oma Lim yang terbaring lemah di salah satu kamar. Ya, Oma Lim, saudara sepupu Opa Gwan yang tinggal bersamanya selama puluhan tahun, telah berpulang beberapa waktu yang lalu. Menyisakan Opa Gwan dan Mbak Minuk yang masih setia tinggal di rumah ini.

Sebelum hujan benar-benar menderas, kami masih sempat melanjutkan penjelajahan hari itu. Berkeliling Desa Karangturi sambil memotret pintu-pintu khas Pecinan Lasem beragam warna yang terkadang terkunci rapat. Lalu mengintip sejenak magisnya Klenteng Cu An Kiong mekipun hanya dari luar pagar, hingga menikmati sepi di Tambatan Perahu Dasun ditemani semilir sejuk angin pesisir.

*****

Esok harinya, pagi-pagi sekali saat matahari kembali menampakkan diri, kami melanjutkan penjelajahan lebih awal. Mas Pop mengajak kami menyusuri jalan raya Jatirogo yang mulai ramai  oleh aktivitas warga Lasem di Minggu pagi. Ibu-ibu bercaping penjual sayur, pria bercelana pendek dengan telinga tersumpal earphone, hingga anak-anak yang tampak riang sekali bersepeda kesana-kemari.
Rumah Oma Widia
Duduk tenang-tenang sambil minum teh.
Rumah Oma Widia
Tak kuasa melawan waktu.
Kami mengawalinya dengan bersantap pagi di sebuah warung pecel langganan Mas Pop, tak jauh dari Desa Karangturi. Sebagai bonusnya, kami diperbolehkan melihat-lihat bagaimana bentuk rumah Oma Widia, pemilik rumah sekaligus warung pecel tersebut. Kondisinya sedikit memprihatinkan, di mana dinding kayunya, mulai keropos di sana-sini, tak sedikit pula lantai tegelnya yang pecah, hingga tiang peyangga atapnya yang seakan sudah tak mampu lagi menopang beban.

Sedangkan Ary sendiri sudah larut dalam perbincangan akrab yang tampak menyenangkan sekali dengan Oma Widia. Bahkan, beliau juga sempat meminta untuk berfoto bersama, sebelum kami dihadiahi dengan gorengan satu wadah penuh yang terpaksa kami tolak dengan sopan. Sepertinya, Ary sudah menemukan ‘rumah’nya di Lasem.
Baca Juga: Kisah di Balik Tembok-tembok Tinggi Lasem
Selain bangunan-bangunannya, sejarah panjang Lasem juga terekam dalam kain batik. Karenanya, mengunjungi rumah pembuatan batik tentu tak boleh kami lewatkan begitu saja, meski tak ada niatan untuk membeli selembar kain yang juga menjadi salah satu bukti alkulturasi budaya Tionghoa dan Jawa tersebut. Kembali ke Karangturi, Mas Pop mengajak kami singgah di Rumah Batik Nyah Kiok. Dari halaman depan, memang tak nampak aktivitas ataupun peralatan yang digunakan untuk membatik. Karena biasanya, seluruh kegiatan membatik dilakukan di bagian belakang yang dapat dijangkau melalui lorong sempit di samping rumah.
Batik Nyah Kiok
Menggores lilin, menorehkan takdir.
Puluhan tahun mungkin bukan waktu yang sebentar bagi rumah batik Nyah Kiok yang tetap mempertahankan motif Gunung Ringgit Pring-nya. Para pembatiknya pun seluruhnya perempuan yang sudah tidak muda lagi. Namun tangan-tangan keriputnya, masih telaten menggenggam canting hingga menggoreskan lilin pada lembar kain. Tak ada tenaga laki-laki di sini, tenaga yang sebenarnya sangat dibutuhkan dalam proses nglorot dan nyelup. Semua dikerjakan mbah-mbah yang tangguh tadi, maka dari itu proses pembuatan selembar kain batik membutuhkan waktu berbulan-bulan.

Kisah pengabdian lainnya datang dari seorang Oma Windi, yang selama puluhan tahun begitu setia merawat rumah tua milik majikannya, meski sudah lama meninggal. Tersembunyi di tengah-tengah pemukiman Desa Soditan, rumah yang kemudian diserahkan kepemilikannya kepada sebuah yayasan itu difungsikan sebagai tempat ibadah yang dikenal dengan nama Vihara Karunia Dharma. Dulunya memang banyak umat Budha yang datang untuk meditasi, sebelum ditinggalkan dan hanya menyisakan Oma Windi dan keluarganya.

Sayangnya, kami tak sempat mendengarkan kisah pengabdian luar biasa tersebut. Menjelang tengah hari, sebelum kami benar-benar sempat menyambangi The Abandoned Vihara, tiba-tiba saja kabar mengejutkan datang. Oma Windi dikabarkan meninggal dunia karena terjatuh di kamar mandi, tutur Mas Pop. Mas Pop lalu berkisah, bahwa sebelum memulai Lasem Heritage Trail-nya, Oma Windi yang menjadi kawan bicaranya ketika duduk melamun sambil memandangi eksotisnya rumah tua berusia ratusan tahun, hingga menyusun remah-remah kisah masa lalu Lasem untuk diceritakan pada orang-orang.
Garis Leluhur
Yang selalu akan dikenang.
Penjelajahan hari terakhir di Lasem kami lanjutkan dengan mengunjungi Pabrik Tegel Lie Thiam Kwie hingga Pasar Sumbergirang. Juga sebuah rumah tua yang tak jauh dari pasar, bertemu seorang Opa dan cucunya yang tampak menggemaskan sekali. Dari rumah itu rupanya Ary bisa menggali lebih dalam bagaimana secuil kisah hidup Opa tersebut melalui perbincangan yang intim. Mulai dari anak-anaknya yang tumbuh dewasa dan menemukan jalan hidup masing-masing, hingga sekelumit fakta bahwa Opa pernah menjadi salah satu pengurus di Klenteng Cu An Kiong, sebelum memeluk agama Kristen.

*****

Lasem hari ini adalah kota tua yang renta dan sunyi, namun bukan sunyi yang menyeramkan seperti layaknya kota mati. Lasem sehari-harinya masih berdetak seperti daerah-daerah pesisir pantai lainnya di Jawa. Hiruk pikuk pasar masih meramaikan salah satu sudutnya, klakson kendaraan sesekali menyalak galak karena memang jalur Pantura melintas di sini, di mana kendaraan-kendaraan besar ramai lalu lalang. Kedai-kedai makan baru juga mulai dibuka, memanfaatkan ruang di rumah-rumah tua menawan yang sebelumnya hanya tertutup rapat. Demi menyambut orang-orang yang dalam beberapa tahun ke belakang banyak berdatangan ke Lasem ataupun hanya sekadar singgah sebentar.
Meja Altar
Ruang-ruang rahasia
Opa Gwan dan Leluhur
Opa Gwan dan leluhur.
Melalui penuturan-penuturan yang saya dengar langsung dari opa-opa dan oma-oma di Lasem maupun lewat perantara seperti Mas Pop. Ketika memandangi rumah-rumah tua menawannya, hingga menapaki setiap jengkal lantai tegelnya. Dari bingkai-bingkai foto usang pada dinding-dindin kayunya yang mulai melapuk, hingga perabotan-perabotan lawas berdebu yang teronggok di sudut ruangan. Saya seakan bisa memahami ikatan macam apa yang membuat mereka begitu tabah menua di antara kesunyian, di dalam rumah-rumah lawasnya. Namun seketika itu pula, saya tak bisa menerjemahkannya, bahkan bagi saya sendiri.

Entahlah, mungkin ada benarnya apa yang pernah dikatakan oleh seorang kawan jauh, bahwa saya adalah pria masa lalu, yang memandang segala sesuatu di dunia ini berjalan dengn tempo pelan dan serba hitam putih. Serta musik-musik lawas yang menyayat hati sebagai pengiringnya.

Malam harinya, kami sedikit bersenang-senang dengan menyantap gulai kambing yang lezat sekali di Pamotan, sekitar sepuluh kilometer di selatan Lasem, meski harus sedikit bersusah payah menembus gelap dan gerimis yang tak kunjung mereda sepanjang sore hingga malam menjelang. Lalu dilanjutkan dengan menyesap kopi lelet dan wedang ronde untuk sekadar menghangatkan badan, sambil berbincang ke sana kemari di Roemah Oei. Sebelum akhirnya saya dan Ary menyerah terlebih dulu karena tak kuasa menahan kantuk, sementara Mas Pop masih bertahan untuk mengikuti sebuah acara yang digelar di Roemah Oei menjelang tengah malam.
Kopi Lelet khas Lasem
Mendengarkan cerita, menyesap kisah.
Malam itu adalah malam penghabisan di tahun 2017 yang panjang namun terasa singkat tersebut. Sepertinya, kami akan melewatkannya hanya dengan tidur di guest house Nyah Lasem dalam keheningan, tanpa hingar bingar kembang api maupun semarak terompet. Lagipula, kami juga harus menyiapkan tenaga untuk esok hari, karena kami harus meniti jalan panjang kembali ke Semarang, sedangkan Ary sendiri masih harus berjuang lebih lama lagi kembali ke Ibukota dengan kereta ekonomi.

Sebelum benar-benar terlelap, dalam diam saya merapalkan sedikit doa dan harapan di antara rumitnya kemungkinan-kemungkinan di tahun yang akan datang. Tentang secuplik mimpi yang belum terlaksana, tentang sederet pertanyaan yang tak kunjung terjawab, juga tentang rencana-rencana yang tak sesuai dengan harapan. Malam terus bergulir, namun lampu kamar masih berpendar terang. Mungkin, begitu pula tahun-tahun yang akan datang.

Pohon Trembesi
Melampaui masa.

Persawahan di Selatan Lasem
Persawahan hijau di selatan Lasem.

Share this:

Johanes Anggoro

Ceyron Louis

Yang ingin terus berjalan lebih jauh lagi. Berjalan untuk menapaki kisah, bukan meninggalkan. Terimakasih telah kembali, untuk menilik apa yang mungkin pernah terselip, disini. Di sore ini.

36 Komentar:

  1. Aaaakuuuu jd pengen ngrasain suasana laseeemmn, duh ya.. Ikut penasaran ikatan macam apa yang membuat sebagian orang Lasem begitu tabah menua di antara kesunyian..

    BalasHapus
  2. Aku malah mikirnya bagaimana sih sebetulnya perasaan warga Lasem sendiri ketika dikunjungi oleh orang-orang dengan dalih wisata? Apakah mereka seneng atau justru merasa terusik karena rumah-rumah mereka dimasuk-masuki? Yang aku khawatirkan adalah mereka sebetulnya terganggu karena merasa privasi-privasi mereka diterobos.

    Tapi di satu sisi aku juga berpikiran kalau mereka yang sudah renta ini hidup sendiri, akan bahagia bisa bercerita kepada orang-orang yang datang. Apalagi ketika cucu-cucu mereka merantau ke tempat lain. Bukankah ketika tua nanti yang dibutuhkan adalah keberadaan orang agar tidak merasa sendirian?

    Mungkin ini baru akan terjawab kalau aku tanya sendiri ke orang-orang di Lasem. Entah kapan tapi. Semoga -diundang- ada kesempatan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan ke Lasem sendiri biar paham bagaimana rasanya. Kalau selama saya ke sana, mereka sangat terbuka dengan kami.

      Hapus
    2. Betul, harus ngerasain sendiri kesana kalo pengen tahu bagaimana respon mereka terhadap orang-orang asing yang bertamu ke rumahnya :D

      Hapus
  3. Wew.. Lasem.. Penasaran pengen mrana..
    Mantan kota pelabuhan besar masa lalu...

    BalasHapus
  4. Angle pengambilan foto sama tone-nya sik atas-atas itu kok magnet sekalii :') mendukung banget sama cerita yang dituliskan.
    Mas kamu kok sudha pinter modus beli kerupuk tapi akhirnya ketahuan. Meloncengkan pintu hatinya biar dibukain kapan?

    Kalau ke Lasem wajib menginap kayanya ya? rugi kalau cuma jalan kaki terus pulang :)) wajib berinteraksi, menjalin ikatan batin dengan segenap suasana di sana.

    BalasHapus
  5. itu foto kursi tua nyaman banget rasanya. sambil minum teh dan ngobrol ngalor ngidul tahun barunya bisa lewat situ kalau aku, enak banget

    BalasHapus
  6. apakah cuma aku saja yang belum ke lasem yaa. padahal jaraknya juga tidak terlalu jauh dari semarang.
    Sudah lama pengen ke lasem, tapi ga berangkat-berangkat.
    aku selalu suka baca tentang kisah-kisah di lasem dan berharap bisa ke sana suatu saat nanti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cepet kesana mas, cuma 3 jam lho dr semarang :D

      Hapus
  7. Aku malah pengen kopi leletnya. Kayaknya kalau nanti stok kopi abis, aku mau beli di Lasem hahahhahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyoo, aku biasane ra doyan kopi, sekali nyoba kopo lelet ternyata enak wkwkwk

      Hapus
  8. Aku jadi mendapat kesan seolah lasem pelan2 akan benar2 jadi kota mati lantaran ada cerita berita kematian itu. Caramu bertutur sukses menggambarkan lasem itu lawas dan acuh dgn hiruk pikuk modernitas.
    Sue ra nulis, tetep ae tulisanmu keren. Haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baru saja kemaren ada satu rumah yang dirubuhkan 😥

      Hapus
  9. Wah, aku wong Pati malah rung tau eksplorasi Lasem

    BalasHapus
  10. kalo ke lasem recomended gak kalo solo traveling tanpa guide?

    BalasHapus
  11. Belum pernah ke Lasem, tapi setelah baca tulisamu ini jadi mikir : "Apa Lasem bener se-sepi inikah?". Barusan juga sempet googling karena masih penasaran tentang Lasem. Dan di Wikipedia padahal tertulis, bahwa Lasem itu jadi kota terbesar kedua di Rembang. Kontras sekali sepertinya kalau kota terbesar kedua di sebuah kabupaten bakal se-sepi ini. Ini berarti hanya "sebagian" Lasem saja mas, kawasan yang sepi seperti di tulisanmu itu?

    Apa yang membedakan kopi lelet dengan kopi-kopi pada umumnya? Maaf, baru tau kopi lelet juga setelah baca tulisan ini. He.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo malem sih sebenernya ga sepi-sepi amat. Masih ada kedai makan yg buka, konter ponsel yang nyetel musik ajeb-ajeb. Juga penjual gorengan :D
      Ya seperti kota kecamatan pada umumnya sih.

      Anu kopi lelet itu bedanya bukan pada biji kopinya. Tapi bubuk kopinya jauh lebih halus daripada kopi pada umumnya. Jadi ampasnya bisa dileletkan untuk ngelukis rokok, kalo kebiasaan orang sana.
      Maka dari itu namanya jadi kopi lelet :D

      Hapus
  12. aku pun sudah marking Lasem sebagai wilayah yang harus dikunjungi karena heritage nya. Informasinya lengkap sekali! ohya. kalau mau menggunakan jasa Mas Pop apa harus janjian jauh-jauh hari sebelumnya ?

    BalasHapus
  13. Lasem, sudah lama masuk dalam daftar tempat yang ingin kukunjungi. Membaca ini semakin kuat keinginan untuk datang ke sana. Berbincang dengan para sesepuh tentang masa lalu yang telah dilewati atau apa yang mereka rasakan tentang hari ini. Singgah disana dua tiga hari sepertinya akan menyenangkan.

    BalasHapus
  14. Dadi kangen lontong tuyuhan iki, tapi nek eling panase pas awan, mending golek maemE pas sore...ahahaha

    BalasHapus
  15. Mas Joe,

    Perjalanan kita ke Lasem udah lebih dari setahun lalu, tapi dirimu masih bisa menulis jelas ekpresi dan mimik mukaku waktu pertama kali sampai di Nyah Lasem. Tulisan ini membangkitkan lagi kepingan nostalgia :)))

    BalasHapus
  16. Masa sih, gak bakalan nyasar? Sejarah di Lasem ini berupa potongan2 cerita yg ada di setiap rumah disana yah.. udah ada semacam museum apa galeri sejarah ga sih?

    BalasHapus
  17. Melongo liat jam dindingnya haha, mirip yang dulu pernah kami punya. Menemani keluarga kami puluhan tahun sebelum kemudian benar-benar termakan usia. Lasem ini selalu bikin aku mupeng. Pintu-pintunya kece banget. Keren buat foto haha. Selain emang aku penyuka bangunan tua dan pengen tahu sejarahnya juga.

    BalasHapus
  18. bangunan-bangunan tua selalu menciptakan rasa penasaran dan imajinasi kehidupan jaman dulu..

    -Traveler Paruh Waktu

    BalasHapus
  19. Baru banget dengar tentang Lasem ini, aku penasaran banget sama rumah batiknya, pengen banget kesana dan bercengkrama sm warga sekitar

    BalasHapus
  20. Pengalaman yang luar biasa,,, apalagi dituang dalam sebuah tulisan yang begitu tertata dengan rapih

    BalasHapus
  21. Salam kunjungan dan follow :)

    BalasHapus
  22. Dari dulu pengen bgt deh ke lasem moga dapat kewujud

    BalasHapus
  23. Setiap mudik ke Pati selalu lewat Lasem, tapi jarang banget mampir lama. Sekadar lewat saja. Tahu, sih, kalau ada sejarah terpatri di sana. Tapi ya waktunya itu sering gak pas. Memang kudu diagendakan khusus, sih, ya. Hahaha.

    Semoga sejarah dan jejak Lasem bertahan abadi.

    BalasHapus
  24. Artikelnya keren, sukses terus ..

    BalasHapus