Semarang dalam 12 Jam


Lawang Sewu

Tanpa terasa November tinggal menyisakan hitungan hari, sebelum bulan di penghujung tahun ini menyapa. Bagi sebagian orang, Desember juga sangat dinantikan dengan penuh gegap gempita. Ya, itu berarti liburan panjang sudah menanti di depan mata. Mereka bahkan rela menyiapkan segala halnya jauh-jauh hari, demi liburan yang menyenangkan, melepas penat setelah sepanjang tahun berkutat dengan pekerjaan masing-masing.

Bagi sebagian orang lainnya, hal itu terkadang tidak berlaku. Kawan dekat Desember, yaitu musim penghujan telah resmi tiba sebulan belakangan, rintik hujan sepertinya akan lebih setia mengiringi hari-hari menuju kalender baru. Orang-orang tentu cenderung malas untuk berpergian ke luar rumah. mereka lebih senang menghabiskan waktu di dalam ruangan, misalnya menonton acara atau film favorit, hingga menamatkan beberapa buku yang telah lama terbeli.

Tak terkecuali saya, yang beberapa tahun ke belakang memang lebih sering menghindari liburan akhir tahun untuk berpergian ke suatu kota atau daerah. Pun sebenarnya saya juga tidak terlalu sering berpergian dibanding tahun-tahun sebelumnya. Namun justru di tahun ini saya lebih banyak mendampingi beberapa kawan dari luar kota yang berkunjung ke Semarang.
Pecinan Semarang
Pecinan Semarang.
Desember nanti saya kembali kedatangan seorang kawan yang belum pernah sama sekali menginjakkan kaki di kota Lunpia ini. Sayangnya waktunya tidak terlalu banyak, rupanya Ia memang hanya transit di Semarang sebelum menuju Jogja, kota yang mungkin selalu pada daftar teratas destinasi liburan bagi kebanyakan orang. Ia tak kebagian tiket kereta yang langsug menuju Jogja, maka diputuskanlah transit di Semarang karena kebetulan tiket masih tersedia cukup banyak.
Pesan tiket kereta di Traveloka mudah dan cepat.
Padahal di era modern seperti sekarang, pemesanan tiket kereta sudah bisa dilakukan jauh-jauh hari. Salah satunya untuk mengantisipasi membludaknya peminat seperti pada musim liburan panjang. Dengan sistem pemesanan online, tak perlu lagi mengantri berjam-jam di loket stasiun demi selembar tiket. Salah satunya yaitu melalui Traveloka, situs agen perjalanan online. Pemesanannya mudah dan tidak ribet, channel pembayarannya pun banyak pilihan. Mulai dari transfer melalui ATM hingga jaringan minimarket yang tersedia di banyak tempat. Terkadang pada waktu-waktu tertentu juga terdapat penawaran menarik seperti misalnya promo diskon.

Karena waktunya yang terbatas, saya mencoba menawarkan kawan saya itu beberapa aktivitas seru untuk menikmati beberapa spot wisata di Semarang. Tak banyak memang, mungkin karena hal itu Semarang kurang dilirik sebagai tujuan utama untuk menghabiskan liburan akhir tahun.

Menanti Sunrise di Pantai Baruna
Mendengar nama Pantai Baruna ini jangan bayangkan dulu pantai dengan hamparan pasir yang luas, landai dan ombak yang mendarat dengan lesu. Karena di tepiannya, hanya terdapat bekas dermaga yang rusak serta beton-beton pemecah ombak serta padang ilalang yang membentang. Berada di pesisir pantai seharusnya Semarang memiliki wisata pantai yang bisa diandalkan, namun kenyataannya memang kota ini tak memilikinya.
Pantai Baruna Semarang
Menyapa pagi di tepian pantai.
Datanglah pagi-pagi sekali, ketika fajar menyingsing, bersama para penghobi memancing yang biasanya telah datang lebih dulu. Pantai ini memang terkenal di kalangan penghobi memancing daripada tempat wisata. Suasana tenang berpadu dengan angin yang menghembuskan hawa dingin pagi tentu saja tak boleh dilewatkan begitu saja bagi para pencari ketenangan pagi.

Di sisi lain pantai ini juga terdapat monumen yang mungkin membuat orang bertanya-tanya tentang keberadaan sebuah bongkahan batu di tempat antah berantah seperti itu. Namun siapa sangka monumen tersebut masih berkaitan erat dengan sejarah kelam kota Semarang, yaitu Pertempuran Lima Hari. Monumen Ketenangan jiwa tertulis pada salah satu sisinya, diresmikan oleh Walikota Semarang Soetrisno Soeharso untuk menghormati tentara Jepang yang gugur pada peristiwa tersebut.

Mengenali Semarang dengan Berjalan Kaki
Berjalan kaki tentu semua orang biasa melakukannya, tapi bagaimana jika berjalan kaki sambil menyusuri tempat-tempat bersejarah sambil diceritakan sejarah atau cerita di baliknya? Ikutlah Bersukaria Walking Tour yang diadakan setiap akhir pekan, terkadang pada sore hari ketika matahari sudah tidak terlalu terik, namun tak jarang pula diadakan pada pagi hari.
Landhuis Tuan Klein
Bersama teman-teman baru ketika walking tour.
Semarang, kota yang penuh sejarah tentu saja tersusun dari berbagai peristiwa maupun cerita-cerita yang membuat kota ini menjadi seperti sekarang. Terkadang memang sudah tertulis pada buku-buku sejarah yang kita pelajari ketika bangku sekolah dulu, namun tak sedikit yang tak tertuangkan.

Rasanya menyenangkan sekali bisa menyusuri kota ditemani oleh seorang story teller yang akan menuturkan cerita. Melangkahkan kaki di atas trotoarnya, masuk ke gang-gang sempit perkampungan penduduk, hingga melihat lebih dekat apa yang selama ini terlewat.

Mengintip Keberagaman Semarang
Kota dengan jumlah penduduk hampir dua setengah juta jiwa ini tersusun dari berbagai etnis yang hidup berdampingan sejak lama. Tempat ibadah berbagai agama tersebar di penjuru kota, yang bisa dikunjungi satu per satu oleh siapa saja yang ingin melihat keberagaman di kota Lunpia ini. Sebut saja Klenteng Sam Poo Kong yang sudah menjadi semacam ikon tersendiri. Atau Gereja Blenduk yang merupakan bangunan tertua di kawasan Kota lama Semarang. Masjid Agung Jawa Tengah yang megah. Hingga Vihara Buddhagaya atau yang dikenal dengan nama Vihara Watugong, mengambil nama daerah tempat vihara tersebut berdiri.
Vihara Buddhagaya
Pagoda Avaloikitesvara.
Nama Watugong sendiri bukan tanpa alasan, di halaman depan kompleks vihara, terdapat sebuah batu yang bentuknya menyerupai sebuah gong tanpa rekasaya tangan manusia. Daya tarik utama di kompleks vihara ini adalah sebuah pagoda yang menjulang setinggi 45 meter. Dinamakan Pagoda Avalokitesvara, terdapat patung Dewi Kwam Im di dalamnya setinggi 5 meter.

Namun yang menjadi perhatian adalah tempat-tempat tersebut merupakan tempat ibadah yang masih aktif. Sekiranya ingin mengambil gambar usahakan jangan mengganggu umat yang sedang ibadah, ya.

Jadi kapan kamu ke Semarang :D


Share this:

Johanes Anggoro

Ceyron Louis

Yang ingin terus berjalan lebih jauh lagi. Berjalan untuk menapaki kisah, bukan meninggalkan. Terimakasih telah kembali, untuk menilik apa yang mungkin pernah terselip, disini. Di sore ini.

33 Komentar:

  1. Taun ngarep aku diajak muter-muter semarang geh. Pengen neng museum-museum e ahahhahhah

    BalasHapus
  2. Kalau pantai, dulu saya pernah ke Pantai Marina. Itupun karena ikut acara piknik sekolahnya bapak pas jaman SD. Baruna sama Marina, jauh nggak mas?

    Gereja Blenduk pernah. Sam Poo Kong, cuma sampai gerbang depannya, tok. Karena pas mampir kesana dulu, belum buka *hahaha*. Masjid Agung Jawa Tengah, belum pernah. Vihara, gur lewat karena kebablasen. Mau muter, males karena jalan e rame truk-truk gede.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Marina sama Baruna sebenernya seberangan kok dipisahkan sungai. Halah

      Hapus
  3. asik juga berkunjung ke Semarang.
    artikel yang informatif. terima kasih mau berbagi

    BalasHapus
  4. Kapan ke Semarang? Udah berkali-kali ke Semarang tapi nggak pernah kamu ajak muter-muter Semarang. :(

    BalasHapus
  5. Vihara Watugong malah masih asing di telingaku wkwk. Nama pagodanya nganuu... Sampai kecetit lidahku le baca :')

    Selama ini yang wira wiri di instagram, blog, ya Klenteng Sam Poo Kong.

    Dududu maklum aku ke Semarang cuma lewat mak sliwer, belum pernah mampir. Huhu. Pingin ke sana motorann :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. (((kecetit)))

      Vihara ini malah luwih hits sih mnrtku, karena blm terlalu rame. Dan sering juga wara-wiri di IG kok.

      Ayok dolan rene. Bonceng Mas Mawi ya

      Hapus
  6. kapan saya ke semarang? kapan deh siap jadi guide saya? hahaha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh boleh, kabari saja bang kalau mau ke sini :D

      Hapus
  7. Kayaknya akhir tahun aku ke Semarang, Mas. Habis kondangan, terus niatnya mau stay sisan semalem. Bolehlah aku digiring nang ndi ngono: wisata kekinian misal e. Ndak masalaah

    BalasHapus
  8. Tertarik sama walking tournya. Gimana cara daftarnya? :D

    BalasHapus
  9. padahal pati - semarang dekat sih. tapi biasanya cuma numpang lewat kalau mau naik kereta ke Jakarta. hehehe.
    saya lagi sedang memantapkan niat buat eksplore semarang sih, kemaren baru sempat main ke Sam Poo Kong dan kampung pelanginya aja..
    pengen eksplore kompleks pecinannya sih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo pecinan nanti pas imlek aja pasti suasana pecinannya lebih kerasa kak :D

      Hapus
  10. Dah lama gak ke semarang lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo ke Semarang lagi :D

      Hapus
    2. Yes pankapan nih mas ke semarang lagi, semoga aja bulan desember saat libur ini bisa maen ke semarang lagi wueheh :D

      Hapus
  11. Waaaaaait, ini kok saya agak asing sama apa yang kamu sebutin di wisata Semarang ya ._. njir, saya taunya yang mainstream berarti wkwkw.

    Pantai Baruna? Saya pernahnya ke Pantai Marina doang :'

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, Baruna ini seberangnya Marina. Pasti ga ada yg ngeh kalo itu pantai juga, yaaaah walopun gak berbentuk pantai pftt

      Hapus
  12. Pengen ke Semarang lagi. Tapi makan makan doang di Tembalang. Haha, soalnya makanan makanan di Tembalang enak banget sih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Loh kenapa harus di Tembalang. Kuliner di Semarang bawah banyak loh yg enak-enak :D

      Hapus
  13. Lebaran 2018 lalu ke Semarang, Sam Po Kong dan Blenduk sudah mampir, sama pantai Marina mungkin, kalau Baruna atau apa tadi, sy tdk tw dmn dy berada.

    Lain waktu coba ke sana :) ibu sy kbtln orang Semarang, tp sdh lama rantau, jd memang jrg2 plg ke Smrg, meski klrga bsr ibu bnyk di sana.

    BalasHapus
  14. Semarang, tak pernah kehabisan area blusukan, setiap sudutnya memikat. Terima kasih suguhan tempat dolan menawan ini Mas Jo. Salam

    BalasHapus
  15. Jadi kapan ya ke Semarang???

    Terakhir kesana waktu SMP, sekitar belasan tahun yang lalu ahaha..

    -Traveler Paruh Waktu

    BalasHapus
  16. Ntar kalo aku main ke Semarang, temenin ya mas. Lebih asik kalo sambil gowes sepeda ke Pantai Baruna.

    BalasHapus