Jelajah Kampung Kauman Semarang

Akhir-akhir ini saya kembali menikmati menjadi seorang pejalan kaki. Menyenangkan sekali bisa menyusuri kota, melangkahkan kaki di atas trotoarnya, hingga masuk ke gang-gang sempit. Melihat lebih dekat apa yang selama ini terlewat. Seringkali kita melewatkan suatu hal atau tempat ketika berkendara, namun akan berbeda cerita jika sedang berjalan kaki.

Beruntung saya menemukan Bersukaria yang cukup sering mengadakan walking tour di kota Semarang. Tak hanya berjalan kaki, namun kita akan diajak menelusuri tempat-tempat bersejarah dan juga cerita menarik lainnya. Saya sendiri sudah beberapa kali mengikuti tur jalan kaki yang diadakan setiap akhir pekan ini. Terkadang pada saat sore ketika matahari sudah tidak terlalu terik, namun tak jarang pula diadakan pada pagi hari.
Hotel Dibya Puri
Terbengkalai.
Seperti pada Minggu pagi itu, saya dan beberapa teman lain sudah berkumpul di depan Hotel Dibya Puri yang terbengkalai. Kali ini kami akan diajak menjelajah kampung Kauman dan sekitarnya. Saya sangat antusias sekali, karena ini merupakan rute baru yang diadakan oleh Bersukaria.
Baca Juga: Semarang dari Kampung ke Kampung
Sebagai titik kumpul, hotel Dibya Puri menjadi topik bahasan pertama. Mas Dimas Mas Fauzan saling bergantian memberi penjelasan tentang bangunan yang dulunya bernama Hotel Du Pavilion ini.

“Awalnya hotel ini di bangun pada tahun 1847. Sempat mengalami renovasi besar-besaran untuk menyambut perhelatan Koloniale Tentoonstelling yang digelar pada tahun 1914,” Tutur Mas Dimas.

Hotel yang terbilang mewah pada masanya ini terletak pada posisi yang sangat strategis. Berada di tepi Jalan Raya pos (sekarang Jl Pemuda) tak jauh dari Kota Lama yang merupakan pusat bisnis dan perkantoran. Juga dekat dengan kantor pos sebagai sarana komunikasi utama yang cukup penting.
Bersukaria Kampung Kauman
Mari bersukaria!
Sempat pula menjadi saksi bisu peristiwa bersejarah Pertempuran Lima Hari di Semarang pada masa kemerdekaan. Meski statusnya sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya yang wajib dikonservasi, tak menjamin hotel Dibya Puri bernasib baik seperti cagar budaya lainnya di Semarang. Kerusakan muncul di sana-sini karena konstruksi bangunan yang dimakan usia. Bahkan di beberapa bagian sudah hampir roboh.

Beranjak meninggalkan hotel Dibya Puri yang sedang menanti ajal, kami menuju Masjid Kauman yang berada tak jauh darinya. Berdiri kokoh di antara hiruk-pikuk pasar Yaik, lapak pedagang kaki lima, hingga pangkalan angkot. Dikenal juga dengan sebutan Masjid Agung Semarang. Namun tak sedikit yang salah mengira bahwa Masjid Agung Semarang adalah Masjid Agung jawa Tengah yang baru selesai dibangun pada 2006 silam.
Masjid Kauman Semarang
Gapura Masjid.
Masjid Kauman Semarang
Masjid Besar Kauman.
“Masjid Kauman ini juga seperti masjid-masjid kuno lainnya, khususnya di pulau Jawa. Dimana masjid berada di pusat kota, dekat dengan alun-alun dan pusat pemerintahan. Jadi seperti itulah ciri khas tata ruang kota pada jaman dahulu.”

Namun sayangnya alun-alun kota Semarang yang tadinya berada di depan masjid, telah lenyap sejak lama. Salah satunya dikarenakan beralih fungsi menjadi kawasan komersil. Di antaranya Pasar Yaik, Hotel Metro dan gedung BPD, yang kemudian dikenal sebagai Kawasan perdagangan Johar.
Baca Juga: Menyusuri Jejak Oei Tiong Ham
Masjid Kauman ternyata juga menyimpan sejarah yang menarik. Tepatnya ketika kemerdekaan Republik Indonesia diproklamirkan pada 17 Agustus 1945, yang bertepatan dengan hari Jumat. Sesaat sebelum sholat Jumat dilaksanakan, kemerdekaan Indonesia diumumkan secara terbuka melalui mimbar masjid. Konon, masjid Kauman menjadi satu-satunya masjid di Indonesia yang melakukan hal tersebut.

Adalah seorang dokter muda yang juga jamaah aktif di masjid tersebut. Dengan keberaniannya mengumumkan terjadinya proklamasi kemerdekaan. Namun sayangnya setelah peristiwa tersebut beliau menjadi buronan tentara Jepang. Dan harus melarikan diri hingga Jakarta sebelum akhirnya tewas.
Prasasti Masjid Besar Kauman
Salah satu prasasti, berbahasa Melayu. Pada masa itu bahasa Indonesia belum diresmikan.
“Masjid Kauman pernah dilanda kebakaran hebat yang menghanguskan seluruh bangunan karena sambaran petir,”

Peristiwa yang terjadi pada 1885 tersebut tercatat pada salah satu prasasti yang terdapat pada gapura masjid. Uniknya, ada empat prasasti yang ditulis dalam empat bahasa berbeda, yaitu bahasa Jawa, Melayu, Arab dan Belanda.


*****

Kampung Kauman dapat ditemui di hampir seluruh kota-kota besar di pulau Jawa. Tak terkecuali di Semarang, yang memiliki sejarah panjang dalam penyebaran agama Islam. Kampung Kauman sendiri biasanya berada di sekitar masjid besar. Menariknya, secara administratif Masjid Kauman Semarang tidak berada lagi dalam wilayah Kelurahan (Kampung) Kauman, melainkan Kelurahan Bangunharjo, Semarang Tengah.
Rumah Tradisional Kauman Semarang
Rumah tradisional.
Rumah Tradisional Kauman Semarang
Kayu masih menjadi bahan utama.
Kampung Kauman Semarang
Bersandar.
Kami diajak menyusuri gang demi gang, mengitari kampung Kauman. Berbelok dari satu gang ke gang lain yang lebih sempit. Beberapa rumah tradisional yang sebagian besar terbuat dari kayu sebagai bahan utama menarik perhatian kami. Ukurannya yang cukup mungil seakan menegaskan terbatasnya lahan untuk pemukiman di perkotaan seperti Semarang.

Nama Kauman sendiri ada yang mengatakan berasal dari nggone wong kaum (tempatnya para kaum). Namun tak sedikit pula yang berpendapat bahwa Kauman diambil dari kata qo’um maddin yang berarti pemuka agama Islam. Jadi bisa disimpulkan Kauman merupakan tempat tinggal para pemuka agama yang melakukan aktivitas keagamaan di Masjid Besar Kauman.

Kampung Kauman terdiri dari beberapa kampung kecil. Nama-nama kampung tersebut dapat menunjukkan keadaan setempat, atau jenis aktivitas masyarakatnya. Seperti misalnya kampung Butulan, yang berasal dari kata butul (tembus), dikarenakan di kampung tersebut terdapat jalan tembus. Kampung Kepatehan dikenal karena beberapa warganya yang memproduksi teh. Atau kampung Krendo yang diambil dari kata krendo (keranda), menunjukkan bahwa dulunya kampung tersebut adalah tempat untuk meyimpan keranda jenazah.
Kampung Kauman Semarang
Tertutup.
Kampung Kauman Semarang
Butulan, berarti jalan tembus.
Kampung Kauman Semarang
Gang sempit.
Pada awalnya sebagian besar penduduk kampung Kauman adalah warga pribumi. Akan tetapi dalam perkembangannya kampung ini dihuni dari beragam etnis seperti misalnya Tionghoa, Arab hingga Melayu. Aktivitas masyarakatnya pun tk hanya seputar keagamaan saja, melainkan juga bisnis. Mengingat letaknya yang dekat dengan pusat perdagangan seperti pasar Johar, sebagian warganya juga menggantungkan hidup dengan berjualan di pasar.

*****

Cuaca yang cukup terik tak sedikit pun menyurutkan semangat kami untuk terus berjalan kaki. Pemberhentian selanjutnya adalah bekas bangunan pasar Johar yang kini mengenaskan. Sejak dilanda musibah kebakaran dua tahun yang lalu, belum ada tanda-tanda bangunan pasar ini akan direnovasi kembali.
Baca Juga: Mencari Ketenangan di Tepian Laut Utara
Sebenarnya tidak disarankan untuk memasuki bangunan ini secara bebas. Bukan apa-apa, hanya mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Mengingat di beberapa bagian sudah terlihat keretakan yang cukup lebar, ditakutkan bisa roboh sewaktu-waktu. Pengalaman yang tidak menyenangkan kami dapatkan disini. Seseorang yang mengaku menjaga kawasan ini meminta sejumlah uang sebagai ‘retribusi’, dengan pandangan yang kurang bersahabat.
Pasar Johar Terbakar
Tiang-tiang telanjang.
Pasar Johar Terbakar
Ruang kosong, tak ada lagi pertemuan penjual dan pembeli.
Saya tercekat, melihat kondisi terkini pasar Johar yang berakhir mengenaskan seperti itu. Akan tetapi kemegahan bangunannya masih sangat terasa, meski hanya menyisakan ruang-ruang kosong tanpa satu pun pedagang selayaknya sebuah pasar. Hingga kini pasar Johar memang masih bediri, namun ia tak lagi utuh.

Sejarah pasar Johar berawal ketika banyak orang yang berdagang di depan penjara, di sebelah timur alun-alun Semarang. Para pedagang tersebut melayani para keluarga tahanan yang akan membesuk. Untuk mencegah kawasan tersebut berubah menjadi kumuh, ditanamilah dengan bibit pohon Johar pemberian Ki Ageng Pandanaran.

Lalu pada 1930an, pemerintah kotapraja Semarang berencana membangun pasar sentral yang lebih besar. Dengan menggabungkan beberapa pasar yang sudah ada seperti pasar Johar, Pedamaran, Beteng dan Jurnatan. Herman Thomas Karsten, seorang arsitek humanis berdarah Belanda ditugaskan untuk merancang bangunan pasar tersebut.
Pasar Johar Terbakar
Djohar nasibmu kini.
Kondisi iklim tropis serta perilaku masyarakat Semarang menjadi pertimbangan utama dalam perencanaan. Hasil rancangan tersebut memungkinkan cahaya matahari bisa masuk ke seluruh penjuru bangunan pasar. Namun tetap memperhatikan sirkulasi udara agar hawa panas bisa berkurang.

Hasilnya adalah sebuah bangunan pasar dengan arsitektur yang luar biasa. Bahkan konon disebut-sebut sebagai pasar terbesar dan terindah di Asia Tenggara pada masa itu. Pilar-pilar berbentuk cendawannya juga menjadi ciri khas tersendiri.


*****

Tanpa terasa kami sudah tiba di penghujung walking tour pagi itu. Kami diajak menyusuri hiruk pikuk pasar ikan Jurnatan menjelang siang. Kami diperlihatkan tulisan: Faberik Hygeia pada sebuah dinding yang kusam, di atas terpal lapak-lapak pedagang.

Hanya tulisan tersebut yang tersisa dari sebuah pabrik air minum kemasan pertama di Hindia belanda dengan merk Hygeia itu. Pabrik yang didirikan oleh Hendrik Freerk Tillema ini juga memproduksi minuman bersoda. Produk Hygeia cukup fenomenal pada masa itu.
Faberik Hygeia
Hygeia.
Nama Hygeia diambil dari mitologi Yunani, yang merupakan anak dari Asklepios, dewa pelindung kesehatan. Produknya yang dikenal luas tak lepas dari promosi masif yang dilakukan oleh Tillema. Mulai dari reklame yang terpampang di bermacam tempat, hingga selebaran yang disebar melalui balon udara.

Berjalan kaki bisa menjadi aktivitas menyenangkan dan tentu saja murah meriah. Tak hanya baik untuk kesehatan, tapi juga membuka mata kita terhadap sekitar dan wawasan baru. Terbukti dari tempat-tempat yang kami singgahi tadi sebenarnya cukup sering saya lewati. Namun hanya sedikit yang saya ketahui tentangnya.


Jadi mari berjalan kaki, mari bersukaria!

Share this:

Johanes Anggoro

Ceyron Louis

Yang ingin terus berjalan lebih jauh lagi. Berjalan untuk menapaki kisah, bukan meninggalkan. Terimakasih telah kembali, untuk menilik apa yang mungkin pernah terselip, disini. Di sore ini.

84 Komentar:

  1. pasar johar, dulu sempat dapat satu buku lawas karangan ketut tantri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah iya, pasar buku bekasnya emg ngangenin hehe

      Hapus
  2. dimana-mana mesti ada nama Kauman dan itu pasti ada masjid besarnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Khususnya di jawa ya mas charis

      Hapus
  3. Bayangin pasar johar yang pada masanya menjadi pasar terbesar dan terindah se-asia tenggara, keren... sayang sekali sampai saat ini masih dianggurin.
    Jadi punya planning buat walking tour kayak gini juga, tapi kalo sendiri kok ya gak enak, haha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah iya kalo mampir ke semarang coba aja ikut bersukaria walking tour hehe

      Hapus
  4. cerita tak terceritakan waktu famtrip jateng kapan itu, aku sempet salat subuh di masjid kauman ini. niatnya mau mandi pagi sekalian, tapi sayangnya nggak boleh. awalnya mikir, masjid kauman ini akan sangat megah seperti masjid kauman di jogja, tapi letaknya persis di depan pasar, jadinya terkesan kumuh dan jalanan yang becek.
    abis itu niatnya juga pengen jalan2 di (pasar yang sekarang menjadi ganti) pasar johar itu di depan masjid tapi karena jalan becek akhirnya cuma sepintas aja. padahal pengen banget muter muter pasar pas pagi sembari nyari sarapan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe iya mas gallant, cenderung kumuh. Pasar itu yg tadinya adalah alun-alun semarang

      Hapus
  5. wah asyiknya ya, jalan2 yang menambah wawasan, keren ,

    BalasHapus
  6. Saya jadi membuat simpulan. Wilayah jantung kota di Jawa Timur dan Jawa Tengah umumnya bernama Kauman. Di sana terdapat Masjid Agung, alun-alun, kantor pemerintahan, pasar, dan (kadang) penjara.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul pak, rata2 memang begitu. Pasar johar sebelum perluasan juga tadinya penjara.

      Hapus
  7. sya pingin lah famtrip ke pulau jawa. Mudah-mudahan kesampain di Pulau Bapak Ibu ku di lahirkan.

    BalasHapus
  8. Aku sempat dapat info dari teman kalau Titik Nol Semarang aslinya di depan tempat perbelanjaan atau apa gitu. Entahlah, tapi di sana masih ada yang dibanggakan (lihat Kota Lama). Sementara di Jepara, bangunan lama sudah hilang dan tergantikan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Titik nol semarang tepatnya di depan kantor pos johar. Sedikit terlupakan. Tapi beberapa tahun ini perayaan tahun baru dipusatkan disini. Semacam upaya mengembalikan pamor titik nol kota.

      Hapus
  9. Menurut saya bangunan kolonial di Semarang lebih berwarna. Pusat pemerintahan dan ekonominya masih lengkap. Semoga bisa tetap terjaga dan terbuka untuk dijelajahi. Banyak pengetahuan baru dari tulisan ini soal Semarang lama. Sayang sekali sih alun-alun aslinya sudah hilang. Saya sempat jelajah ala-ala ke sana, kemudian kebingungan karena alun-alunnya nggak ada. Belum riset juga jadi salah satu sebab. Kapan-kapan saya akan main ke Semarang, ah. Ikutan berjalan kaki dan meneliti gedungnya satu-satu, hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak orang yg ngira alun-alun semarang adalah simpang lima mas gara.
      Sedang diupayakan dikembalikan, di depan masjid kauman tersebut. Tapi juga gak mudah, karena sudah menjadi pasar, yg sudah puluhan tahun. Baik penjual maupun pembeli akan sulit merelakan pasarnya direlokasi.

      Hapus
    2. Yg menarik alun2 lama itu juga pernah dipakai upacara bendera. Tapi belum merah putih, melainkan bendera belanda!

      Hapus
  10. Sudah lama ga ikutan bersukaria..hiikss
    Ternyata ada rute baru, sudah lama kpikiran untk kliling kauman, tpi gada temannya. Next bisalah breng anak2 bersukaria :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku sblmnya juga pengen ubek2 kauman mas. Eh taunya bersukaria juga bikin. Ps banget.
      Kapan pulang dr Aceh :D

      Hapus
  11. Pengetahuan baru tentang Kauman-Kauman yang cukup lama jadi pertanyaan. Karena memang karakternya hampir-hampir mirip :)
    Oiya tiang-tiang telanjangnya itu bikin gagal fokus.Auranya kerasa banget meski hanya lewat foto :o

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku malah membayangkan, di bawah tiang-tiang itu seharusnya pemandangan pasar pada umumnya. Tawar menawar antara pedagang dan pembeli.

      Hapus
  12. Aku belum ikut rute ini :D
    Dulu Pasar Johar ikut rute Kota Lama, sekarang masuk ke rute Kauman ya? Orang yang minta retribusi di Johar itu mengganggu banget deh. Mas Dimas juga kayaknya pernah dimintain pas bawa peserta masuk ke sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Serem mbak mukanya hehe drpd kenapa2 ya kita kasih aja.

      Hapus
  13. Mas, hotel Dibya Puri itu bagus. Semestinya mendapat perhatian lebih dan menjadi peninggalan budaya seperti bangunan - bangunan di Kota Lama.

    Mengenai pasar Joar, wah saya ingat sekali pagi itu saya pas lagi di Semarang. Ngebut ke pasar pengen ikut mbantu kebakaran hehehe.

    Dan tulisan Hygea sedikit terbilang unik mas. Mengingat Semarang lebih ke arah kolonialisme Belanda, dan ditemukan tulisan Yunani.

    Keren mas keren..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mas gilang.
      Betul, dibya puri seperti dianak tirikan.

      Hapus
  14. Saya pernah sekali ke Semarang. Tujuan utama waktu itu menghadiri festival jazz Loenpia Jazz.
    Sehari sebelumnya saya sempat menyusuri obyek-obyek wisata disana, sayangnya gak sempat mampir ke kampung Kauman ini.
    Mungkin nanti kalo ke Semarang lagi.

    Salam,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih banyak tempat-tempat menarik di semarang :D

      Hapus
  15. ...pas ke Semarang empat bulan lalu, di sananya hujan plus lagi Imlek. nyaris sepi banget :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah imlek identik dg hujan yg ga berhenti2 :D

      Hapus
  16. seru ya walking tour sperti ini, mudah2-an sisa2 "saksi" masa lalu tetap terjaga .. gedung2 .. juga rumah penduduk lama yang tersisa

    BalasHapus
  17. aku kok tertarik dengan pasar johar, kembaran pasar cinde di palembang dgn tiang jamurnya itu, sayang kalo di palembang pasar cindenya udah mau dibongkar jadi pasar yg lebih modern

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pdhl kalo diliat terhitung megah untuk sebuah bangunan pasar.

      Hapus
  18. Dulu pernah menginap di hotel Dibya Puri itu, cukup nyaman sih - hanya saja kok terkesan spooky; alhasil nggak tidur semalaman... Hahahaha

    Jaman masih sekolah selalu ke pasar Johar untuk cari kaset barat keluaran terbaru; harganya lebih miring daripada di toko kaset resmi, plus kualitas sama. Betapa beruntungnya diriku

    Btw, itu ada mbak Anggun ikut walking tour?

    @burgerk3ju

    BalasHapus
    Balasan
    1. Loh kenal sm mbak anggun mas?
      Itu dibya puri tutup taun brp sih mas? Taunya masih kepake, eh kemaren baru tau hampir rubuh gitu

      Hapus
  19. Aku bar seko semarang beberapa minggu lalu mas, tapi ora pas wikend e...Dadi ra isoh melu bersukaria *halah, basa-basi* XD

    Hampir di semua kota kaya e ada daerah yang namanya Kauman ya?
    Dan kaya e cerita dibalik nama Kauman itu sendiri, juga kurang lebih sama.
    Daerah dimana para kaum, bertempat tinggal / berkumpul

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbok kabar2 kalo mampir ke semarang biar bisa bersua hehe.
      Betul kauman memang hampir ada di seluruh kota2 di jawa. Tp uniknya tradisinya beda-beda

      Hapus
    2. Aku ke semarang yo gegara tes CPNS kemarin itu ding. Hehe
      Jarang main ke daerah Pantura-pantura sana aku XD

      Hapus
  20. Wah iya sedih juga klo tau sejarahnya pasar johar, ngomongin soal masjid kauman daku aja blm sempat kesana.

    Kayaknya Semarang ini banyak ya wisata berserjarahnya

    Aku paling penasaran lagi sama Pelabuhannya 😂, kapanlah bisa kesana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buanyaaak yg bisa diulik dr sejarah semarang mbak lid. Aku aja yg lahir di kota ini blm tau semua hehe

      Hapus
  21. Kauman di Jogja juga ada masjid dan dekat alun-alun, mas. Oalah, jadi di situ toh bekas alun-alun Semarang.

    Aku berharap Pasar Johar dapat direnovasi. Kecerdasan arsitekturnya itu adalah warisan negeri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kauman dan alun2 seperti sudah sepaket😁

      Hapus
  22. di bandung juga ada komunitas yang sering ngadain walking tour kaya gini, namanya komunitas aleut. mau ikutan tapi ga sempet terus.

    memang bener ya, kalau jalan kaki memang lebih lambat. tapi kita bisa melihat lebih banyak. Di sekitar, kalau sha lewat masih banyak bangunan yang kaya gitu. Terus kadang acuh tak acuh karena cuma lewat doang. Dari kegiatan kaya gini malah lebih di gali lagi, sejarah di baliknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah bandung banyak tuh tempat-tempat bersejarah.

      Hapus
    2. sekarang udah mulai tergerus nih mas, di ganti bangunan baru..

      Hapus
  23. Ikut bersukaria dong Mas Jo, nggak jauh koq dari Salatiga. Terima kasih ya postingan yg nguri-uri sejarah wilayah Kauman. Salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo mbak prih, silahkan kalo berkenan mampir ke semarang bisa ikutan walking tour :D

      Hapus
  24. Bisa dibilang ini kampung tua gtu ya mas di Semarang?
    Moga2 ada kesempatan mengunjunginya. Saya blm pernah ke Semarang hehe.
    TFS

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak, dari kampung2 ini kota semarang terbentuk hehe

      Hapus
  25. Tempat-tempanya penuh cerita sejarah iya.

    Aku suka jalan kaki, ikutan dong tur jalan kakinya, seru kayaknya. Hehe :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo ikut aja kalo mapir ke semarang kak :D

      Hapus
  26. Kauman itu banyak ya Jo. Di Solo juga ada. Jogja juga ada ya kayaknya?
    Btw pasar johar itu lama banget jadinya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya lama, gatau anggarannya susah turunnya atau gmn😓

      Hapus
  27. Seru banget jo, jalan kaki lagi. Kamu ada postingan khusus yg membahas soal @bersukaria g? Jadi kepo sama mereka. Tadi udah buka IG nya sih, cuman mau tau pengalaman kamu secara personal jalan2 bersama mereka. Kalau kamu belum pernah ngepost, bikin dong..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belom sempet nih😁
      Tapi udh pernah dimuat di beberapa media lho mereka.

      Hapus
  28. aaaakkkkkuuuuuuuuuu rindu masjid gede kauman...

    BalasHapus
  29. arsitektur pasar johar itu sama dengan pasar cinde di palembang. bedanya kalau di sana memang gak digunakan lagi dan bangunan lama masih ada.. di sini pasar cinde sedang dihancurkan dan diganti dengan desain yang baru :( hilang deh karya lama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya koh, sangat disayangkan :(
      Padahal bangunan modern itu cenderung membosankan

      Hapus
  30. Aku baru tahu loh mas di Semarang ada walking tour. Kapan-kapan ah nyoba. Makasih infonya mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada mas hampir setiap pekan diadakan. Buat hunting foto juga seru.

      Hapus
  31. Menarik sekali acaranya. Sayang saya sudah berkeluarga jadi udah nggak sebebas dulu.. Hehehe

    BalasHapus
  32. Aku baru tahu ada komunitas yang ngadain walking tour gini di Semarang. Tahun lalu sempet muter2 jalan kaki juga di seputaran kota tua Semarang. Habis itu naik gojek ke tempat lumpia gang lombok hehehe :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih sodaraan sama jakarta good guide mereka :)

      Hapus
  33. Jadi pengin jalan kaki menelusuri kampung kauman deh

    BalasHapus
  34. Dududu... Jadi kangen semarang khususnya stasiun Tawang dan Terminal Terboyonya. Dulu sering banget gunakan dua tempat transportasi ini.

    BalasHapus
  35. Kirain kauman Jogja, ternyata di Semarang juga ada. Ini bisa di list kalau nanti ke Semarang bisa maen kesini..

    Ini jalan2 sembari cari pengalaman ya, Mas, paling asik emang jalan-jalan ke tempat bersejarah, bisa belajar juga..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di jogja malah kaumannya bersejarah banget.

      Hapus
  36. kemaren ke semarang cuma lewat di mesjid agung. padahal kalo mampir sejenak buat solat di situ seru kali ya.. nyesel dah sekarang.....


    btw itu pasar djohar... weeee..... serem juga....

    BalasHapus
  37. wiih..kaya huruf nih artikelnya,,
    kakinya gak pegel mas?itu kenapa smpe ada preman, serem ah.

    BalasHapus
  38. Nama grupnya lucu: bersukaria. Aku suka foto-foto jendelanya. Trus sedih pas lihat foto Pasar Johar yang terbengkalai. Dulu suka nyari jajan pasar di sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Diambil dari judul lagu yg diciptakan oleh bung karno tahun 60an. Untuk meyakinkan rakyatnya meski bangsa sedang dalam masa sulit, tapi harus tetap bersukaria :D

      Hapus
  39. waduh kayaknya di semarang bagus juga ya, kayak bersejarah gitu, jadi pngin ke semarang deh. btw kalau ada waktu luang mampir ke blogku juga ya om hehe :D

    BalasHapus
  40. Bangunan sejarah yang ceritanya musti diwariskan dari generasi ke generasi. Agar tak lupa akan masa lalu....

    BalasHapus
  41. Banyak seni berjalan, salah satunya dengan berjalan kaki. Saya juga sangat menikmati perjalanan dengan jalan kaki, melihat lebih dekat dengan masyarakat setempat

    BalasHapus
  42. Wisata sejarah sekaligus menyehatkan badan ya mas..
    Kalau di Padang, Ubay (blog kidalnarsis) tuh yg suka bgt sama tempat2 heritage hehe..

    Salam
    -Traveler Paruh Waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, aku udh tahu sejak lama hehe. Makasih sudah mampir :)

      Hapus
  43. Aku setiap ke Semarang blm pernah nyobain walking tour hiks, kayaknya seru banget mas jalan di lorong2, gang2 sempit,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo mbak Lid ke Semarang lagi, kan deket sekarang :p

      Hapus