Pecinan Semarang dalam Rekaman Langkah

Gapura Pecinan Semarang
Keberadaan kawasan Pecinan di Semarang sejak lama menjadi semacam tetenger atau penanda kota. Sama halnya dengan kampung-kampung lainnya seperti Pekojan, Kauman ataupun Kampung Melayu. Sebagai kota yang hidup dari dengusan mesin-mesin kapal sejak jaman klasik, Semarang telah meleburkan berbagai macam kebudayaan. Sebut saja Tionghoa, Arab, Melayu adalah beberapa dari sekian banyak kebudayaan itu.

Bicara tentang Pecinan Semarang, satu yang tak bisa lepas adalah Pasar Semawis atau sering disebut juga Warung Semawis. Pasar malam yang menyajikan banyak sajian kuliner ini digelar sepanjang Gang Warung setiap akhir pekan. Semawis juga telah menjadi salah satu tujuan utama wisatawan jika berkunjung ke Semarang.

Namun sesungguhnya Pecinan Semarang lebih dari itu. Pecinan tak hanya soal Semawis semata.

*****

Walking tour sore itu diawali dari pelataran Klenteng Tay Kak Sie yang terletak di Gang Lombok. Klenteng ini awalnya tidak berdiri di lokasi yang sekarang, melainkan terletak di sekitar Gang Gambiran. Karena lokasinya yang dirasa kurang cocok, pada tahun 1771 klenteng dipindahkan ke lokasi sekarang yang dulunya merupakan sebuah lahan kebun cabe atau lombok.
Klenteng Tay Kak SIe
Klenteng Tay Kak Sie dan patung sang laksamana Cheng Ho.
Keberadaan sebuah kedai lunpia persis di sebelah klenteng, menjadi daya tarik tersendiri. Karena hampir setiap orang yang selesai bersembahyang, akan singgah sejenak untuk sekedar mencicipi kuliner legendaris itu. Terlebih bagi mereka yang sengaja datang dari luar kota.

Sebutan “istana para dewa” disematkan pada klenteng ini, karena memiliki dewa paling lengkap dibanding klenteng-klenteng lainnya. Selain bangunan maupun detil ornamennya yang sangat indah, hal menarik lainnya adalah pertunjukan wayang potehi yang digelar di pelatarannya ketika salah satu dewa berulang tahun. Bahkan jika tidak ada satu orang pun yang menonton, pertunjukan akan tetap dimainkan karena memang  diperuntukkan bagi para dewa.
Gang Pinggir
Suasana sore di Gang Pinggir.
Dari Klenteng Tay Kak Sie, Mas Fauzan mengajak saya serta Mas Rivai menyusuri Gang Pinggir yang merupakan ruas jalan utama di kawasan Pecinan. Kesibukan dari toko-toko yang berjejer di sepanjang jalan tersebut, masih terlihat meski hari sudah beranjak sore. Seperti yang kita ketahui, Pecinan memang telah sejak lama menjelma sebagai salah satu kawasan ekonomi yang cukup penting di Semarang. Terlebih keberadaan bank-bank nasional maupun daerah yang membuka cabangnya disini cukup membuktikan hal itu.

*****

Kawasan Pecinan Semarang sendiri memiliki sejarah yang tak kalah panjang dengan Kota Lama. Diawali dengan peristiwa Geger Pecinan pada tahun 1740 di Batavia, Belanda kemudian menerapkan sistem pemisahan bagi para etnis Tionghoa dengan orang pribumi. Tujuannya agar pergerakan orang-orang Tionghoa mudah diawasi. Di Semarang sendiri, dari yang semula banyak bermukim di daerah Gedong Batu dipindahkan ke sebuah lahan kosong yang tak jauh dari Kota Lama.
Fasad Bangunan Rumah Tionghoa
Atap pelana yang merupakan ciri khas rumah Tionghoa.
Sejarah kelam Pecinan tak hanya sampai situ saja. Ketika rezim Orde Baru berkuasa, para etnis Tionghoa mengalami diskriminasi. Segala kegiatan keagamaan, kepercayaan, dan budaya Tionghoa tidak boleh dilakukan secara terang-terangan. Termasuk juga ciri khas rumah Tionghoa sebagai tempat tinggal mereka harus dirubah. Ciri khas tersebut diantaranya adalah bumbungan atap yang berbentuk pelana kuda serta melengkung pada kedua ujungnya.

Meski jumlahnya sudah jauh berkurang, beberapa bangunan yang tetap mempertahankan ciri khas tersebut masih dapat kita lihat. Banyak diantaranya terjepit di antara bangunan-bangunan modern lainnya yang kebanyakan memang difungsikan sebagai ruko 2-3 lantai. Lantai bawah mayoritas digunakan untuk membuka toko atau usaha lainnya, sedangkan tempat tinggal mereka berada di lantai atasnya.

*****

Selain berbagai pertokoan yang berjejer di sepanjang Gang Pinggir, terdapat pula beberapa klenteng yang digunakan untuk beribadah. Letaknya pun cukup berdekatan, dengan warna merah yang mendominasi, lilin-lilin yang menyala serta huruf Mandarin yang tertulis di beberapa sudutnya. Meski begitu, hanya satu yang dikenal dengan nama Klenteng Gang Pinggir yaitu Klenteng Tong Pek Bio.
Klenteng Tong Pek Bio
Klenteng Tong Pek Bio atau dikenal sebagai Klenteng Gang Pinggir.
Klenteng Ling Hok Bio
Klenteng Ling Hok Bio.
Klenteng-klenteng tersebut sekilas memang tampak sama dari segi bangunan atau arsitekturnya. Namun jika dilihat dari detil ornamennya seperti ukiran, patung ataupun pernak-pernik lainnya, masing-masing memiliki ciri khas yang berbeda satu dengan yang lainnya. Hal tersebut pula yang membuat setiap klenteng memiliki makna dan filosofis yang berbeda.

Meski saya sendiri tertarik dan dibuat penasaran dengan makna simbolis dari detil ornamen tersebut, saya hanya bisa menerka-nerkanya. Hanya sedikit yang bisa saya pahami, sisanya memang dibutuhkan pengetahuan yang lebih dalam. Saking rumitnya pula, perlu waktu yang tidak bisa dibilang sebentar.
Klenteng Tek Hay Bio
Klenteng Tek Hay Bio atau Sinar Samudera.
Di antara beberapa klenteng yang berada di Gang Pinggir, ada satu yang paling menarik perhatian saya. Adalah Klenteng Tek Hay Bio atau sering disebut juga dengan Klenteng Sinar Samudera, yang terletak persis menghadap ke Jalan Sebandaran. Aroma hio yang cukup pekat menyambut kami bertiga, begitu menginjakkan kaki di pelataran klenteng tersebut.

Menurut penuturan Mas Fauzan, klenteng ini memuja Tek Hay Cin Jin yang dihormati sebagai pelindung para nelayan. Yang menarik adalah nama Tek Hay Cin Jin hanya dikenal di Indonesia, terutama di pantai utara Pulau Jawa. Nama tersebut merupakan gelar yang diberikan kepada Kwee Lak Kwa. Seorang pedagang Tionghoa yang juga turut dalam pemberontakan terhadap VOC pada tahun 1740. Tersiar kabar bahwa beliau menghilang, setelah tertangkap oleh serdadu VOC.

Setelah menghilang, Kwee Lak Kwa sering menampakkan diri serta memberi pertolongan pada para nelayan ketika mengalami kesusahan di laut. Terutama nelayan-nelayan di sekitar perairan Tegal. Sejak saat itu Kwee Lak Kwa dianggap bukan manusia biasa dan kemudian didewakan.

*****

Dari Gang Pinggir yang ramai, kami diajak Mas Fauzan berbelok ke Jalan Sebandaran 1 yang cenderung lengang. Siapa sangka di jalan kecil ini justru terdapat dua klenteng yang cukup besar dibandingkan klenteng-klenteng sebelumnya. Pelatarannya pun cukup luas sehingga dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk memakirkan kendaraan mereka.
Klenteng Hwie Wie Kiong
Klenteng Hwie Wie Kiong.
Klenteng See Hoo Kiong
Klenteng See Hoo Kiong.
Klenteng See Hoo Kiong adalah klenteng kedua di Sebandaran yang kami singgahi. Kesan kusam kami dapatkan begitu menginjakkan kaki di pelatarannya. Berbeda sekali dengan klenteng pada umumnya yang didominasi dengan warna merah menyalanya.

Jika dilihat sekilas, klenteng tersebut memang nampak tidak terawat dan dibiarkan apa adanya. Padahal jika dihitung dari tahun berdirinya, klenteng See Hoo Kiong termasuk paling muda di kawasan Pecinan Semarang. Sejak pertama kali dibangun pada 1881, klenteng ini belum tersentuh perbaikan atau pemugaran. Konon hal tersebut dikarenakan memang dilarang oleh sang dewa.
Tegel See Hoo Kiong
Tegel sebagai lantai yang masih asli.
Patung See Hoo Kiong
Patung di teras klenteng See Hoo Kiong.
Nama Sebandaran itu sendiri berasal dari kata syahbandar, konon di daerah ini pernah tinggal seorang syahbandar. Hal ini bisa dibuktikan bahwa kedua klenteng di Jalan Sebandaran ini memuja Dewi Laut, yang dipercaya memberikan perlindungan bagi para pelaut yang akan melakukan perjalanan dengan kapal. Sehingga bisa disimpulkan bahwa Sebandaran adalah titik penting bagi kegiatan pelayaran pada masa itu.

Langkah kami masih berlanjut meski matahari sudah hampir tenggelam di ufuk barat. Kali ini kami menyusuri Jalan Wotgandul Timur yang masih terusan dari Gang Pinggir. Deretan pertokoan masih mendominasi di sepanjang jalan ini. Becak, sepeda motor maupun mobil melintas silih berganti. Pertanda bahwa denyut perdagangan memang tak kenal malam.
Klenteng Siu Hok Bio
Klenteng Siu Hok Bio.
Sebuah klenteng mungil menarik perhatian saya, terjepit di antara bangunan pertokoan modern. Adalah Siu Hok Bio, sebuah klenteng yang berukuran paling kecil dibanding klenteng lainnya. Namun jangan remehkan ukurannya, karena klenteng yang memuja Dewa Bumi ini merupakan klenteng tertua yang berdiri di Pecinan Semarang.

Dibangun pada tahun 1753, Siu Hok Bio memiliki arti makmur dan panjang umur. Uniknya, klenteng ini sengaja didirikan dalam posisi ‘tusuk sate’ atau lebih tepatnya menghadap Gang Baru. Hal ini diyakini bahwa keberadaan Klenteng Siu Hok Bio ini dapat menangkal aura negatif di kawasan Pecinan.

*****

Bicara Pecinan memang tak hanya soal klentengnya saja. Mas Fauzan juga mengajak kami menyusuri gang-gang sempit, salah satunya adalah Gang Baru. Sebuah lorong sempit, sepi dan sedikit menyeramkan pada malam hari. Namun situasinya akan jauh berbeda pada pagi hingga siang hari.
Klenteng Hoo Hok Bio
Klenteng Hoo Hok Bio yang berda di Gang Cilik tak jauh dari pasar Gang Baru.
Wajah Gang Baru di pagi hari adalah sebuah keramaian pasar tradisional, yang namanya cukup legendaris sejak puluhan tahun. Namun jangan bandingkan pasar ini dengan pasar lainnya yang bercirikan bangunan, misalnya Pasar Johar dengan pilar cendawannya. Pasalnya, pasar tradisional di Gang Baru hanya menempati sebuah lorong sempit di kawasan Pecinan.

Para pedagang biasanya akan mulai membuka lapak sekitar pukul empat pagi. Tak hanya didominasi oleh etnis Tionghoa saja, melainkan juga banyak dari etnis Jawa dan Melayu. Barang dagangannya pun cukup beragam, mulai dari bahan makanan, obat-obatan tradisional, pakaian, hingga pernak-pernik khas Tionghoa. Menjelang siang, biasanya pasar sudah mulai lengang karena beberapa pedagang telah merapikan lapaknya. Dan gang sempit tersebut bisa kembali dilewati kendaraan.
Jendela Khas Rumah Tionghoa
Jendela yang sekaligus berfungsi sebagai meja berjualan.
Tanpa terasa, kami sudah hampir tiba di penghujung walking tour sore itu. Berbelok masuk ke gang satu ke gang lainnya. Sesekali berhenti untuk melihat lebih dekat ciri khas lain dari rumah Tionghoa, yaitu jendelanya yang sekaligus berfungsi sebagai meja untuk berjualan. Lalu melewati Gang Warung dengan deretan lapak-lapak yang bersiap untuk menyambut pengunjung.

Gang Warung di siang hari adalah deretan pertokoan tekstil hingga obat-obatan tradisional Tionghoa. Jika akhir pekan tiba, khususnya sore hingga malam hari, seruas jalan ini akan di tutup total dari ujung ke ujung. Kemudian deretan lapak berbagai macam kuliner akan digelar disini, untuk memanjakan lidah para pecinta kuliner.

Pasar Semawis atau Warung Semawis lahir bersamaan dengan peringatan 600 tahun pendaratan Laksamana Cheng Ho di Sam Poo Kong pada tahun 2004. Awalnya hanya digelar tiga hari menjelang tahun baru Imlek. Beberapa tahun berselang, pasar kuliner ini rutin digelar setiap akhir pekan, yaitu hari Jumat hingga Minggu.
Klenteng Tay Kak SIe di Malam Hari
Klenteng Tay Kak Sie yang bercahaya di malam hari.

*****

Menyusuri kawasan pecinan membuat saya seakan melewati lorong panjang sebuah cerita sejarah dan kekayaan budaya. Dari aroma hio yang selalu tercium ketika memasuki pelataran klenteng, hingga setiap lilin yang menyala di meja altar. Dari hiruk pikuk pasar tradisional di pagi hari, hingga lorong sepi nan gelap di malam hari.

Pecinan adalah salah satu penanda, bahwa kota Semarang sejak lama dibangun dari keberagaman. Keberagaman yang sudah sepatutnya membuat hidup di negeri ini menjadi semakin indah. Bahwa beragam bukan berarti membeda-bedakan. Saya adalah anda. Kita adalah Indonesia.
Bersukaria Walking Tour
Mari bersukaria!

Share this:

Johanes Anggoro

Ceyron Louis

Yang ingin terus berjalan lebih jauh lagi. Untuk menapaki kisah, bukan meninggalkan. Terimakasih telah kembali, untuk menilik apa yang mungkin pernah terselip, disini. Di sore ini.

70 Komentar:

  1. semarang memang penuh dengn budaya, tempat bersandarnya kapal2 dr luar dulu ya, para pedagang de arab dan cina,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas Charis, karena semarang adalah kota pelabuhan.

      Hapus
  2. Wah, asik ini ikut walking tour. Tiba-tiba kamu memberiku ide. Kebetulan aku mau ke semarang, jadwalnya liat kemana Jo?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadwalnya bisa diliat di IG @bersukaria walk

      Hapus
  3. aku banget lah kalau urusan menyusuri kota tua semcam ini. sensasinya gimana gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas hen, serasa melewati lorong waktu hehe

      Hapus
  4. Mantap seklai heritage-an nih

    BalasHapus
  5. di depan pintu masuk kelenteng pasti ada patung singanya ya mas.....duuh....jadi pengen ikut bersukaria kalo gini ceritanya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo yg pasti sih, ukiran harimau dan naga mas. Hampir di setiap klenteng ada. Maknanya sama dg ukiran sosok menyeramkan diatas pintu candi.

      Hapus
    2. menurut kepercayaan sih sama-sama untuk menghalau kekuatan jahat masuk ke dalam mas....#hmmmm sial g boleh masuk

      Hapus
  6. Di sini semacam laboraturium hidup bagi yang menginginkan belajar tentang kekayaan keberagaman :))
    semoga suatu saat nanti diberikan kesempatan menapaki gang2 sempit dan mneyaksikan jendela2 rumah itu terbuka disulap menjadi lapak2 mereka :')

    penutupnya mantap mas :D

    BalasHapus
  7. Jadi sebelum orde baru, bentuk atap rumah khas tionghoa lebih banyak seperti itu mas? Terus habis itu ganti gitu?

    Baca di mana gitu, klenteng tua dihitung dari jumlah tangganya ya?

    Terus terang kalau ikutan walking tour pecinan gini agak susah pahamnya. Lemot wkwkw di solo, mengunjungi satu klenteng aja, lupa tadi masnya cerita apa wkwk. Ini keren, mengunjungi banyak klenteng, masih inget aja gitu ceritanya.

    Total klenteng di Pecinan Semarang jadi berapa? Waktu muter muter itu cuma dapet 8 aku 😂😂

    Salam kita Indonesia! Wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya aku ga bahas klenteng satu per satu disini. Karena butuh pengetahuan yg mendalam, takutnya salah kan bisa berabe. Total 8, plus 1 rumah abu di depan tay kak sie. Entah masih bs disebut klenteng ato gak.

      Hapus
    2. Aku malah nggak ngeh rumah abunya. Btw toko yang pakai jendela itu apik banget.

      Hapus
    3. Rumah abunya gede di sisi kanannya. Memang sepi sih.

      Hapus
  8. 1. Semarang emang asyik Kota tuanya
    2. Eh aku jadi tambah penasaran sm daerah pecinannya krn sejarahnya cukup pnjg apalagi dgn kerajaan Mataram Dan VOC
    3. Yg jualan pake jendela aku pernah liat di Surabaya timur, aku suka pas liat mereka buka tutup gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas, sejarah masuknya orang tionghoa di nusantara pun cukup panjang. Dan sudah sejak lama berkaitan dg kerajaan2 di nusantara. Melalui perdagangan dan sebagainya.

      Hapus
  9. Aaak aku mau ikutaaan kalo walking tour beginian, jo. Aku cuma tahu Gang Lombok dan kuliner-kulinernya aja hiks. Aku langsung jatuh hati ketika lihat foto Kelenteng See Hoo Kiong, walau kusam tapi cantik! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. See hoo kiong sedabg direnovasi lho sat, tapi sebatas atapnya sih kabarnya. Soalnya sudah banyak yg bocor.

      Hapus
  10. Waaaah, baca post Mas ini bikin saya inget bahwa saya belum pernah ke Semarang. Beberapa kali rencana selalu batal. Pengen banget ke Semarang, apalagi lihat Pecinan ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mampir ke pasae semawis jika akhir pekan, mas. Ramai sekali, dr luar kota pun banyak.

      Hapus
  11. Aaak asik eksplore daerah pecinan semarang. . Di surabayaa juga ada daerah pecinam mas. . Daerah kembang jepun namanya 😊 tfs yaaa, km cocok jadi duta wisata atau sejarah semarang mas. . 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai mbak lucky, iya surabaya juga punya. Tapi aku belum pernah masuk dan lihat2 lebih jauh. Sebatas lewat gapuranya yg khas :D

      Hapus
    2. Aku mau main semarang mas awal agustus bessook hehehe 😀

      Hapus
    3. Waah ayo meet up mbak kalo selo :D
      Urusan kerjaan apa cuma main nih.?

      Hapus
  12. entah mengapa aku suka sekali suasana pecinan, apalagi kuil2nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan aroma hionya yg bikin khas mbak :D

      Hapus
  13. Aku pernah kesasar waktu jalan-jalan ke Pecinan Semarang. Tapi akhirnya aku bisa pulang juga. Salam kenal kak,aku dari Kendal dan kebetulan juga sering lewat Semarang. Jangan lupa berkunjung ke blog ku ya kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai salam kenal mbak siti. Haha sama, pertama kali muter2 pecinan kayak hilang arah.

      Hapus
  14. dari lama pengen tau namanya daerah 'pecinan' ini, tapi belum kesampaian juga sampe skrg wkwk nice post mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe di jogja juga ada kan pecinan, kampung ketandan namanya

      Hapus
  15. semawis itu murni nama daerah apa singkatan to mas Jo? masalahnya di warung makan deket kampus UNS juga ada yang namanya semawis, dan itu yang jualan / pemiliknya juga orang tionghoa.

    tak kira wayang potehi juga macam wayang kulit atau wayang orang gitu, murni buat pertunjukkan. etaunya juga buat persembahan kepada dewa, makanya walaupun ngga ada yang nonton tetep "show must go on". salut!

    hio sama dupa beda kah mas? jujur aku nek istilah hio, baru denger dan tau ini hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semawis sendiri bisa diartikan nama semarang, dr kata asem arang. Sama dengan asem awis.

      Tapi semawis disini adalah singkatan dr semarang wisata. Branding dr wisata pecinan itu sendiri. Khususnya wisata kuliner hehe.

      Hio sama kok dg dupa, mas wisnu.

      Hapus
  16. Walking tour yang seru banget Mas. Membuktikan bahwa daerah pesisir seperti Semarang adalah melting pot untuk berbagai macam budaya, sekaligus sebagai sebuah bandar dagang yang maju dan sangat toleran. Mudah-mudahan bisa napak tilas walking tournya nih, kalau saya ada waktu ke Semarang lagi, wkwk.

    BalasHapus
  17. Patung monyetnya mirip sama emot di whatsapp haha

    BalasHapus
  18. mupeng pengen ke sini, bukunya sudah ada yang ngasih, di blog sudah ada yang nulis, tinggal eksekusi ke sini, doain ya semoga bisa, paling suka jalan2 pagi ke lorong dan gang trus belanja di pasar tradisional terutama jajanan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo kak pink, ke semarang hehe.

      Hapus
  19. Bentar-bentar, kayaknya dalam waktu kurang dari 2 bulan ada yang posting tentang pecinan Semarang, tapi aku lupa ahhahahahha. Enak blusukan ya :-D

    BalasHapus
  20. halo mas jo, salam kenal.

    tulisannya lengkap banget :D

    2 minggu lalu aku juga ikut walking tour ke pecinan. setelah sekian lama di semarang, baru itu mblusuk2 ke sana. ternyata banyak banget hal menarik yang aku baru tau soal kawasan pecinan semarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo salam kenal juga :D
      Hahaha sama pun, aku juga baru sekali itu blusukan ke pecinan. Biasanya cuma lewat gang pinggir ato semawis doang hehe

      Hapus
  21. wahhh cerita yang menarik
    saya blm pernah blusukan ke semarang euy..
    biasanya cuma numpang lewat kalo mo pulang kampung ke pati
    hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oiya mbak endah kampungnya di pati og ya. Kapan2 singgah sebentar mbak di semarang hehe

      Hapus
  22. Asyik yaa bisa walking tour gini, apalagi kalau yang dijelajahi warisan budaya kayak pecinan. Kayaknya bisa nih cobain walking tour di kota sendiri dulu :D

    BalasHapus
  23. ini walking tournya diadain sendiri atau ikut2 apa gitu kalau nanti sha ke semarang?

    pecinan kayaknya di setiap kota selalu ada ya.. itu tokonya autentik banget, jendela sekaligus buat meja. udah jarang banget liat toko kaya gini. berasa balik ke jaman apaa gitu

    BalasHapus
  24. Ada jadwalnya mbak, bisa dilihat di IG @bersukariawalk. Setiap minggu kadang ada.

    Betul hampir disetiap kota ada, tapi cenderung tidak terlalu luas.

    BalasHapus
  25. Melihat foto klenteng2 itu, aku jadi berkelana ke masa lalu. Ingat dulu (jaman masih kuliah), kantor tempat aku ngajar melewati klenteng. Biasanya kita ramai2 kesana, jadi nggak hafal jalan terbantu sekali.

    Aroma dupa menyeruak begitu memasuki gangnya. Ah, aku sudah lupa di jalan apa. Tapi aku senang bisa mengahdirkan serpihan kenangannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe terimakasih berkenang singgah,

      Hapus
  26. Komplit banget Mas Jo. Terima kasih bisa numpang belajar budaya pecinan di sini. Baru gang Lombok dan gang Baru yg sy susur. Apalagi kosakata Sebandaran yg syahbandar duh menariknya Semarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak prih, pecinan emang kaya akan budaya tionghoanya yg masih kental

      Hapus
  27. Pertengahan Agustus berencana "get lost" ke Semarang dan akhirnya ke blog ini. Banyak dapat rekomendasi nih. Senengnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ditunggu kedatangannya di kota lunpia :D

      Hapus
  28. pintu gerbangnya mirip di pecinan surabaya mmas di kya kya ...

    BalasHapus
  29. hampir setiap kota punya pecinan ... sayang rata2 sudah "berubah" oleh arus modernisasi, sayang ya .. padahal bangunan2 kuno dan nilai historisnya sangat menarik.
    Mudah2-an walking tour seperti ini menjadi "pengerem" perubahan2 yang tidak perlu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sebagian besar memang berubah menjadi kawasan perdagangan. Pecinan sudah tidak identik lagi dg pemukiman tionghoa

      Hapus
  30. Kelentengnya banyak ya, termasuk yang di Semawis sudah kucek list lagi untuk dikunjungi saat ke Semarang lagi. Karena yang lalu gak keburu waktunya.

    BalasHapus
  31. Apik mas. Aku selalu suka sama pecinan, nuansa lawasnya itu menyenangkan :))
    Bau dupa-dupa dari kelenteng juga bkin adem

    BalasHapus
  32. lihat gambarmu aja udah eyegasm buat dikelilingin wisata di semarang. sayang waktu itu aku gak dapet kesempatan famtrip ke sana.

    BalasHapus
  33. kerennn... seru banget keknya jalan2 begini..... sering denger cerita ttg kota semarang dan ini itunya tapi blm kesampek an ke situ... kapan2 coba ahh. aamiin

    BalasHapus