Semarang dari Kampung ke Kampung

Semarang dari Kampung ke Kampung
Semarang kini berkembang semakin modern dan tentunya semakin menarik banyak peminat untuk datang ke kota ini. Hal tersebut dikarenakan berbagai faktor. Selain perannya sebagai ibu kota dan pusat pemerintahan Jawa Tengah, Semarang juga didukung dengan wilayahnya yang strategis sebagai kota pelabuhan yang mengalirkan arus perdagangan.
Baca juga: Menyusuri Jejak Oei Tiong Ham, Sang Raja Gula
Perekonomian pun tumbuh seiring dengan arus perdagangan yang terus bertambah. Berbagai gedung bertingkat terus dibangun di setiap sudut  Kota Lunpia ini, demi mendukung kegiatan perekonomian. Entah itu perkantoran, pertokoan, hotel maupun pusat-pusat perbelanjaan semakin menjamur pada dewasa ini.

Namun pernahkah anda perhatikan, di sela-sela gedung-gedung tersebut hampir selalu terdapat gapura atau gang kecil yang seakan terjepit di antara hutan beton?

*****

Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan kembali untuk mengikuti walking tour yang diadakan oleh Bersukaria. Walking tour kali ini bertajuk Kampung Kota, diawali dari salah satu sudut di Jalan Pemuda yang dulunya bernama Bodjongweg. Kami tetap bersemangat mengikuti walking tour pagi itu, meski hanya terkumpul lima orang peserta. Termasuk di antaranya seorang WN Jepang yang telah lama menetap di Indonesia.
Masjid Sekayu
Masjid Sekayu.
Dari depan Paragon Mall, kami memasuki jalan kecil yang tepat berada di samping salah satu mall terbesar di Semarang itu. Sambil tetap waspada terhadap kendaraan yang lewat, kami mulai mendengarkan penjelasan dari Mas Dimas, guide kami pagi itu.

“Jadi, kali ini kita akan memasuki Kampung Sekayu. Kampung ini merupakan salah satu kampung tertua di Kota Semarang. Mungkin ada yang pernah denger?” Jelas Mas Dimas.
Soko Guru Masjid Sekayu
Soko guru yang menjadi ciri khas arsitektur Jawa.
Pemberhentian pertama kami adalah sebuah masjid yang berada di tengah-tengah perkampungan yang padat. Sekilas memang tak ada yang istimewa dari masjid ini, seperti bangunan-bangunan masjid modern pada umumnya yang berlantaikan keramik. Namun siapa sangka masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di Semarang, yang juga masih memiliki keterkaitan dengan pembangunan Masjid Agung Demak.

“Masjid At Taqwa atau sering disebut dengan Masjid Sekayu ini, konon dibangun tujuh tahun sebelum berdirinya Masjid Agung Demak,”
Telepon Umum
Siapa yang mempunyai kenangan dengan benda ini?
Meski sudah mengalami banyak perubahan karena direnovasi, di beberapa bagian bangunan masjid ini masih tetap dipertahankan keasliannya. Seperti 4 pilar utama atau soko guru yang merupakan ciri khas arsitektur Jawa. Kemudian atapnya berbentuk  limasan bertumpang, yang juga merupakan alkulturasi dari arsitektur Hindu-Islam. Berbeda dengan masjid-masjid di era modern sekarang yang cenderung mengarah ke gaya Timur Tengah, yaitu berbentuk kubah.

Nama Sekayu sendiri dikarenakan  sekitar masjid ini dulunya adalah lokasi penimbunan kayu yang  juga dijadikan bahan baku pembangunan Masjid Agung Demak. Kayu tersebut didatangkan oleh seorang ulama asal Cirebon bernama Kyai Kamal yang juga pendiri Masjid Sekayu, dari hutan-hutan di sektitar Surakarta dan Ungaran melalui perjalanan darat. Dari Sekayu, kayu-kayu tersebut lantas dikirim ke Demak  melalui Kali Semarang yang berada tak jauh dari masjid.
Rumah Khas Sekayu
Salah satu rumah tradisional di Sekayu.
“Seiring perkembangan waktu, di sekitar masjid berkembang menjadi pemukiman yang sekarang dinamakan Kampung Sekayu ini,” Lanjut Mas Dimas.

Namun sejarah Sekayu tak berhenti sampai disitu saja. Sekayu tercatat pernah menjadi pusat pemerintahan (nDalem Kanjengan) dari Semarang yang pada masa itu masih berbentuk Kadipaten. Sebelum akhirnya pindah ke Kanjengan, depan alun-alun Masjid Besar Kauman. Pada masa itu pusat pemerintahan memang memungkinkan untuk berpindah-pindah, mengikuti tempat asal sang pemimpinnya.
Rumah Khas Sekayu
Jendela di samping rumah.
Beranjak dari Masjid Sekayu, kami melanjutkan langkah. Menelusuri gang-gang sempit berkelok-kelok bagai labirin yang lebarnya hanya sekitar 1,5 hingga 2 meter. Itupun kami harus sesekali mengalah pada sepeda motor yang kebetulan melintas. Gang-gang tersebut bermuara pada jalan-jalan besar seperti Jalan Pemuda. Terjepit di antara bangunan beringkat semacam pertokoan atau perkantoran, membuatnya luput dari perhatian siapa pun yang lewat.
Baca juga: Romantisme Kota Lama dalam Hitam Putih
Saya cukup takjub melihat keberadaan rumah-rumah tradisional Jawa yang masih tegak berdiri di Sekayu ini. Rumah-rumah beratap limas atau joglo masih banyak ditemui disini, meski jumlahnya sudah kalah dengan rumah modern. Ciri khas lain yang dapat dilihat adalah bahan dasar kayu sebagai dindingnya. Juga lubang angin berbentuk cakra di atas pintu yang sangat khas.

Menurut Mas Dimas, pembangunan mall Paragon pada tahun 2008 sendiri turut andil dalam berkurangnya jumlah rumah khas Sekayu tersebut. Tercatat satu wilayah Rukun Tetangga (RT) yang meliputi 20an rumah lenyap, karena tergusur untuk pembangunan mall tersebut.
Rumah NH Dini
Rumah yang dulunya dihuni NH Dini.
Kami sempat berhenti sejenak di depan pagar sebuah rumah yang dulunya pernah dihuni oleh NH Dini, novelis yang juga dikenal sebagai seorang feminis yang sangat vokal. Rumah dengan pekarangan yang cukup luas tersebut juga menjadi saksi bisu salah satu karyanya. Yang bisa saya ingat dari nama NH Dini hanya penggalan dari novel Pada Sebuah Kapal (1972) yang sering saya baca di buku pelajaran ketika SD dulu.

Matahari yang semakin terik tak sedikitpun menyurutkan langkah kami. Dari Kampung Sekayu, kami beralih menuju daerah Pekunden. Dimana terdapat sebuah kompleks rumah susun yang merupakan rusun pertama yang ada di Semarang. Dibangun sekitar tahun 1980an, rusun ini seakan menjawab kebutuhan hunian yang semakin mendesak seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk Kota Semarang.
Rumah Susun Pekunden
Rumah susun Pekunden.

*****

Berada di tengah-tengah kawasan Segitiga Emas yang merupakan pusat ekonomi dan bisnis Kota Semarang, membuat Kampung Sekayu dan beberapa kampung lainnya bernilai inventasi yang cukup tinggi. Bisa dilihat dari harga tanah disini bisa mencapai 30an juta per meternya. Hal ini pula yang mengancam keberadaan kampung-kampung tradisional tersebut.
Rumah Sekayu
Rumah dengan atap yang unik.
Sangkar Burung
Sangkar burung di pinggir gang.
Ketika kekuatan modal berbicara, sejarah hanyalah titik kecil yang akan tergilas kepentingan yang mengatasnamakan investasi. Satu demi satu, kampung-kampung tersebut perlahan akan tergusur oleh pembangunan yang memang sulit untuk diajak berpihak pada sejarah. Kampung asli yang seharusnya menjadi tetenger atau penanda kota pun pada akhirnya hanya tinggal nama saja.

*****

Dari kawasan Pekunden, kami terus melanjutkan perjalanan. Melewati beberapa kampung lainnya, seperti Batan Miroto, lalu menyeberang Jalan MH Thamrin. Kemudian masuk daerah Seteran, hingga tembus ke Jalan Gajahmada.
Kali Semarang
Kali Semarang, yang sejak dulu memiliki peranan penting dalam perkembangan Kota Semarang.
Jalan Gajahmada ini pula merupakan salah satu kawasan dengan nilai potensi cukup tinggi di bidang properti, karena wilayahnya yang strategis. Beberapa kampung akhirnya juga tak luput terkena imbas perkembangan properti di wilayah ini. Sebut saja Kampung Jayenggaten yang kini sudah berdiri sebuah hotel yang menjulang tinggi. Lalu sebagian Kampung Petempen pun sudah beralih fungsi menjadi mall dan hotel mewah.
Baca juga: Sepucuk Cinta dari Sudut Gang Sosrokusuman
Kami diajak Mas Dimas berbelok masuk ke jalan kecil yang berada di tepi Kali Semarang, yang juga menjadi jalan masuk ke sebuah hotel dan mall mewah. Berjarak tak kurang dari 100 meter setelahnya, kami seakan memasuki dunia berbeda, dimana sebuah perkampungan dan segala hiruk pikuknya berada. Jalanan yang becek, ayam peliharaan yang berkeliaran kesana kemari, dan juga anak-anak kecil sibuk bermain di jalan yang juga menjadi halaman rumahnya.
Rumah Jengki
Rumah jengki.
“Oke, kita hampir sampai di highlight utama walking tour kita pagi ini. Ada yang bisa menebak, yang mana?”

Ketika berbelok dari sebuah gang sempit, saya sedikit terkejut melihat sebuah bangunan yang ada di depan mata saya. Sebuah Landhuis yang berada di Kampung Kelengan ini, seakan menembus lorong waktu, yang masih selamat dari perkembangan zaman. Menurut penjelasan Mas Dimas, rumah yang tak berpenghuni tersebut dulunya milik seorang tuan tanah bernama Tuan Klein.
Landhuis Tuan Klein
Landhuis di Kelengan Besar.
Kotak Surat Kelengan Besar
Kotak surat.
Sebuah kolam kecil yang ada di depannya seolah menegaskan strata sosial dari keluarga yang menghuni rumah tersebut. Hal ini bisa dilihat dari luas tanah yang dulunya dimiliki Tuan Klein ini, meliputi hampir seluruh kawasan yang kini disebut dengan Kampung Kelengan ini, dan dibatasi oleh sebuah gapura di ujung gang yang bermuara di Jalan Depok. Nama Kelengan sendiri pun rupanya serapan dari nama Klein.

*****

Membela keberadaan kampung-kampung tradisional seperti Sekayu, ibarat merenda romantisme masa lalu yang mengawang di ruang kosong, lalu dalam sekejap hilang tertiup angin. Sama halnya dengan tragisnya Jayenggaten yang hanya tinggal nama, atau Petempen yang hanya tersisa secuil. Toh kebanyakan orang akan tetap dibuat takjub melihat kegagahan Mall Paragon, betapa tingginya bangunan raksasa Hotel Gumaya, atau mewahnya MG Setos yang berada tak jauh dari situ. 
Gapura Kampung Kelengan
Gapura Kampung Kelengan di Jalan Depok.
Landhuis Tuan Klein
Mari Bersukaria!

Share this:

Johanes Anggoro

Ceyron Louis

Yang ingin terus berjalan lebih jauh lagi. Berjalan untuk menapaki kisah, bukan meninggalkan. Terimakasih telah kembali, untuk menilik apa yang mungkin pernah terselip, disini. Di sore ini.

70 Komentar:

  1. Rumah yg terakhir artistik banget ya, itu design Belanda ato mana mas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang punya tuan tanah aaal inggris namanya tuan Klein

      Hapus
  2. bersukaria itu komunitas walking tour di semarang mas? sepertinya rutin sekali ngadain acara macam ini kalau liat post-post'anya mas jo

    sayang sekali memang ketika sebuah tempat yang memiliki "cerita" harus tergusur dengan bangunan-bangunan baru seperti mall, hotel, dkk. semoga kompleks sekayu masih bisa bertahan dan tidak berkurang hanya demi memenuhi kepentingan pihak2 tertentu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas yuk kapan2 ke semarang ikutan walking tour hehe

      Banyak tempat juga gitu sih mas gak hanya semarang

      Hapus
  3. Hihihi aku gagal fokus liat telepon umum. Asli jd kaya wisata sejarah perkembangan indonesia yak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu di dalam kampung loh telpon umumnya, da gak cuma satu :3

      Hapus
  4. Bodjongweg mirip di Bandung (sunda), di Bandung masih banyak yg nama daerahnya bernama depan Bojong. Bojong Loa, Bojong Kaler, Bojong Koneng. Artinya pinggir sungai atau tempat yg di ujungnya ada air sungai/danau.

    Kalau bahasa jawa mah bojong artinya kampung ya? Nebak sendiri ini saya ��

    Udah saya tandain Bersukaria nih. Kalo ke Semarang mau ikutan acaranya heheheh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oiya di bandung banyak yg namanya bojong ya. Kalo artinya kurang lebih sama sih mbak.

      Hehe ayo ke semarang ikutan bersukaria

      Hapus
  5. Wah, masih ada rumah-rumah Jawa di tengah Semarang.

    Well, next nek ke Semarang kudu mrene. Tapi jelajah Kota Lama sik ya mas Ang, hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih mas, yg model klasik ada juga tp ga kefoto hehe

      Hapus
  6. itu masih ada telepon umum sih,hee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah ga berfungsi tapi mbak. Dan uniknya itu di dalam kampung tsb ada bbrp telepon umum

      Hapus
  7. Saya memiliki kenangan dengan kota Semarang. Hampir lima tahun ngekost di daerah Singosari. Teman-teman disana selalu bilang sudah banyak yang berubah. Memang, meski jejak2nya masih tersimpan dalam ingatan.
    Makasih telah berbagi cerita tentang Semarang. Pengen nostalgia disana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo ke semarang mbak, sekalian nostalgia hehe

      Hapus
  8. Mas Jo ga pernah absen ikut walking tour eh (:
    Sepertinya mana-manapun sama, akan semakin dijajah oleh hutan beton.
    Suka pas kutipan bagian ini:

    "Ketika kekuatan modal berbicara, sejarah hanyalah titik kecil yang akan tergilas kepentingan yang mengatasnamakan investasi."

    Semoga tulisan ini akan menjadi pengingingat sejarah mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe tapi ya akan seperti itu mbak, jaman sudah berubah. Mau ga mau perkampunga tsb ya akan tergeser.

      Hapus
  9. wah dulu pengiriman kayunya lewat sungai ya. sungai yang membentang di tepi jalan semarang-demak itu kah mas?

    aku juga suka main ke semarang meskipun panas hahaha. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas, jalan itu sbenarnya juga asalnya sungai atau selat yg memisahkan pulau jawa dg gunung muria jepara dsb

      Hapus
  10. Kampung ini mirip kampung2 di solo, belakang masjid agung solo, rumah2 jaman dulu dan juga dan khas tp sudah di kepung bangunan2 modern
    Ada juga di jogja daerah kota gede, kalau disana masih banyak bangunan aslinya
    Tp khas bgt ini pake kayu ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heem mas gak cuma semaeqng sih, realitanya di banyak tempat masalahnya memang sama.

      Hapus
  11. nasib bangunan-bangunan lama yang penuh akan sejarah mas...tidak hanya di semarang saja, Solo, Yogya semua sama saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heem mas. Miris gak sih nantinya yg lahir dan besar disitu ga punya kampung halaman lagi :3

      Hapus
  12. Waktu aku free walking tour ke Kuala Lumpur tahun lalu. Aku pas ke Kota Lama itu takjub banget. Dan nyesel gak spend waktu lebih lama di sana. Hiks, kudu balik lagi ya ke Semarang.

    Omnduut.com

    BalasHapus
  13. Keren kali city tournya. Mengenal lebih dekat sejarah kota yang kian modern menghilangkan nilai2 sejarah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, sekalian kembali menjadi pejalan kaki :D

      Hapus
  14. Mas kalau ada acara seperti ini mbok aku dikabari toh :-(
    Ben iso dolan neng Semarang hahahahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pemberitahuannya di IG mas, sekarang malah hampir tiap minggi ada.

      Hapus
  15. Semoga bisa nyobain walking tournya juga pas nanti ke Semarang.

    BalasHapus
  16. Akhirnya perkenalan sama bersukariawalk sudah berjalan sampai sini ya :))

    Semarang siang itu sangat cerah ya? Foto pertamanya itu yaampun cantik banget, walaupun entah itu sebenarnya mau moto apa aku nggak paham wkwk.

    Aku perhatikan kali semarang yang mas johanes foto ini, mirip kayak satu ddret deh sama parkiran motor kalau berkunjung ke Lawang Sewu. Bener? Soalnya waktu aku ke sana, parkir di pinggiran kali gitu sampai aku milih yang sebdlah kiri. Karena yang kanan udah mepet banget sama kalinya. Wkwk.

    Btw, banyak kata kata di tulisan ini yang, hmm ngena 😂😂😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Foto prtama itu perhatikan atap rumahnya. Jarang2 liat model begitu apalagi letaknya ditengah kota.

      Betul, itu kali semarang yg masih satu aliran. Hulunya kap diurutkan sampe sam poo kong :)

      Hapus
    2. Ah ya i see

      Sam po kong? itu di atas (bukit) ya? nggakmudeng deh area area semarang ini. Wkwk.
      Terima kasih infonya btw :3

      Hapus
  17. Luar biasa tulisannya!
    dari kampung ke kampung punya cerita yang unik seperti ini.
    Berapa lama nyusurin kampung ke kampungnya mas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini walking tour selama 2 jam kok mbak. Jadi ita diajak blusukan kampung2 gitu yang ada ditengah kota hehe.

      Hapus
  18. dulu pas muter kampung sekayu ada yang jual wedang tahu. berhenti dulu buat beli wedang :D
    Aku suka dengan atap model limas. tiap rumah bisa punya samapi 4 atap limas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di kampung batan ada lagi rumah yg unik mas. Dr kayu dan ukurannya kecil :D
      Tapi ga sempet aku foto hehe

      Hapus
  19. Jo, kok isih penasaran ama isi dari rumah Landhuis e kae ya. Bisa masuk nggak sih? Dan rumahnya N.H. Dini, itu rumah masih dihuni beliau atau kosongan? Denger-denger kan N.H. Dini sudah tinggap di panti jompo. Trus kapan dirimu selo? Anterin ke sana donk. Hahahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayane sih iso mas. Jajal takon mas yogi kayae pernah sih.

      Setauku yg nempatin masih sodaranya NH Dini.

      Kuylah. Masih pengen blusukan maneh. Masih ada rumah2 kayu yg keren

      Hapus
  20. banyak sudut yang bsia diceritakan ya mas... dan tiap langkah pasti ada hikmah... tp pada akhirnya tradisional akan pudar mas yah lama"...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya namanya juga jaman yg semakin modern mas angki. Perlahan mau tidak mau yg tradisional bakal tergusur.

      Hapus
  21. keliling kampung ini memang enak, selalu ada hal baru yang bisa kita jumpai.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya koh, banyak yg bisa digali dari suatu tempat terutama kampung. Meski bukan tujuan wisata :)

      Hapus
  22. Waaha... telpon umumnya masih ada yah....

    BalasHapus
  23. Blusukan nan kereenn Mas Yo. Begitu baca kampung Sekayu teringat ibu NH Dini dan karya2 beliau.
    Ciri khas perkampungan ini jadi inspirasi wisata tiada habisnya yaak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heem mbak, sebenarnya kampung tersebut juga adalah identitas kota

      Hapus
  24. masih bersisa, kalau udah main di kampung, pasti erat kaitannya dengan wisata sejarah masa lalu.

    Seperti yang terakhir tuh, Rumah ala-ala belanda/inggris kan ya mas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu inggris mas, sekarang terkepung perumahan modern

      Hapus
  25. Wow keren ... ditengah massive-nya pembangunan masih tersisa rumah2 tradisional dan landhuis ... aset penting yang harus segera dilestarikan, sayang sekali kalau sampai hilang tak berbekas ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya beberapa tahun kedepan akan hilang juga jika dilihat dr kondisi saat ini

      Hapus
  26. Wah itu rumah susun nya ngeri amat ya Mas.. Tapi asyik juga ya berkeliling dari satu kampung ke kampung lainnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe iya mas, apalagi tersembunyi di balik gedung-gedung itu memang jaarang kita lihat

      Hapus
  27. Sisa-sisa sejarah yang masih tercecer.
    Berapa lamakah bisa bertahan dari gilasan jaman ini.
    Semoga masih bisa tetap bertahan ya mas, biar kota nggak kehilangan identitasnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. gak yakin sih mas, mengingat semakin kesini semakin terhimpit

      Hapus
  28. Tertegun.
    Makin kesini makin tinggi gedung" pencakar langit. Makin terhimpit rumah" yg ada di gang sempit. Untungnyaa masih tersisa kenangan sejarah masa lalu jd bsa diceritakan ke anak dan cucu nanti. Semogaaaaa bisa awet dan tidak tergantikan dengan gedung" lainnya yg gagah namun tampak tak berisi dibanding Kampung Sekayu ataupum Kelengan :") makasih sharingnyaaa mas. Lama ndak sowan kesini. .

    BalasHapus
    Balasan
    1. heem mbak, nanti ga punya kampung lagi dong mereka, kalo mudik mau kemana :(

      Hapus
  29. Bersukaria walking tour ini seperti laku lampah kalau di solo. Rasanya laju tumbuh bangunan2 tinggi seperti itu memang merata ke hampir semua wilayah. Solo pun sama, sukoharjo juga sudah mulai. Dan selalu ada plus minus dari sebuah pertumbuhan tempat

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya sih mbak, perkembangan jaman memang tidak dapat dihindari. tapi cerita semacam ini menurutku layak dipertahankan.

      ayo kapan-kapan iku t walking tour ini kalo ke semarang hehe

      Hapus
  30. Patut untuk dipertahankan dan dikelola dengan baik tuh ...

    BalasHapus
  31. Eh mas jo kalo puasaan gini walking tournya masi jalan ga ?

    Ngomong² aku sedih juga sih rumah² yg di belakang paragon itu kena gusur, harusnya dijaga gt toh pusat belanja² sudah cukup di simpang lima aja
    -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih mbak lid, tapi rutenya yg pendek2. Dan diadakan menjelang sore, biar sekalian ngabuburit hehe

      Hapus
  32. Wahhhh perjalanan nya lengkap bangett, gak ada yang terlewat satupun, salut bangettt masih bisa ingatt ya mas... kerennn, terkadang ak biasanya merekamnya dengan vidio, tapi dengan foto saja mas bisa membayangkannya yaaa, keren... Inspirasi banget nih, apa sih tipsnya ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak ada tips khusus sih, selsin menyimak dengan baik apa yg disampaikan mas guide. Lalu sbg referensi tambahan, browsing2 lagi untuk melengkapi cerita :D

      Hapus
  33. rumah-rumahnya masih ada yang pake model lawas yah. itu kotak surat sama telepon umum apa masih dipake sampai sekarang mas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Telpon umumnya sudah tidak berfungsi mas. Nah yg unik adalah di kampung tersebut juga ada beberapa telpon umum serupa dan beberapa wartel

      Hapus
  34. wah mas masih ada rumah model jaman dulu ya mas .... taunya saya di semarang ya cuma lawang sewu ... insyallah musti nyoba lagi nih ke semaran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo bang, kabar-kabar kalo mampir ke semarang. Boar bisa mitup

      Hapus
  35. aduh belum puas blusukan ke semarangnya
    kan eksotik rumah2 tuanya
    tapi aku pengen liat2 sisa2 geger pacinan
    semoga bisa ke semarang lagi

    BalasHapus
  36. Masih ada telepon umum yaq. Kontras banget gedung tinggi sama rumah jaman dulu.

    BalasHapus