Candi Belahan, Petirtaan Raja di Lereng Penanggungan

Air adalah peyangga hidup utama bagi makhluk hidup. Bagi manusia sendiri, air memiliki gerak kehidupan. Bumi ini menyediakan air melalui sumber mata air yang kemudian mengalir membentuk sungai-sungai bagai urat nadi manusia. Di sepanjang aliran sungai itulah terjadi gerak kehidupan, gerak peradaban.
Candi Belahan
Candi di balik pagar.
Peradaban besar di berbagai belahan bumi dibangun di tepian aliran sungai-sungai besar. Demikian pula di nusantara ini, sungai dan sumber air telah mewariskan peradaban yang panjang. Warisan peradaban masa lampau berupa situs dan benda bersejarah yang berhubungan dengan pemanfaatan dan pemaknaan air membuktikan hal ini.

*****

Suara gemericik air dari balik pagar seakan mengundang siapapun untuk mendekat. Plang putih yang berukuran cukup besar bertuliskan Candi Belahan berada tepat di atas pagar, membuat siapapun yang melintas di jalan tersebut bisa membacanya. Plang tersebut pula yang akhirnya bisa meyakinkan saya, bahwa kami telah sampai di tempat yang benar meski sebelumnya sempat tersesat.
Candi Belahan
Silakan mengisi buku tamu dan rupiah seikhlasnya.
Setelah memarkirkan kendaraan di tempat yang telah disediakan, saya dan seorang kawan melangkahkan kaki masuk ke area candi. Namun tepat di sebelah pintu gerbang, sebuah bilik kecil yang tak berpenghuni menahan langkah kami. Sekedar mengisi buku tamu dan memasukkan beberapa lembar rupiah lusuh ke dalam sebuah kotak sederhana dari kardus bekas yang disediakan. Meski tak ada tanda-tanda kehidupan, irama lagu campursarinan mengalun dari sebuah radio tua yang berada di dalam bilik tersebut.

Suara gemericik air yang kami dengar dari luar pagar tadi, ternyata berasal dari pancuran air yang jatuh ke dalam kolam persegi empat berukuran sekitar 5x5 meter. Kolam? Bukankah tadi plangnya tertulis candi? Memang benar. Meski bernama candi bukan berarti anda akan menemukan sebuah struktur bangunan candi pada umumnya disini. Entah itu terbuat dari batuan andesit, ataupun dari batu bata merah yang banyak ditemukan pada candi-candi di daerah Jawa Timur, khususnya yang berada di Trowulan.
Arca Dewi Sri dan Dewi Laksmi
Arca Dewi Sri dan Dewi Laksmi.
Candi Belahan atau lebih dikenal dengan nama Petirtaan Sumber Tetek, terletak di sisi timur lereng gunung Penanggungan. Tepatnya di Dusun Belahan Jowo, Desa Wonosonyo, Gempol, Pasuruan. Adalah sebuah pemandian atau petirtaan peninggalan Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan yang diperkirakan dibangun pada abad ke 11. Dari beberapa sumber sejarah menyebutkan bahwa petirtaan ini selain merupakan tempat untuk bertapa sang raja, juga difungsikan sebagai pemandian para selir Airlangga.
Arca Dewi Laksmi
Arca Dewi Laksmi yang mengucurkan air.
Angin berhembus pelan di sela-sela pepohonan yang menaungi pelataran candi siang itu. Menambah teduhnya hari setelah menembus padat dan panasnya jalan raya Surabaya-Malang. Untuk menuju candi Belahan ini, mudah saja sebenarnya. Jika memasuki kawasan yang bernama Apollo dari arah Surabaya, pelankan laju kendaraan anda. Lalu carilah rambu penunjuk jalan di dekat pom bensin. Jalan masuk menuju Candi Belahan ada di sisi pom bensin tersebut. Tinggal ikuti jalan tadi, atau kalau kurang yakin bertanyalah pada warga setempat.

*****

Irama lagu dangdut mengalun dari sebuah warung yang terletak di salah satu sudut area candi Belahan. Diiringi oleh gelak tawa beberapa orang yang membahana di udara. Sementara itu di kolam, keceriaan anak-anak yang asyik bermain air menambah semarak suasana di sekitar petirtaan tersebut. Pengunjung pun datang silih berganti, kebanyakan memang membawa serta anak-anak mereka. Lengkap dengan kotak bekal makan siang dan baju ganti.
Arca Dewi Laksmi
Anak-anak yang bermain dengan riangnya.
Saya dan kawan saya hanya bisa duduk-duduk di pondokan atau gazebo kecil, itupun harus berdesak-desakan dengan pengunjung lainnya. Sebuah poster kusam dan sedikit robek menerangkan tentang penjelasan singkat tentang pemandian ini. Seperti lokasi, mitos dan sejarah singkat diulas disana.

Keberadaan dua buah arca dari batuan andesit yang berdiri tegak di sisi kolam menarik perhatian saya. Menurut informasi yang tertera, keduanya adalah arca Dewi Sri dan Dewi Laksmi. Masing-masing merupakan lambang kesuburan dan kemakmuran. Nah yang agak unik disini adalah, dari payudara arca Dewi Laksmi mengucurkan air yang tertampung ke kolam yang sama. Oleh karena itu, masyarakat setempat juga mengenal petirtaan ini dengan sebutan candi Sumber Tetek (Tetek: Payudara, Jawa). Sayangnya tak ada informasi lebih lanjut apakah dulunya hal yang sama juga pernah terjadi pada arca lainnya atau tidak.
Candi Belahan
Kolam Candi atau Petirtaan Belahan.
Arca-arca tersebut menempel pada dinding yang tersusun dari batu bata. Sementara itu, pada sisi kirinya juga terdapat dinding batu bata, yang melekat pada lereng bukit. Pada dinding tersebut terdapat pipa-pipa yang mengalirkan air ke dalam kolam. Konon air disini tak pernah berhenti mengalir, meski musim kemarau sekalipun.

Berada di ketinggian 700 mdpl di sisi timur lereng gunung Penanggungan, membuat sumber air disini memang cukup melimpah. Mungkin hal inilah yang membuat Petirtaan Belahan ini sengaja dibangun di bawah kaki bukit yang terdapat sumber air. Warga desa sekitar juga turut memanfaatkan air yang mengalir dari pipa-pipa tersebut, untuk keperluan rumah tangga sehari-hari mereka.
Arca Dewi Sri
Arca Dewi Sri.
Selain anak-anak, beberapa pengunjung dewasa pun tak mau kalah untuk terjun ke kolam. Untuk sekedar cuci muka ataupun membasahi kaki-kaki mereka. Ada pula yang membawa serta botol-botol air mineral yang sudah kosong, untuk diisi dengan air dari pancuran langsung. Hal itu tak lepas dari mitos yang berkembang di masyarakat sekitar, bahwa air yang mengucur dari arca tersebut diyakini bisa membuat awet muda.

Dulunya di petirtaan Belahan ini sebenarnya juga terdapat arca Wisnu yang sedang menunggang garuda. Sebagian ahli sejarah mengatakan bahwa arca tersebut sebagai perwujudan dari Raja Airlangga yang semasa hidupnya memang setia menganut Dewa Wisnu. Namun karena berbagai alasan, kini arca Wisnu tersebut disimpan di Museum Purbakala Trowulan, Mojokerto.
Arca Candi Belahan
Sebongkar arca dan batu tegak atau Menhir.
Di pelataran petirtaan ini, terdapat pula sebongkah arca yang nampak sudah pecah atau retak dengan ukiran relief yang cukup unik. Arca tersebut berdekatan dengan sebuah batu tegak atau menhir setinggi sekitar 80 centimeter. Sisa-sisa lidi hio terlihat menancap di dekat batu tegak tersebut. Situs purbakala peninggalan leluhur seperti ini memang biasanya tidak pernah luput dari para pencari berkah dengan melakukan ritual tertentu.

*****

Di berbagai daerah lain di Nusantara ini, sebenarnya banyak situ-situs purbakala yang serupa dengan Candi atau Petirtaan Belahan ini. Hal ini membuktikan bahwa sejak dari jaman leluhur kita dulu, air memiliki arti penting dalam sejarah peradaban manusia. Karena air adalah sumber kehidupan. Bukan cuma manusia, tetapi seluruh makhluk hidup yang ada di muka bumi. Jadi sudah sepatutnya kita sebagai warga bumi turut menjaga ketersediaan dan kelestarian sumber daya air.
Candi Belahan
Mari bermain air.

Candi Belahan
Dilarang memakai sabun atau shampo.

Share this:

Johanes Anggoro

Ceyron Louis

Yang ingin terus berjalan lebih jauh lagi. Berjalan untuk menapaki kisah, bukan meninggalkan. Terimakasih telah kembali, untuk menilik apa yang mungkin pernah terselip, disini. Di sore ini.

88 Komentar:

  1. Itu yg paling menarik bwt anak2 kecil mandi disitu yg patung keluar airnya dr **** he he he

    Keren e..jarang2 liat candi yg ada airnya gini,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya pemaknaan airnya ya juga dari itunya mas.

      Hapus
  2. Ngebayangin semegah apa tempat ini di jaman dulu ya mas :).. Kalo yg di jawa aku blm prnh dtg ke petirtaan begini.. Yg prnh didatangin yg di bali, tp lupa namanya.. Tempat pemandian juga.. Kapan2 kalo ke pasuruan mau deh mampir kesana :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya di bali pun ada yg serupa mbak. Memang air itu ditempatkan dalam posisi yg sakral dlm peradaban manusia

      Hapus
  3. itu arcanya asli bukan ya? atau tiruan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Konon sih masih asli mas. Kabarnya cuma diperbaiki biar airnya ga mengucur ke kakinya. Takutnya kan rusak kena air

      Hapus
  4. Wih seru sekali tuh anak-anak mandi di candi. saya selalu kagum dengan anak muda yang suka wisata sejarah ke candi-candi.
    Salam kenal Mas dari Malang :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo mas salam kenal juga :D
      Iya wisata sejarah gini ternyata asik kok mas, sambil belajar lagi hehe

      Hapus
  5. Aduh, sayangnya ini cagar budaya kan mas? Harusnya ada penanganan khusus bisa saja nanti arcanya rusak klo dinaiki penghujung, apalgi arcanya berada di dekat air tentu mudah rapuh. Hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayangnya belum tersentuh pemugaran mas. Padahal dinilai dr segi sejarahnya cukup penting dari masa raja airlangga.

      Hapus
  6. Yang ini saya baru denger .... memang bener banyak candi di negara kita yang belum bisa di explore.. jangan2 masih banyak candi juga yg bekum ditemukan... memang negri kita sebenarnya kaya..tapi sedikit yang menyadarinya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Masih banyak yg belum terekspos mas.

      Hapus
  7. ini candi terakhir yg belum saya kunjungi di Kabupaten Pasuruan
    aduh kapan bisa planning ke sini, masih hujan dan masih sibuk juga, hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyakah? Aku baru ini sih mas, soalnya kebetulan liat plangnya bahwa deket situ ada candi hehe sekalian mampir

      Hapus
  8. Kupunya materi banyak tentang petirtaan Sumber Tetek ini, pas ke sini kemarin soalnya bareng arkeolog, jadi dapat penjelasan banyak di luar wikipedia malah. Cuma, masih belum sempat nulis. Btw, kedua arca itu asli lho.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah kutunggu mas tom, aku cuma dpt referensi dr internet doang.
      Bener kan asli, aku sih duganya gitu

      Hapus
    2. Wah arca pancurannya asli to? Saya kira pake arca pengganti soalnya kalau pake yg asli sangat rawan rusak oleh tangan2 tak bertanggung jawab,

      Hapus
  9. Pas masuk tipi akeh sing di blur pas di arcane

    Btw, iki wis pernah dipugar belum sih mas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belom mas, masih berupa reruntuhan sih.
      Entah tembok kanannya dulu ada apa engga soale kan bangunan gini mesti menurut simetris.

      Hapus
  10. memang candi itu selalu punay cerita , selalu eksotis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe iya mbak, setiap camdo memiliki cerita masing2

      Hapus
  11. Aku pernah sempat lewat jalanan menuju sini cuma ga mampir. Sejarahnya seperti hampir tenggalam, dan jarang orang tau sama tempat ini.

    Dalam rangka apa mas Jo bisa sampai kesini ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cuma mampir sih mbak Lid, kebetulan liat plangnya dr jalan gede pas dari malang mau ke surabaya.

      Hapus
  12. lewat Apollo itu berarti nggak lewat Tol ya?
    sayangnya sejak dibangun Tol mobil-mobil kalau mau ke Malang atau Pasuruan langsung masuk Tol untuk mempersingkat waktu. jadi mungkin nggak banyak orang yang tau. termasuk aku hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak masuk tol mas, aku juga kan pakenya motor hehe.
      Iya sih skrg banyak yg lewat tol kalo mau ke malang ato ke surabaya.
      Jadi ga banyak yg tau

      Hapus
  13. Mandi dibawah kucuran air susu kayaknya seru juga tuh hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan air susu mas tp air asli dr gunung :D

      Hapus
  14. Pemandian seperti ini menjadi daya tarik warga setempat kala libur. Berbeda jika di sana hanya ada bangunan candi saja, tentu tidak banyak warga yang datang ke sana. Satu hal yang pasti harus dipikirkan, dengan melimpahnya air di sana, semoga pengunjung tidak mencemari dengan plastik dan lainnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, sementara ini masih bersih dan terjaga. Semoga seterusnyq jugq begitu

      Hapus
  15. Kerajaan yang terkenal dengan peninggalan bangunan seperti taman airnya itu Kahuripan apa Majapahit ya mas?? Saya lupa...serba salah jg ya misal dipugar nanti akan sedikit merubah bentuk asli kalo enggak lama kelamaan bakal rusak krna alam dan manusia itu sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Majapahit juga punya mas, keraton jogja juga, tamansari itu.

      Hapus
  16. Apakah ini ada hubungannya dengan Majapahit Mas? Kalau dilihat dari struktur bangunannya brupa ukiran batu bata yang menjadi ciri khas kerajaan Majapahit?

    BalasHapus
  17. hi mas! salam kenal. sempet liat di twitter, sorealiss, ku pikir penggemarnya band sore! ehehe

    candi kalau ada dekat-dekat air selalu dikaitkan dengan pemandian para selir ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai salam kenal juga mbak hehe
      Iya aku jg fansnya sore, tp bukan sore band, meski juga suka sih musiknya.
      Betul tapi dibaliknya memang tujuannya pemaknaan air itu sendiri sih

      Hapus
  18. Tulisanmu mengalir indah Mas.

    Lagi syahdu2nya baca tentang gemericik air, malah ada lagu dangdutnya di warung kopi. Buahaha.

    Kamu nampaknya harus ketemu Mas Gara mencari Jejak dot com. Kemarin beliau main ke Jogja, dan pola tripnya tergolong unik. Datang ke plaosan cuma nyari sawahnya. katanya sawah dekat plaosan itu masih banyak ada hubungannya dengan candi Plaosan. Datang ke Prambanan, cuma moto batu kecil. Biasanya kan kita nyari candi megahnya, nah dia malah nyari batu, yang biasa diinjak wisatawan. hehe.

    kayanya kamu harus main sama dia.

    Membaca ini, saya mendapat sedikit kesimpulan. Air menjadi penting yaa. Itulah kenapa, Candi prambanan masih sering digenangi air sampai sekarang. Bukan karena kebanjiran, tapi memang sengaja dikonsep demikian. .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah iya Mas Gara. Aku juga pengen ketemu dan belajar banyak sm dia hehe.
      Yes konsepnya memang demikian, untuk memaknai air sbg sumber kehidupan.

      Hapus
  19. saya kira itu masih di daerah jawa tengah, tapi pas liat fotonya kok warna candi nya merah?
    oh, ternyata di jawa timur to? hehe

    bener mas Jo, air sebagai sumber kehidupan harus terus dijaga kelestariannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe iya, jawa timur ini mas.
      Tapi entah bentuknya memang gini ato dulunya berbentuk candi pada umumnya jg kurang paham

      Hapus
  20. Aku malah belum pernah ke sini, hahaha. Pengennya kalau ke sini sekalian naik Penanggungan dari jalur ini *kalaubisa *Belajarnavigasidulu :D

    BalasHapus
  21. Arcanya apakah lumutan mas kalau di sekeliling air gitu? Lembab...
    Aku jadi penasaran sama temenmu di cerita ini. Siapakah diaaa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha huss ga usah penasaran.
      Kalo lumutan itu pasti, tp yg paling rawan adl kucuran airnya yg katanya dulu kena kaki arcanya. Nah lalu sempat diperbaiki katanya. Biar ga cpt rusak

      Hapus
  22. Lagi lagi nyeritain candi-candi begini, hasil darintersesat-tersesat pula. Kan jadi penasaraan, sama penasaran juga bagaimana rasanya benar benar berjalan :')

    Ini unik sekali, dan aku membacanya sampai kebawa-bawa πŸ˜‚ waktu pelajaran sejarah. Coba dulu pelajaran sejarah itu begini materinya. Kalau A. Candi ... Berdiri tahun.... Kan ngantuk πŸ˜‚

    Aku juga penasaran kayak Mbak Dwi di komennya, teman yang ke sini, siapakah diaa. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha belajar sejarah skrg malah seru ga se boring dulu di kelas wkwkwk.
      Gak usah penasaran, toh udh tau. Ini masih lanjutan dr candi pari kemaren

      Hapus
    2. Masih kelanjutannya? Hmm waw anaystrip 😳😳

      Btw ada yang typo di caption yang Dewi Laksmi.

      Hapus
  23. petirtaan yang selalu dibasahi air ini tak berdampak pada kesehatan arcakah?
    unik ada pemandian seperti ini
    baru tau lho ada candi Belah, tfs

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa jadi mbak, sepertinya kalo dr deket juga sudah mulai keropos.

      Hapus
  24. Wahh baru tahu saya ada candi belahan di pasuruan
    *langsung masuk list pribadi candi wajib dikunjungi di Indonesia*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sedikit yg tau mbak hehr soalnya letaknya yg jarang dilirik orang

      Hapus
  25. baru tau nih candi, rada-rada gimana gitu ngedenger namanya. Sama nih dengan Candi Sukuh yang ada di Solo, ada unsur p****grafinya juga :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenernya itu bukan pornografi ah menurutku, itu simbol kehidupan juga sih :)

      Hapus
  26. Setuju Mas, kalau air dari "kedua" sumber itu memang sumber kehidupan, wkkwkwkw

    BalasHapus
  27. Keren banget tempat ini!
    Sayangnya pengelolaannya masih kurang baik ya, padahal arca-arca ini rawan rusak

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe iya mbak, masih belum dikelola dengan maksimal. soalnya juga pengunjungnya cuma mau ciblon di kolamnya bukan belajar sejarah hehehe

      Hapus
  28. Petirtaan Belahan salah satu materi menarik dari buku sejarah Jawa Timur. Bersyukur dapat postingan komplit disini. Petirtaan menempatkan air sbg elemen kunci kehidupan. TFS ya Mas.

    BalasHapus
  29. Akuu belum pernah kesini tp sering banget baca ttg candi belahan 😁 makasih sharingnya mas. Ndak ikut main air juga disitu mas? Kok ndak ada foto masnya. . Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe iya kali ini ga ada fotoku yg nampangπŸ˜–

      Hapus
  30. Keren dan unik tempatnya mas.
    Tapi paling keren namanya sih. :D

    BalasHapus
  31. Aku pas liat gambare yang keluar air dari **** agak kaget mas. Hahaha.. Ternyata itu pemaknaan air to..
    Jaman kecil emang paling demen main air, cilik'anku dolanane nng kalen mas,, pulang-pulang diomyang. wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe podo mas. Biyen jan koyone bahagia bgt dolanan drun ono gadget ki wkwj

      Hapus
  32. dari namanya aja udah belahan, pas liat-liat fotonya arcanya wuuusss. haha

    BalasHapus
  33. wah baru denger nama candi ini nih.
    arcanya unik sekali!
    semoga melalui tulisan masnya, jadi banyak orang yang tahu mengenai keberadaan candi ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha amin mbak :)
      Semoga diperhatikan pupa sm lembaga terkait biar terjaga dg baik

      Hapus
  34. wakakak... gak berkata apa2 lagi deh, itu patung.. patung nya keluar air ><

    BalasHapus
  35. pantes namanya sumber tetek ya.. heheheh...

    BalasHapus
  36. walaaaah aku ngeliatnya udah geli2 sendiri Jo.. tetek gitu lhooo.. alias nenen :))

    BalasHapus
  37. semoga alam disekitar candi tetap lestari. sehingga air yang mengalirpun masih tetap sumber air alami ya mas :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak semoga terus seperti itu. Seperti nama mbak :3

      Hapus
  38. sejak SMP sampe tahun kemarin saya benci sejarah, karena mbingungi.
    sekarang jadi tergila-gila sama sejarah, karena ternyata lebih seru daripada jalan-jalan ke pantai cuma biar gak mumet ndase hahaha

    keren mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha sama mas. entah kenpa dulu pelajaran sejarah ini bikin ngantuk. tapi sekarang malah bikin tergila-gila, ngulik2 yang entah tujuannya buat sendiri itu apa

      Hapus
  39. Wah mandi dibawah patung itu sepertinya segar ya Mas.. Patung nya sangat unik sekali..

    BalasHapus
  40. Yang pada bawa botol kosong untuk dibawa pulang airnya kok ya apa nggak rugi ya? Maksudnya mberat beratin wae lah. Bawa airnya, kan mendingan mandi nyemplung disitu #hemattenaga kan katanya bisa bikin awet muda. Kali bawa kan dikit dapatnya tuh, kalo mandi kelelep full kan minumnya?#hahahaha Oia, salam kenal ya mas, ijin follow

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha ya ga gitu juga kali, nanti itu diminum di rumah. Salam kenal juga :D

      Hapus
  41. candi yang ngga lazim ... ternyata dulu untuk mandi selir selir .. sekarang sudah ngga ada lagi ya selir2 yang mandi disana ... hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahahaha jaman sekarang kalo punya selir mah disembunyiin :3

      Hapus
  42. Fix, aku jadi makin penasaran sama candi-candi di Jawa Timur.

    BalasHapus
  43. Cuma sempet lihat Penanggungannya aja dari kejauhan pas trekking ke Arjuno beberapa waktu yang lalu...
    Jatim emang eksotis..

    BalasHapus
  44. Sangat unik candinya.
    Cuma kalau dilihat kurang perawatannya,ya.
    Pada masanya dulu,komplek candi ini pasti sangat eksotis ..

    BalasHapus