Grojogan Klenthing Kuning, Pesona Air Terjun di Balik Sebuah Legenda

Grojogan Klenthing Kuning
Ada berbagai macam alasan ketika seseorang memutuskan untuk mengunjungi suatu tempat wisata yang sudah pernah didatangi sebelumnya. Entah kedua kalinya, ketiga dan seterusnya. Salah satunya adalah mungkin saja pada kunjungan sebelumnya terasa sangat berkesan, sehingga ingin mencoba mengunjunginya kembali di lain waktu.

Namun pagi itu, tak ada alasan khusus ketika saya bersama seorang kawan berkunjung ke Grojogan Klenthing Kuning untuk kedua kalinya. Tak terasa empat tahun sudah berlalu sejak pertama kali kami dan beberapa teman lainnya datang ke air terjun yang berada di Desa Kemawi, Sumowono, Kabupaten Semarang ini, untuk sekedar menghabiskan hari libur.

Suara dedaunan yang saling bergesekan ketika diterpa angin menemani langkah kami, ketika menyusuri jalan setapak yang membelah rimbunnya pepohonan dari area parkir kendaraan menuju air terjun. Hanya beberapa puluh meter setelahnya, suara deburan air sayup-sayup terdengar dari bawah jurang di kiri kami. Terlihat sebuah grojogan kecil yang letaknya agak tersembunyi di balik rerimbunan semak belukar. Namun bukan itu yang kami tuju.
Grojogan Klenthing Kuning
Jalan masuk ke air terjun.
Grojogan Klenthing Kuning
Selanjutnya akan terlihat pemandangan seperti ini.
Tak lama berselang sebuah grojogan atau air terjun yang lebih besar daripada yang tadi, terlihat setelah langkah kami menyeberang sebuah jembatan kayu. Deburan air yang debitnya cukup deras seakan memecah keheningan di antara pepohonan di sekelilingnya. Dan inilah Grojogan atau air terjun yang dinamakan Klenthing Kuning.

Hanya terlihat beberapa orang pengunjung yang tiba sebelum kami, mungkin karena masih terlalu pagi untuk berkunjung ke sebuah air terjun. Ada yang sudah menceburkan diri ke dalam dinginnya air kolam yang memang sengaja dibuat di bawah grojogan untuk bermain air ataupun berenang. Sedangkan yang lainnya hanya sibuk berfoto dengan latar air terjun setinggi sekitar 5 meter ini.
Grojogan Klenthing Kuning
Jalan setapak dimulai dari sini.
Penamaan air terjun Klenthing Kuning ini sendiri tak lepas dari legenda atau cerita rakyat yang berasal dari Jawa, yaitu Ande-ande Lumut. Saya sedikit terkejut ketika seorang penjaga loket karcis yang kami temui di area parkir tadi, menuturkan hal ini kepada kami. Bahkan, saya sendiripun sudah tak ingat lagi jika cerita tentang Ande-ande Lumut ini berasal dari Jawa! Ah sungguh memalukan!

****

Menurut legenda tersebut, konon di tempat inilah seorang putri bernama Dewi Galuh Condro Kirono bertapa sebelum bertemu dengan Ande-ande Lumut. Di air terjun ini sang putri kemudian mendapat wangsit dari sang penguasa gunung setempat untuk menyamar sebagai rakyat jelata dan mengganti namanya menjadi Klenthing Kuning. Selanjutnya Klenthing Kuning ditemukan dan diangkat sebagai anak bungsu oleh seorang janda yang sudah memiliki tiga orang putri.
Grojogan Klenthing Kuning
Jembatan kayu.
Ceritapun berlanjut ketika seorang pemuda bernama Ande-ande lumut yang ketampanannya tersohor ke berbagai penjuru, mengadakan sayembara untuk mencari sosok yang bisa dipinang sebagai istrinya. Kabar tersebut sampailah ke telinga seorang janda tadi yang mengangkat Klenthing Kuning sebagai anak bungsunya. Lalu mengutus keempat anaknya untuk mengikuti sayembara tersebut. Mereka masing-masing bernama Klenthing Abang, Klenthing Ijo, Klenthing Biru, dan Klenthing Kuning yang merupakan anak angkatnya.

Dalam perjalanannya, mereka berempat terhalang oleh sungai besar. Kemudian muncullah mahkluk bernama Yuyu Kangkang di tengah kebingungan mereka bagaimana cara untuk menyeberang sungai tersebut. Yuyu Kangkang menawarkan bantuan untuk mengantarkan mereka ke seberang sungai dengan satu syarat, yaitu bersedia untuk dicium oleh Yuyu Kangkang.
Grojogan Klenthing Kuning
Klenthing Kuning yang tak lagi kuning.
Tanpa pikir panjang, mereka setuju dengan bujuk rayu Yuyu Kangkang tersebut, kecuali satu orang yaitu Klenthing Kuning. Yuyu Kangkang pun sebenarnya tidak mau menyeberangkan atau mencium Klenthing Kuning, karena tubuhnya yang berbau kurang sedap. Usut punya usut, sang ibu ternyata mendandaninya dengan kotoran hewan karena merasa takut ketiga anak kandungnya tersaingi oleh kecantikan Klenthing Kuning.

Alhasil terjadilah perkelahian antara mereka berdua, karena Yuyu Kangkang tetap menolak untuk menyeberangkan Klenthing Kuning. Merasa tak mampu menghadapi kehebatan Klenthing Kuning, Yuyu Kangkang pun memilih untuk melarikan diri dengan menyelam ke dalam sungai. Klenthing kuning tak tinggal diam begitu saja, lalu  mengeluarkan pusaka andalannya.
Grojogan Klenthing Biru
Klenthing Biru.
Pusakanya tersebut dipukulkan ke permukaan sungai, seketika itu juga air sungai meluap dan menjadi panas. Yuyu Kangkang yang tak kuat menahan panas, akhirnya menyerah dan bersedia mengantarkan Klenthing Kuning ke seberang sungai.
Grojogan Klenthing Kuning
Grojogan kecil.
Klenthing Ijo
Klenthing Ijo, perlu perjuangan menembus semak belukar untuk kesini.
Singkat cerita, akhirnya Ande-ande Lumut memilih Klenthing Kuning untuk dipinang sebagai istrinya, meski penampilannya kurang menarik dan tubuhnya berbau kurang sedap. Sementara ketiga kakak angkat Klenthing Kuning, ditolaknya mentah-mentah karena mengetahui bahwa ketiganya sudah dijamah oleh Yuyu Kangkang.

Jati diri keduanya pun akhirnya terungkap. Ande-ande Lumut sebenarnya bernama asli Pangeran Panji Asmara Bangun, seorang putra dari Raja Kediri yang menyamar menjadi rakyat jelata dan mengembara karena perintah dari sang guru dalam usahanya mencari seorang istri. Sedangkan Klenthing Kuning juga merupakan seorang putri dari Kerajaan Jenggala yang bernama asli Dewi Galuh Condro Kirono. Yang menyamar sebagai rakyat jelata setelah bertapa di sebuah air terjun, yang kini dikenal masyarakat sebagai Grojogan Klenthing Kuning itu.

****

Dibanding empat tahun silam, Grojogan Klenthing Kuning sebagai lokasi wisata sudah banyak berbenah demi menyambut para wisatawan. Misal akses dari jalan raya yang sudah jauh lebih baik daripada pertama kali saya berkunjung ke air terjun ini. Beberapa pondokan sederhana bisa digunakan pengunjung untuk beristirahat. Serta penambahan area bermain anak, demi kenyamanan pengunjung yang membawa serta anak-anaknya.
Grojogan Klenthing Kuning
Hutan pinus.
Grojogan Klenthing Kuning
Pondokan sederhana.
Sebenarnya di area ini terdapat beberapa grojogan lainnya yang berukuran lebih kecil. Penamaannya pun masih menyesuaikan legenda Ande-ande Lumut tadi. Seperti misalnya Klenthing Biru, terletak tak jauh dari Klenthing Kuning yang merupakan air terjun utama dari lokasi wisata ini. Lalu ada Klenthing Hijau berada di bawah jurang tadi, tersembunyi di balik semak belukar. Karena letaknya yang agak sulit, sehingga masih luput dari perhatian pengunjung. Sedangkan Klenthing Abang sendiri, belum bisa dijangkau sama sekali.

Selain dari legenda tadi, penamaan Klenthing Kuning juga tak lepas dari tebing air terjunnya yang berwarna kuning keemasan. Asumsi saya, warna kuning tersebut berasal dari endapan mineral-mineral yang terkandung di dalam air yang bersumber dari gunung Ungaran. Namun kondisi tersebut sudah jauh berbeda dengan empat tahun silam. Warna kuning dari tebing tersebut perlahan berganti dengan hijaunya lumut yang tumbuh subur.

Berbagai jenis tanaman ditata sedemikian rupa di sekitar air terjun, hingga menyerupai sebuah taman yang asri. Apalagi pohon-pohon pinus yang tinggi menjulang di atas bukit, menambah kesan alami dari lokasi wisata air terjun Klenthing Kuning ini. Beberapa lahan yang cukup lapang juga telah dibuka, yang bisa dimanfaatkan para pengunjung untuk berkemah.
Grojogan Klenthing Kuning
Area bermain anak.
Grojogan Klenthing Kuning
Tanaman berwarna-warni.
Legenda atau mitos dari suatu tempat wisata menjadi daya tarik tersendiri bagi siapapun untuk datang mengunjunginya. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa masyarakat Indonesia telah hidup dengan banyak cerita legenda yang dituturkan dari mulut ke mulut sejak dahulu. Cerita-cerita yang sarat akan makna filosofis mengenai kehidupan adat istiadat maupun keagamaan tersebut, telah menjadi ciri khas dari suatu daerah di Nusantara ini.




Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Legenda pariwisata Jawa Tengah 2017 yang diselengarakan oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah.

Share this:

Johanes Anggoro

Ceyron Louis

Yang ingin terus berjalan lebih jauh lagi. Berjalan untuk menapaki kisah, bukan meninggalkan. Terimakasih telah kembali, untuk menilik apa yang mungkin pernah terselip, disini. Di sore ini.

63 Komentar:

  1. Cerita ruang sore selalu enak untuk dibaca 😁 mengalir dan membuat pembaca seakan" sedang berada di latar cerita. 😊👍

    Sejuk bangeeet liat yg ijo" mas, sambil menikmati hembusan angin segar dan gemericik air terjun yg ada. Pas banget buat tempat refreshing dan metime iniii. . Sekaligus intropeksi 😁 Tfs yaaak. Kereeeen ulasannya 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahaha makasih mbak lucky. Iya seger banget apalagi pas masih pagi2 dijamin betah

      Hapus
  2. Pernah dengar sih cerita Ande-ande Lumut waktu masih kecil. Dulu ada buku yang khusus menceritakan legenda. Sayang sekarang buku tersebut sepertinya lenyap.

    Setiap tempat mempunyai cerita mitos, dan cerita itu terus terjaga secara temurun dari lisan ke lisan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak2 jaman sekarang pada tau gak ya cerita legenda2 itu hehehe

      Hapus
  3. wahh area wisatanya sudah lengkap mas .. enak untuk ngadem ... apa lagi tempat yang satu ini ada cerita legendanya wuihhh pasti tambah asyik mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nyebur mas hehe tapi airnya pasti dingin asli dr gunung ungaran

      Hapus
  4. Duluu pas kecil sering diceritain tentang klenthing kuning, juga beberapa kali dipentaskan dalam drama pertunjukan 17n agustus.hehe.

    Mas, jadi itu tiap air terjun punya nama klenthing kuning, biru, abang yang belum terjangkau. Apik yaaa :) apalagi ditambah keberadaan taman dan bunga terompetnya semoga terjaga selaluu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbam dwi ada beberapa curug. Kok ya pas dengan legenda itu hehe

      Hapus
  5. Aiih mas, bagus bgt pemandangan sekitarnya yaaa... Jarang aku ngeliat sungai sejernih itu :). Grojogannya juga cantik.. Pgn ih kesana kalo nanti ke semarang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha silakan mampir mbak, jalannya juga ga jauh dari tempat parkir, jadi enak ga kayak curug lawe benowo itu

      Hapus
  6. jadi ingat lagu jawa tentang si ande2 lumut : )

    BalasHapus
  7. Noted, referensi buat nulis dgn gaya yg bisa membawa para pembaca merasakan suasana di cerita :)

    Iya kayaknya mas, warna kuningnya itu mungkin dari mineral airnya. Biasanya ada kandungan belerangnya. Tapi ini airnya dingin ding ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe makasih mas.
      Iya airnya dingin kok, entah memang ada kandungan mineral tertentu apa ya airnya jd tebingnya bisa menguning gitu

      Hapus
  8. Hmm, mendadak sejuk ketika siang bolong begini "mampir" ke Grojogan Klenthing Kuning*halah.

    Ku suka sudut mengambil fotonya, dan suka foto pertamanya :)

    Jadi suatu hal yang sangat menarik ya ketika kita berkunjung ke suatu tempat dan tau detail ceritanya. Wisata dapet, pelajaran dapet,satu lagi, keramahan seperti bapak parkir yang diceritakan.

    Btw bunga di dekat pondok itu namanya bunga apa? Aku suka, dulu lihat waktu ke Dieng.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bunga terompet sih kalo ga salah. Banyak lho di sekitar air terjun itu.
      Dijamin seger deh aplagi kalo masih pagi2 gitu, kuseneng sih ke air terjun pas masih pagi.
      Btw yg petugas parkir masih mas mas :D

      Hapus
    2. Iyaa bunga terompet. Di desaku nggak ada soalnya hehe dan biasa ada di pegunungan kan?

      Iyaa sih, apalagi kalau masih ada kabut, beruntung. Di daerahku sendiri, banyak sih air terjun. Tapi untuk ke sana agak jauh jadi kalau misal mau pagi pagi kayak Mas Anggoro gitu belum bisa :))



      Hapus
    3. Yaaaaah :(
      Ku pengen pas pagi2 gmn dong

      Hapus
    4. Ya berarti harus pagi buta berangkatnya, karena butuh waktu sekitar 2 jam gitu deh kurang lebih. Dan denger denger ada yang punya cerita semacam ini juga. Aku belum pernah sih ke sana wkwk

      Hapus
  9. Sayang sekali kurang terawat ya mas. padahal dulu pertama launching bersih dan tertata. Terakhir kesana Agustus kemarin po kalau nggak salah, udah beda..
    Ohh ya di parkiran ada stiker eksapedia lihat nggak mas. wkwkwkwkwk #promoted_Mode_On

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wiiih eksapedia sudah eksis ternyata wkwkwk.
      Pan kapan kopdaran yuk mas, pdhl deket kita hahaha

      Hapus
    2. Okee sipp mas :D
      ajakin juga sibloggerkendal. Hehehe

      Hapus
  10. Waaaah keren juga nih brooo, ajakin dong ehehehe salam kenal ya btw

    www.irhamfaridh.com

    BalasHapus
  11. Putraku si andhe2 lumut. Tumuruno ono putri kang ngunggah unggahi...
    Aku dadi pengen nyanyi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha aku malah wes lali lagune mbak :D

      Hapus
  12. Wuih Air Terjun nya banyak juga ya. Pasti selalu ada legenda nya dibalik semua itu ya Mas .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas, cerita legenda2 itu harus dilestarikan sih

      Hapus
  13. aku baru tau kalo Klenthing Kuning itu anak angkat. kirain semuanya anak kandung haha
    asoy banget itu mandi di situ. jelas adyem.

    semoga berangkat ke Karimun, mas :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe amin ah :D

      Yup seger airnya mas gallant

      Hapus
  14. sangat menarik sekali ceritanya..grojokannya berundak undak ya mas..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Walopun ga terlalu besar sih, tp lumayan bagus

      Hapus
  15. air terjunnya saja sudah mempesona ditambah lagi ada embel2 legenda Klenting Kuning

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe iya mbak monda, sayang masih belum banyak yg tau :D

      Hapus
  16. Di Indonesia memang banyak dia tempat-tempat dinamai berdasarkan cerita legenda. Selain Grojogan klenting kuning ini, ada juga kan air terjun cobanrondo di Malang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oiya betul, coban rondo malah lebih besar dr klenthig kuning hehe

      Hapus
  17. Aku pernah liat kisah ini di ketoprak humor sama di si kancil (acara jaman masih anak-anak) hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha masih inget aja nih mbaknya. Anak2 jaman sekarang ada yg tau ga ya cerita ande2 lumut :D

      Hapus
  18. Jadi ingat jaman SD pernah main drama jadi Klenthing Kuning, btw tempatnya masih alami dan kayaknya belum rame banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kok banyak ya yang pernah main drama ande2 lumut :D
      Mungkin kisah ini paling terkenal kala itu kah mbah hehehe

      Betul mbak prim. Masih alami dan masih minim fasilitas.

      Hapus
  19. Seger dan masih alami ya mas tempatnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Uda, masih alami. Semoga ga dirusak sm orang2 gk bertanggung jawab

      Hapus
  20. Pas lihat foto air terjun yang lapisan bebatuannya berwarna kecoklatan langsung nangkap kalo itu ada kandungan belerang atau sejenisnya. Brarti bener akibat aliran mineral dan sumber belerang dari Gunung Ungaran?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beberapa tahun yg lalu malah lebih kuning kecoklatan lagi mas, skrg malah udh ketutupan lumut.
      Ya asumsiku memang begitu, tp kalo ada kandungan belerangnya, kok disekitar situ ga ada sumber air panas ya.

      Hapus
  21. Semarang punya air terjun jg ternyata, ya. Kirain cuma pantai saja :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini di kabupaten semarang gan, beda sama kota semarang yg terletak di bibir pantai :))

      Hapus
  22. sukses terus ya mas... semoga juara ruang sore....

    BalasHapus
  23. Suasananya kayak di grojogan Sewu kulonprogo mas...masih dibiarkan alami gt jd nambah betah ngadem disana...tambah betah lagi sama ngajak...ehem..ehem...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe itu diatasnya ada hutan pinus mas, biasanya banyak yg mojok disana :D

      Hapus
  24. Rasa-rasanya aku baru tahu ada Air Terjun ini di Semarang, jadi pengen nyoba kesana, tapi ini kok sepi ya mas Jo ? apa memang jarang orang kesini ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Lid, karena masih pagi juga sih. Jd b bayak pengunjung. Lokasinya di kabupaten semarang masih berdekatan dg candi gedong songo :)

      Hapus
  25. Waah...bookmark ah, buat dongeng anak sebelum tidur ntar...hihihih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh istrimu sudah brp bulan mas? Kpn lahiran kih

      Hapus
  26. air terjunnya keren dan jernih ... asyik tuh untuk cebur2-an.
    saya juga pernah dengar cerita ande ande lumut ... wah ternyata cerita jawa toh .. hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seger juga airnya mas kan langsung dr mata air pegunungan. Hehe iya, akupun awalnya juga lupa cerita ande2 lumut berasal dr jawa :D

      Hapus
  27. Air terjunnya cantik
    Pemandangan di sekitarnya juga bikin seger.
    Bagus banget nih tempatnya.

    BalasHapus
  28. Halo Mas Johan, saya udah 2x ke Semarang tapi baru denger nama air terjun Klenthing Kuning hari ini ��

    Liat fotonya dan tau sejarahnya bikin air terjun ini jadi lebih menarik buat saya.

    Saya jadi penasaran sama bentuk air terjun Klenthing Abang ��

    Terima kasih sudah sharing mas, makin keren tulisannya!

    BalasHapus
  29. Hai mbak liana, salam kenal juga.

    Air terjun ini letaknya di kabupaten semarang mbak, tepatnya di sumowono. Kalo pernah denger air terjun 7bidadari, nah letqknya ga jauh dari situ.

    BalasHapus
  30. untuk jalan" leha" kayaknya enak yah mas.. gak tinggi tapi tamnnya keliatan asri...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, ga seberapa tinggi tapi asyik kok

      Hapus