Romantisme Kota Lama dalam Hitam Putih


kota lama semarang
Kota Lama merupakan sebuah potongan sejarah panjang dari ibukota Jawa Tengah, yaitu Kota Semarang. Kota Lama dan Semarang adalah dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan begitu saja. Pada dasarnya, Kota Lama atau yang sering disebut dengan Outstadt atau Little Netherland ini, adalah sebuah kawasan yang mencakup keberadaan bangunan atau gedung yang dibangun sejak jaman pemerintah kolonial Belanda.

Secara umum karakter bangunan di wilayah ini mengikuti bangunan-bangunan di Eropa sekitar tahun 1700-an. Hal ini bisa dilihat dengan mudah dari detail bangunan yang khas serta ornamen-ornamen yang identik dengan gaya Eropa. Misalnya bentuk jendela dan pintu yang tinggi dan lebar, penggunaan kaca berwarna-warni, hingga bentuk atapnya yang unik.
polder tawang
Polder Tawang di pagi hari.
Di suatu Minggu pagi yang mendung, saya mencoba menyusuri jalanan di kawasan Kota Lama Semarang. Untuk melihat lebih jelas dan lebih dekat bangunan-bangunan yang akan membawa saya seakan  menelusuri lorong waktu itu. Kali ini dengan bersepeda saja, mengingat jaraknya yang lumayan dekat dari kost-an. Anggap saja sebagai olahraga di Minggu pagi, yang sesungguhnya jarang saya lakukan. Hehehe

Penelusuran saya dimulai dari sebuah kolam retensi yang dikenal dengan nama Polder Tawang. Karena letaknya yang berada persis di seberang Stasiun Semarang Tawang (SMT). Sesekali, alunan nada instrumental dari lagu Gambang Semarang terdengar dari area stasiun. Sebagai penanda, bahwa kereta api akan segera tiba di stasiun tersebut.

Stasiun Semarang Tawang merupakan salah satu stasiun tertua di Indonesia. Dibangun untuk menggantikan Stasiun Tambaksari, yang sudah tidak memenuhi syarat lagi seiring dengan bertambahnya volume pengangkutan barang maupun manusia. Bangunan stasiun yang memiliki langgam arsitektur indis ini, juga menjadi salah satu landmark  di kawasan Kota Lama maupun kota Semarang itu sendiri.
stasiun semarang tawang
Stasiun, menanti kedatangan atau melepas kepergian?
Entah kenapa, bagi saya berada di sebuah stasiun selalu menciptakan emosi tersendiri. Beberapa kali berpergian menggunakan kereta api, selalu membuat saya melankolis ketika menunggu kedatangan sebuah rangkaian ular besi yang akan membawa saya ke kota tujuan. Stasiun adalah tentang analogi kehidupan manusia. Tentang penantian dan harapan. Tentang pertemuan dan kepergian.

Baiklah, saya rasa cukup. Sepertinya saya memang terlalu banyak menonton serial drama!
polder tawang
Refleksi.
Sementara itu, Polder Tawang sebenarnya memang bukanlah bangunan peninggalan kolonial. Melainkan dibangun oleh pemerintah daerah sekitar tahun 2000-an. Sebagai salah satu upaya untuk melindungi kawasan Kota Lama dari ancaman banjir dan pasang air laut atau rob, mengingat jaraknya yang cukup dekat dengan laut. Dulunya, kolam ini merupakan lapangan  yang sering digunakan  sebagai tempat upacara ataupun aktivitas olahraga lainnya pada jaman Belanda.

Masih di seputaran Polder Tawang, tepatnya di salah satu ujung Jl. Merak yang membentang di sisi selatan polder. Terdapat sebuah bangunan yang sepintas terlihat berbeda dari deretan bangunan-bangunan lain di sekitarnya, yang kebanyakan terlihat tidak terawat. Cat yang sudah terkelupas ataupun tembok yang mulai ditumbuhi lumut disana-sini, adalah pemandangan yang biasa ditemui di kawasan Kota Lama.
pabrik rokok praoe lajar
Melintasi garis waktu.
Bangunan tersebut terlihat mencolok dengan aksen warna merahnya. Plang bertuliskan "Pabrik Rokok Praoe Lajar" berukuran cukup besar yang juga berwarna merah, membuat setiap orang yang melintas di Jl. Merak dengan mudah mengenali bangunan tersebut. Sebelum beralih fungsi menjadi pabrik rokok seperti sekarang ini, dulunya merupakan sebuah kantor dari Maintz & Co. Sebuah perusahaan energi swasta yang pertama mengembangkan jaringan listrik pada jaman Belanda.

Beranjak dari kawasan polder, saya mulai mengayuh kembali pedal sepeda. Menyusuri jalan yang seluruhnya terbuat dari paving block. Sesekali menghindari genangan air sisa hujan semalam yang tertampung di dalam sebuah cekungan di sisi jalan. Cekungan tersebut  biasanya ditinggalkan oleh jejak ban mobil yang sedang membawa muatan berlebih. Ditambah lagi dengan kondisi tanah di bawahnya yang memang tidak stabil, karena dulunya area ini merupakan rawa-rawa.
mural di kota lama
Mural yang banyak ditemui di sekitar Kota Lama.

***

Tak butuh waktu lama untuk sampai di Jl. Letjend Soeprapto, salah satu ruas jalan utama di kawasan Kota Lama Semarang. Jalan tersebut juga merupakan bagian dari Jalan Raya Pos Daendels, yang membentang sepanjang lebih dari 1000 km dari Anyer hingga Panarukan. Di sepanjang jalan tersebut pula berjejer bangunan-bangunan lama yang mengisyaratkan sebuah pusat kota di masa lampau.
gedung oudetrap
Gedung Oudetrap.
Taman Sri Gunting Kota Lama
Taman yang masih sepi.
Saya berhenti di depan sebuah taman yang terletak di salah satu sudut Jl. Letjend Soeprapto. Taman yang dikenal dengan nama Taman Srigunting ini, juga merupakan salah satu spot favorit bagi para wisatawan yang berkunjung ke Kota Lama Semarang. Pagi itu suasana taman masih cukup sepi. Biasanya akan ramai oleh para pengunjung seiring dengan hari yang beranjak siang.

Taman dengan luas sekitar 1500 meter persegi tersebut bersisian dengan Gereja Blenduk. Salah satu bangunan yang menjadi landmark utama di Kota Lama, selain Stasiun Tawang. Gereja dengan nama resmi GPIB Immanuel ini, memiliki ciri khas yaitu kubah besar yang dilapisi perunggu sebagai atapnya. Oleh masyarakat lokal Semarang mblenduk bisa diartikan sebagai kubah, maka dari itu bangunan gereja tersebut dikenal dengan nama Gereja Blenduk.
gereja blenduk
Gereja Blenduk. Masih digunakan untuk kebaktian hingga kini.
Seperti yang kita ketahui, Semarang merupakan wilayah yang strategis mengingat letaknya yang berada di pesisir utara Pulau Jawa. Pada jaman Belanda, Semarang telah berkembang pesat menjadi kota perdagangan dan juga kota pemerintahan. Maka dari itu tak heran jika banyak bertebaran bangunan-bangunan tua yang berciri khas Eropa. Salah satunya adalah sebuah kawasan yang kini kita kenal dengan nama Kota Lama ini.

Di kawasan Kota Lama inilah, kita bisa menyaksikan peninggalan pusat perdagangan dan pemerintahan Kota Semarang pada masa silam. Beberapa bangunan yang masih tegak berdiri, memang masih digunakan hingga kini. Misalnya seperti kantor pemerintahan, kantor perusahaan swasta, hotel atau restoran hingga pemukiman. Meskipun bangunan tersebut difungsikan, tak berarti bahwa bangunan tersebut dirawat dengan semestinya. Tak sedikit bangunan yang digunakan begitu saja, seakan tanpa belas kasihan.
sudut kota lama
Gedung yang menunggu waktu.
sudut kota lama
Salah satu spot favorit untuk berfoto.
Dari depan Gereja Blenduk, saya kembali mengayuh pedal sepeda. Kali ini saya mencoba menyusuri jalan-jalan kecil yang tak terlalu menarik perhatian wisatawan. Mungkin hanya masyarakat lokal Semarang saja yang sering berlalu-lalang di jalan tersebut. Banyak tembok bangunan yang sudah terkelupas ataupun hampir roboh, ditumbuhi berbagai tanaman liar, hingga lumut yang menempel disana-sini.

Merawat memang butuh energi. Juga biaya yang tak bisa dibilang murah.

***

Bicara tentang Kota lama tak selalu harus tentang bangunan kuno yang tak terawat. Sebagai kawasan yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya, upaya revitalisasi harus terus dilakukan meski sedikit demi sedikit. Salah satu bangunan yang berhasil direstorasi adalah Gedung Spiegel, yang terletak tak jauh dari Gereja Blenduk.
spiegel
Spiegel di hadapan seorang fotografer.
Gedung Spiegel didirikan pada tahun 1895. Pada masa pemerintahan kolonial gedung tersebut merupakan toko serba ada yang menjual berbagai peralatan rumah tangga, meubel dan lain sebagainya, sebelum akhirnya terbengkalai dan hampir rubuh. Namun lihatlah sekarang, Spiegel menjelma menjadi sebuah bar & bistro yang cukup megah di kawasan Kota Lama.

Sementara itu, tak jauh pula dari gedung Spiegel terdapat sebuah galeri seni yang cukup menarik perhatian wisatawan maupun pecinta seni. Gedung tersebut mempunyai sejarah yang cukup panjang. Dulunya merupakan tempat tinggal seorang pastur, dan sempat juga dijadikan rumah ibadah bagi umat Katolik sebelum Gereja Gedangan didirikan. Sebelum akhirnya dirubuhkan dan dibangun gedung yang baru pada tahun 1918.
semarang galerry
Pintu masuk galeri Semarang.
De Indische Lloyd, sebuah perusahaan asuransi pertama di Indonesia tercatat sebagai yang pertama menempati bangunan baru tersebut sebagai kantor. Pada era kemerdekaan, gedung tersebut sempat berganti-ganti kepemilikan dan berbagai macam kegunaan, seperti kantor, gudang, dealer motor hingga pabrik sirup. Pada tahun 2007 seorang kolektor seni bernama Chris Dharmawan, merestorasi bangunan tersebut menjadi Semarang Contemporary Art Gallery, sebuah galeri seni berskala internasional.

Beberapa waktu yang lalu saya juga sempat berkunjung ke galeri ini. Ketika digelar sebuah pameran tentang karya dan hidup seorang arsitek asal Belanda yang dikenal akan kecintaanya pada Indonesia, Ir. Herman Thomas Karsten. Salah satu karyanya yang ada di Semarang adalah gedung yang sekarang digunakan sebagai kantor perusahaan asuransi Jiwasraya, yang berada persis di depan Gereja Blenduk.
gedung jiwasraya
Entah bagaimana cara menyngkirkan kabel-kabel tersebut.
Gedung tersebut merupakan bekas kantor dari Nederlandsche Indische Levenverzekering en Lijvrente Maatschappij (NILLMIJ), sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang asuransi dan tabungan pensiun pada jaman Belanda. Sebuah kubah kecil di tengah atap bangunan menjadi ciri khas gedung yang berarsitektur kolonial tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah lift yang konon merupakan yang pertama digunakan di Indonesia.

Penelusuran saya berakhir di sebuah jembatan yang berada di sebelah barat kawasan Kota Lama. Jembatan yang dikenal dengan Jembatan Mberok ini menjadi salah satu pintu masuk menuju Kota Lama dari arah barat. Jembatan ini juga menjadi saksi bisu lalu lintas perdagangan yang ada di Kota Semarang sejak dulu.
jembatan mberok
Lengang di Jembatan Mberok.
Kota Lama seakan menjadi bukti nyata, bahwa teramat susahnya merawat dan memelihara. Upaya pelestarian yang terus dilakukan pun harus berkejaran dengan waktu, yang menjadi ancaman nyata bagi bangunan-bangunan tua tersebut. Pertanyaannya adalah sampai kapankah Kota Lama akan bertahan?
kota lama semarang
Butuh energi.
gedung marba
Gedung Marba dan Jalan Raya Pos Daendels.



Share this:

Johanes Anggoro

Ceyron Louis

Yang ingin terus berjalan lebih jauh lagi. Berjalan untuk menapaki kisah, bukan meninggalkan. Terimakasih telah kembali, untuk menilik apa yang mungkin pernah terselip, disini. Di sore ini.

64 Komentar:

  1. Sepedanya 😍
    Paginya 😍
    Bangunannya 😍
    Ceritanya 😍
    Aku pinjam sepedanya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk intinya cuma mau pinjem sepeda nih -_-

      Hapus
    2. Btw, tugu yang dekat orang moto spiegel itu tugu apa mas?

      Baru beberapa sih datang ke kota lama, kok rasanya sama ya, antara bangunan-bangunan tua yang masih terpakai, terenovasi, dan dibiarkan begitu saja. Apa itu udah nasib? Atau gimana?



      Hapus
  2. waahh aku langsung feeling nostalgic nih. jadi inget pas kemaren ikut acara dinas itu pagi-pagi banget jalan jalan di sekitar sini. mulai dari nyampek tawang jam 1.30 pagi, terus mulai nyusurin keluar jam 3 sampe akhirnya numpang sholat di masjid kauman.
    jadi kangen ke semarang lagi :3
    kemaren pas ke sini ngga sempet foto soalnya gerimis tipis. :(
    kalo ke semarang lagi boleh dong ditemenin belajar sejarah di kota lama. hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh, yuk kapan ke semarang lg mas gallant :D

      Hapus
  3. Masih terjaga kota tuanya. Andai kota tua Padang terawat. Pasti sangat menarik. (Curhat)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih dalam tahap mengupayakan supaya terjaga mas bayu, soalnya yg tidak terawat juga banyak

      Hapus
  4. Setiap kali melihat potongan gambar-gambar yang berbau klasik seperti ini, kadang dengan sendirinya saya bisa seperti merasakan atau melihat bagaimana kehidupan orang-orangnya dijaman itu dulu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama mas. Seperti terbawa mesin waktu hehehe

      Hapus
  5. Rangkuman yang menarik! Saya wajib mengontak Mas kalau sedang jalan ke Semarang, supaya bisa ditunjukkan bangunan-bangunan lama di kota ini, kemudian mengulik kisahnya satu per satu. Saya memandang Semarang lebih meriah dari Jakarta lantaran bangunan tua di sana relatif masih lebih baik daripada Jakarta. Paling tidak masih ada batas yang jelas antara daerah dengan banyak bangunan tua dan daerah pengembangan di sebelah selatan. Begitu masuk wilayah Kota Lama, bedanya kontras--perasaan itu yang tidak saya dapat di kota-kota lain, bahkan Bandung dan Jakarta sekalipun. Entah, semua kota kolonial memang punya ciri khas, kan?
    Saya baru tahu kalau Polder Tawang dibangun di masa belum lama ini, haha. Dan saya pernah dengar bahwa Taman Srigunting dulu adalah bekas makam, benarkah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas gara. Konon didekat setiap gereja dulu terdapat makam. Tp jauh sbkn gereja blenduk yg skrg msh berdiri itu. Gerejanya masih kecil katanya.

      Yg agak unik adalag kota lama dikelilingi kampung2 yg ditata oleh belanda. Misal pecinan, kauman untuk org2 muslim jawa, pekojan untuk pemukiman arab dst.

      Hapus
  6. cantik sekali kota tuanya.. masih terjaga dengan baik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sayangnya masih banyak yg tidak terawat

      Hapus
  7. aku baru kemarin rabu ke sini mas, nganter temen dari Medan. Ya memang, pesona peninggalan masa penjajahan masih menjadi daya tarik yang indah untuk ditelusuri di tiap lekuk lorong waktunya.

    Satu hal yang mengasyikkan lagi ya sudah tidak terlalu sering banjir, walaupun jadi ada daerah yang dikorbankan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe bner mas, sudah jarang banjir.

      Hapus
  8. Lokasi favorit saya di Semarang nih. Udah ngubek2 tempat ini berkali2 tetep nggak bosen. Pernah ikut ibadah minggu palma sekali di greja blenduk, jalan kaki jam 5 dari pengipanan sendirian. Menikmati kota lama yg baru bangun, syahdu banget. Kpn2 bikin ulasan ttg lorong yg sering buat adu ayam kayaknya seru Jo.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayangnya udah dipindah mbak tempat adu ayamnya :D

      Hapus
  9. mau ah ikutan nak sepeda nyusur menikmati gedung2 tua satu per satu..
    foto2 hitam putih ini makin menguatkan karakter bangunan tua, jadi semakin cantik..
    moga2 banyak lagi yang bisa direnov seperti Spiegel yang jadi maki gagah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di salah satu caffe, kalo gak salah juga menyewakan sepeda, mbak monda :)

      Hapus
  10. mengagumi Kota Lama ini harus bener2 pakai hati ya. meresapi setiap sudutnya agar bisa menuliskannya lbh indah. tulisan yang cakep Mas Jo.
    Saya selalu berkesan, manakala menikmati Kota Lama, khususnya heritage. Sayang, hanya sedikit peminatnya. Bangunan heritage masih menjadi bangunan latar berfoto. Saya berharap. di tempat2 seperti ini ada semacam pemandu. Yang bs bercerita banyak untuk mengedukasi generasi muda. Agar paham betapa banyak nilai historis yang ditanggalkan Belanda pada kita. Aku kemarin sempat ke Surabaya, d jalan jembatan merah, duhh. bangunan heritage masih eksis berdiri. Sayang, tak ada informasi yang bisa diakses, sayang jg, g ada orang lokal yang bisa menjelaskannya. Hanya meraba2 fungsi bangunannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas, selama ini ya cuma jadi background foto2 aja. Ga peduli bahwa bangunan tsb memiliki sejarah panjang. Kalo suka ngayal kayak aku, pasti menyusuri bangunan2 tua itu seakan memasuki lorong waktu.

      Hapus
  11. fotografi yang luar biasa...Keren gan. TOP dehh

    BalasHapus
  12. kereeeen , gak bsai bilang apa2 lagi, top

    BalasHapus
  13. Gambang semarang itu kayak apa? Aku taunya gambang suling �� asyik juga ya kalau ke kota lama naik sepeda. Dua kali ke sana cuma jalan kaki

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sesekali mampir di stasiun tawang mbak :D

      Hapus
  14. Ini nih tempat yang menjadi angan-angan dan cuma masuk list aja belum kelakon-kelakon dikunjungi :p
    Tapi setidaknya sudah ada gambaran guidenya harus siapa kalau ke sana :)
    jadiii jalan-jalannya sambil belajar sejarah lah ya.

    Ku suka itu pohon berakar di deket
    jendela dengan dinding bata tak lagi berselimut semen.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu ajak mbak rini sekalian, katanya pengen ke kota lama :p
      Itu mah spot sejuta umat, selain gereja blenduk :D

      Hapus
    2. Ya saya ^^
      Mari Mbak Dwi, bergegas ^^

      Hapus
  15. Baru sekali mengabadikan beberapa sudut di Kota Lama, nunggu waktu yang tepat ke sana lagi. Sepertinya memotret dengan sepeda bagus di sini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayok mas, kalo lg luang tak kancani wes :D

      Hapus
  16. sebenere itu kota lama bagus pol. tapi kok ya benci banget sm yg suka corat-coret disana. mental Indonesia apa gimana ya ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi gak semua coret-soret ga jelas kok :)

      Hapus
  17. saya juga sudah pernah nih kesini, waktu ke rumah sodar.. bersejarah banget tempatnya.. alhamdulillah saya sudah mengabadikan tiap sudut di kota lama ini..

    BalasHapus
  18. aku nek ning semarang mbok kancani ra,, hahahaaaa..

    BalasHapus
  19. wah Semarang heritage keren banget, foto hitam putihnya kerasa vintage banget. Semoga suatu hari bisa jalan-jalan kesana.

    ninggal jejak ya mas, salam kenal hehe http://vakansee.blogspot.com/

    BalasHapus
  20. fotonya kece-kece mas, serasi sama konten tulisannya

    suka sama quotenya ini : "Tentang penantian dan harapan. Tentang pertemuan dan kepergian."
    apik banget hehe

    BalasHapus
  21. Aku suka banget tempat ini. Beberapa kali ke sana dan ga bosen sampai sekarang. Fotonya bagus-bagus. Ngobrol-ngobrol kayaknya dirimu perlu paste artikelnya di notepad atau textedit (kalo pake mac) sebelum diposting. Trus hilangin format di wordnya. Supaya di home di bagian textnya ga ada kode yang nggak seharusnya keluar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih masukannya mba, itu sepertinya dari caption foto paling atas, tp emg ga aku isi hehehe.

      Hapus
  22. Waaaah banyak banget spot bangunan tua di Semarang *.*
    Btw, sampai sekarang masih gak kebayang jaman belanda bisa bangun jalan dari Anyer hingga Panarukan kayak gimana kondisinya jaman dulu ya. Sekarang aja bikin jalan berapa meter, selesainya bisa bertahun-tahu.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. banyak memakan korban pastinya kak, karena kerja paksa.

      Hapus
  23. selalu suka berkeliling kota lama. Bangunan2 disana mulai direnovasi dan fungsikan lagi. Semoga masih akan terus bertahan seiring bergantinya jaman :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mas, aku harap sih masih terus akan diperbaiki dan pastinya bertahan beberapa dekade ke depan

      Hapus
  24. Pernah 3 jam keliling Kota Lama sendiri, dr jam 7-10 pagi. Jd, pas lihat foto² ini jd senyum² sendiri sambil bayangin waktu itu. Dan, ceritamu, Jo, nambah wawasanku termasuk Poder Tawang yg ternyata bkn peninggalan kolonial. Padahal pas mancing bareng bapak² di polder, eh, aku dikasihtahunya dah sejak zaman Belanda. Hmm, kena kibul, deh.

    Kl ke Semarang lg meet up, yok!

    BalasHapus
    Balasan
    1. siap mas tom, kabar2 aja kalo ke semarang lagi

      Hapus
  25. bagus kak, jadi kangen dan pengen eksplore semarang.

    BalasHapus
  26. Jam berapa mas Jo eksplor Kota Lama? Pagi/siang/sore? Hehe

    Yang saya kagumi dari Belanda itu tata kota sama arsitektur bangunannya yang khas dan sebenarnya tahan lama kalau terawat baik.

    Btw asyik nih dibikin hitam putih hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kan itu ada tuisannya mas rifqy, sepedaan pagi hari -__-

      Hapus
  27. Mas Jo, kamu ini aslinya di SMG kah ? huhu aku ya punya bude di Semarang dan sering main kesana wkwk kapan2 bole meet up lah.

    Oh ya ini kota lama semarang emang epic banget, tp drdlu aku ga pernah kesampaian buat foto2.

    Oh ya kalo ga salah ini pas paginya dibuat pasar hewan unggas ya ?

    Dulu waktu SMA aku pernah motoran disini eh gegara ngegas terlalu ekstrim nabrak ayam 😂 dagangan orang.

    Aku juga suka sama bangunan gereja disini desain gedungnya bagus.

    -Lidia

    BalasHapus
    Balasan
    1. wahahaha, setau asku sih pasarnya sudah dipindah mbak lid, biar lebih teratur aja. iya mbak aku domisili semarang, kabar2 aja kalo mampir semarang lagi :D

      Hapus
  28. Bangunan tua selalu cantik-cantik. Saya suka sedih kalau lihat bangunan tua yang gak terawat. Karena selain bentuknya yang cantik, bangunan seperti itu banyak sejarahnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul sudah semestinya bangunan2 bersejarah tersebut mendaat perhatian lebih

      Hapus
  29. Aku malah lebih tertarik eksplor kota tua Semarang dibandingkan Jakarta, apalagi setelah melihat postingan ini, hehehe.. Ditambah lagi sambil sepedaan pagi2, pasti seru! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heheh iya mas gio, sambil seru2an bisa jelajah kota lama juga

      Hapus
  30. Ini sih tempat favorit berburu foto kalau lagi di Semarang :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo kapan ke semarang lagi mas fahmi :D

      Hapus
  31. boleh juga kapan2 nyoba gowes keliling semarang

    BalasHapus
  32. mung lewat tok aku nek ning semaang..hiks padahal pingin bgt singgah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk mas kesini, tak kancani wes :D

      Hapus
  33. Kota lama, bersama kenangan dan angan masa lalu. Potret keindahan dalam hitam putih nya kerasa banget, seperti terbawa pada sejarah kehidupan jaman dulu. jd baper, liat pohon beringin spot favorit foto itu jd ingat seseorang yg skrng udah pergi dan jauh. Fix kalau ke semarang tinggal kontak mas aja 😁😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha masa lalu bukan hanya ttg mantan aja sih eh :D
      Ayo kutemani kalo ke semarang.

      Hapus