Melihat Karimunjawa dari Sisi Lain


Sepeda motor yang kami tumpangi terus melaju di atas jalan aspal yang bisa dikatakan mulus ini. Berbeda sama sekali dengan apa yang dikatakan Mas-mas pemilik sepeda motor yang kami sewa tadi. Bahwa kondisi jalan penghubung antar desa di Karimun Jawa ini banyak yang rusak, sehingga untuk menuju Desa Kemujan diperlukan waktu sekitar satu jam. Sangat jauh dari bayangan kami, yang mengira hanya perlu 15-30 menit berkendara.
Tapi ternyata benar, setelah meninggalkan Desa Karimun, jalanan yang berkontur naik turun bukit tersebut mulai banyak yang berlubang hingga berbatu. Seiring dengan rumah-rumah warga yang mulai jarang. Jika adapun, hanya dipinggir-pinggir jalan, tak ada gang-gang ataupun perkampungan pada umumnya. Hal itu membuat Mas Icang yang bertugas mengendarai sepeda motor harus lebih berhati-hati lagi. Di beberapa titik kami juga sering menemui pekerja yang sedang sibuk memperbaiki jalan rusak tersebut. Sesekali kami menyapa mereka, sekedar mengucapkan: monggo, Pak. Sambil tersenyum semanis mungkin.

Ya, kami harus membayar mahal atas kecerobohan yang kami lakukan sendiri. Jadi begini ceritanya: Saat packing terakhir perlengkapan dan perbekalan yang akan dibawa, kami ternyata melewatkan untuk memasukkan gas butane kalengan yang sedianya digunakan untuk memasak. Dan baru teringat setelah sampai di dermaga pagi tadi! Sial!
Di pinggi jalanpun, sudah bisa melihat laut sejernih itu.
Tapi kami tidak menyerah dan hilang akal begitu saja. Beruntung, sebelumnya saya maupun Mas Icang sudah kenal dan sedikit bertanya-tanya tentang keadaan di Karimun Jawa kepada Mas Rullah. Seorang blogger asal Karimun Jawa yang kini sedang tinggal dan bekerja di Jogja. Rumah keluarganya sendiri berada di Desa Kemujan, letaknya di bagian utara pulau ini. Rencananya disanalah kami akan meminjam golok atau sejenisnya, untuk memotong-motong kayu bakar. Agar nantinya bisa tetap memasak dan perbekalan yang sudah kami bawa tak sia-sia.

Gerimis tipis menyambut kami, ketika sepeda motor melewati sebuah jembatan yang menjadi pertanda bahwa kami sudah memasuki Desa Kemujan. Tak sulit untuk menemukan rumah Mas Rullah. Sesuai dengan arahannya, kami hanya tinggal mencari keberadaan sebuah sekolah MTs. Selanjutnya kami tinggal bertanya pada warga sekitar.

"Mas nderek tanglet, griyane Pak Hasa niku pundi nggih?" Tanya saya pada seorang pria yang kami temui di dekat sekolah MTs tersebut. Pak Hasa adalah Ayah dari Mas Rullah.

Saya juga sengaja bertanya menggunakan bahasa Jawa kromo, untuk sedikit membuktikan bahwa Karimun Jawa merupakan bagian dari Jawa Tengah. Dan benar tidaknya suku Jawa juga menghuni pulau ini, selain suku Madura, Mandar ataupun Bugis.
Pantai Batu Putih
Pak Hasa sedang bercerita.
Seorang pria keturunan Mandar menyambut kami dengan ramah, meskipun dari perawakannya terlihat sedikit menyeramkan. Tak lama kemudian, istrinya juga ikut duduk di teras rumah menyapa kami. Kami memperkenalkan diri sebagai teman dari Mas Rullah, meskipun sebenarnya belum pernah bertatap-muka langsung dengannya. Selama ini hanya melalui komentar-komentar di sosial media ataupun blog miliknya.

"Oooh.. jadi sekarang Kelimutu sampe ke Karimun juga..?" Sahut Pak Hasa dengan nada terkejut. Sambil meminta kami untuk mengisi buku tamu.

Sayapun tak kalah terkejut, warga Karimun Jawa sendiri bahkan belum banyak yang tahu jika ada moda transportasi baru selain KMP Siginjai ataupun kapal cepat yang berangkat dari Jepara. Sama halnya dengan Mas-mas yang motornya kami sewa tadi, ketika kami beri penjelasan bahwa kami baru tiba di Karimun Jawa naik KM Kelimutu dari Semarang.
Pantai Batu Putih
Batu putih berpadu dengan gradasi warna laut.
Tiga cangkir kopi dihidangkan menemani perbincangan yang terus mengalir begitu saja antara kami berempat pagi itu, seiring dengan gerimis tipis yang kini sudah benar-benar reda. Saya dan Mas Icang bahkan sampai lupa niat awal kami singgah di rumah beliau. Tapi ini adalah kejutan yang menyenangkan, bisa berbincang dengan warga setempat adalah suatu hal yang sebenarnya saya cari ketika melakukan perjalanan. Banyak yang bisa digali, mulai dari jalan yang rusak, tanaman buah jambu air yang terserang hama ulat hingga PLTD yang baru saja diresmikan beberapa bulan yang lalu.

"Bulan apa kemarin itu, Ganjar kan kesini buat meresmikan PLTD yang baru itu kan. Nah, begitu lihat jalan yang hancur begitu langsung Bupatinya kena marah sama dia. Di depan orang banyak, di depan saya juga itu.." Seru Pak Hasa, tak bisa menahan gelak tawanya.
Ayunan Pantai Batu Putih
Ayunan sederhana di atas air laut.
Pantai Batu Putih
Mengenang keceriaan masa kecil.
Ya, karena letaknya yang agak terpencil membuat pulau ini seakan diabaikan oleh pemerintah daerah. Pembangunan infrastruktur terkesan lambat di kepulauan yang terdiri dari 27 pulau besar maupun kecil ini. Padahal, Karimun Jawa sendiri adalah aset yang tak ternilai bagi Kabupaten Jepara di sektor pariwisata maupun perikanan. Dengan total luas perairannya yang mencapai sekitar 110.000 hektar.

Namun kini masyarakat Karimun Jawa bisa sedikit bernapas lega. Pasalnya, dengan beroperasinya PLTD baru yang berkapasitas 2x2,2 megawatt, akhirnya layanan listrik bisa dinikmati selama 24 jam penuh. Hal ini, tentunya diharapkan bisa meningkatkan perekonomian masyarakat setempat yang selama ini hanya bisa menikmati listrik di kala malam hari saja.

Saya harus ekstra hati-hati, ketika langkah demi langkah menuruni jalan setapak yang cukup curam serta berkerikil. Mengikuti langkah Pak Hasa yang ternyata cukup lincah mencari pijakan yang pas di sela-sela akar pohon yang banyak melintang, meskipun beliau hanya mengenakan sandal jepit. Tak lama kemudian, kami sudah tiba di sebuah pantai yang tidak begitu lebar. Namun sebagian besar tertutupi oleh pohon di sepanjang pantai tersebut.
Pantai Batu Putih
Gradasi yang begitu menyejukkan mata.
Sebuah ayunan sederhana nampak menggantung di salah satu dahan pohon ketapang yang miring menjorok ke laut, seakan tak mampu lagi tegak berdiri. Sementara itu sebongkah batu berukuran besar menjorok ke laut di sebelah utara pantai. Karena keberadaan batu tersebut, pantai ini dinamakan Pantai Batu Putih.

Sambil menyalakan sebatang rokok, Pak Hasa mulai bercerita kepada kami. Bahwa dulu sekitar tahun 70an, pantai ini masih cukup lebar. Jelas beliau, sambil menunjuk ke arah beberapa meter dari bibir pantai. Namun karena abrasi yang terus menerus terjadi, mengakibatkan pantai hanya tersisa seperti yang sekarang ini.

"Pulau-pulau kecil itu, yang punya bukan orang sini lagi itu.. Kalo yang itu, punya orang Semarang atau mana gitu. Saya agak lupa.." Tutur beliau, sambil menunjuk sebuah pulau di seberang.
Menu makan siang kami.
Miris sebenarnya, mengetahui pulau-pulau kecil yang berada di perairan Karimun Jawa ternyata sebagian sudah bukan milik masyarakat, melainkan sudah dijual kepada investor swasta. Sayapun sedikit heran tadi, ketika dalam perjalanan menuju desa Kemujan, saya banyak menemui plang atau poster mengenai tanah dijual. Selain itu juga, banyak villa maupun resort di sepanjang jalan yang kami lalui tadi. Yang entah kenapa justru terkesan angkuh, meski bangunannya berkonsep tradisional sekalipun.

Saya juga sudah sering mendengar cerita dari Bu Fatimah. Di Jogja, banyak perkampungan yang tepaksa lenyap karena pembangunan hotel, apartemen ataupun gedung-gedung bertingkat lainnya yang belakangan ini semakin marak bak jamur di musim hujan. Semua itu dilakukan atas nama memajukan pariwisata di Kota Gudeg. Serta menghadapi permintaan kamar hotel dari wisatawan yang semakin hari semakin tinggi. Namun bagi saya, hal itu justru mengilangkan keramahan Jogja itu sendiri secara perlahan. Semoga hal serupa tidak terjadi di Karimun Jawa.

Pak Hasa tak bisa berlama-lama menemani kami. Karena ada keperluan lain, beliaupun pamit undur diri. Sementara kami segera membongkar peralatan dan mendirikan tenda, lalu menyiapkan baha-bahan untuk dimasak sebagai makan siang kami. Tak lupa, terlebih dahulu mengumpulkan kayu bakar yang cukup banyak ditemui di sekitar pantai.
Pantai Batu Putih
Dermaga di sebelah pantai.
Tak ada orang lain kecuali kami siang itu. Yang menghabiskan waktu dengan mencoba menikmati keheningan Pantai Batu Putih. Sesekali, terdengar suara dari mesin perahu nelayan yang sedang melintas. Ataupun teriakan dari murid-murid MTs yang mungkin sedang bercengkrama, bermain di halaman sekolah. Padahal jaraknya lumayan jauh untuk bisa terdengar sampai ke pantai.

Pantai Batu Putih
Maukah kau duduk di sampingku menikmati sore?
Pantai Batu Putih
Nelayan di sore hari.
Tak terasa, hari sudah beranjak sore. Sedangkan kami masih belum beranjak juga dari Pantai Batu Putih. Sementara itu, beberapa orang yang sepertinya warga setempat turut hadir meramaikan pantai nan sepi itu. Termasuk diantaranya anak-anak yang langsung berlari dan menceburkan diri di air. Lalu salah seorang dari mereka menyapa saya.

"Ndak renang, Mas?"

Saya hanya tersenyum sambil menggeleng pelan.
Pantai Batu Putih
Larut dalam keceriaan bagai di pekarangan rumah mereka sendiri.
Saya senang sekaligus sedikit iri, melihat keceriaan mereka bebas bermain di pantai yang sudah seperti pekarangan rumahnya sendiri. Sedangkan kami yang hidup di kota, hanya di teras rumah pun sudah harus rela menghirup asap knalpot serta bisingnya suara mesin kendaraan.

Sebuah perahu sampan entah darimana datangnya, mendekat ke arah pantai. Tak tahunya itu Pak Hasa. Rupanya, beliau tadi pergi memancing ikan dengan menaiki sampan sampai pulau seberang, katanya. Dan sengaja menyisihkannya sedikit untuk kami berdua.

"Dibakar ya buat nanti malam.." Ujar Pak Hasa.
Pantai Batu Putih
Kebaikan dalam kesederhanaan.
Beliau juga sedikit bercerita lagi, jika ikan-ikan yang ada di perairan Karimun Jawa ini sudah tak sebanyak dulu lagi. Menurut beliau, hal itu terjadi akibat dari ulah para nelayan di masa lampau yang tidak memikirkan kelestarian laut. Penggunaan potasium ataupun bom yang berlebihan ketika menangkap ikan, membuat beberapa spesies ikan kini juga turut punah.

Langit semakin pekat, kini hanya tinggal kami berdua di pantai yang semakin sunyi ketika malam menjelang. Sebelumnya, Pak Hasa sudah menawari kami untuk menginap saja di rumahnya. Lagipula menurutnya hujan akan turun malam itu, jika dilihat dari gumpalan awan sore tadi. Namun kami tetap bergeming, dan memilih bermalam di pantai agar keesokan harinya bisa menyaksikan sunrise kedua di bulan Oktober.
Sebelum kerajaan nyamuk menyerang.
Api sudah menyala terang sejak tadi, dan satu per satu ikan yang sebelumnya sudah di bersihkan mulai saya letakkan di atasnya. Sepertinya kami akan melalui malam itu dengan lancar, pun tak ada pertanda hujan akan benar-benar turun. Namun kenyataan berkata lain, serbuan nyamuk beringas membuat kami tak bisa duduk dengan tenang. Kibasan demi kibasan tak berefek apapun pada nyamuk yang terus berdengung di sekitar telinga. Bahkan sekali tepuk tanpa melihat pun, saya bisa mendapatkan lima ekor nyamuk mati di telapak tangan.

5 menit.. 15 menit.. tak sampai setengah jam, akhirnya kami tak tahan lagi. Kami menyerah dari serangan nyamuk beringas yang haus darah itu. Lalu berkemas secepat mungkin di tengah kegelapan malam, yang entah bagaimana caranya harus dilakukan. Sambil berharap, semoga tawaran menginap untuk kami masih berlaku.

"Tendone tinggal wae gak popo ya.."

Malam kami akhirnya berlanjut di beranda rumah Pak Hasa. Beliau masih belum bosan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kami lontarkan, masih seputar kehidupan yang berlangsung di Karimun Jawa. Anggota keluarga Pak Hasa yang lain juga ikut bergabung bersama kami. Sesekali, terdengar kesibukan dari sebuah bangunan baru di seberang jalan. Sepertinya, salah satu jaringan retail minimarket akan segera merambah sampai di sebuah pulau kecil di Laut Jawa ini.
Pagi sehabis hujan, di dermaga Pantai Hadirin.
Berfoto dulu sebelum pamit.

Share this:

Johanes Anggoro

Ceyron Louis

Yang ingin terus berjalan lebih jauh lagi. Berjalan untuk menapaki kisah, bukan meninggalkan. Terimakasih telah kembali, untuk menilik apa yang mungkin pernah terselip, disini. Di sore ini.

57 Komentar:

  1. Hahahahah, aku ijin mengambil foto yang ada bapak :-D :-D

    BalasHapus
  2. Waaaaaaa aku jd pengen ke Karimuuuuun dan ngopi ngopi di rumah om sitam

    BalasHapus
  3. ciee rumah mas Rullah kedatangan tamu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan tamu mas, saya cuma gelandangan yang butuh tumpangan :(

      Hapus
    2. Aih, bahasanya gelandangan yg butuh tumpangan.

      Sekarang si gelandangan itu sudah sampai ke karimun jawa.. Entah kemana besok ia menggelandang lagi.. :)

      Hapus
    3. wkwkwk, gamau ikutan nggelandang mas?^^

      Hapus
  4. Pantainya cantik dan bersih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak sampah sebenernya kak :(
      Karna kebawa arus, bukan pengunjung

      Hapus
  5. wah asik...bisa jalan ke Karimun dan ketemu keluarga blogger Hits dari Jogja...kapan2 kalo kesana ikut dong kak...hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk, agendakan. Mungkin mei-juli taun depan nunggu cuaca bagus lg:)

      Hapus
  6. pantai jadi tempat bermain bagi masyarakat di sebuah pulau :D

    BalasHapus
  7. wah. dolan ke rumahnya mas sitam toh. enak y kalau k karimun ada tempat singgah. haha
    mau ah ke sana

    BalasHapus
  8. waah kalau ke karimun jawa kontek mas rullah aja aah. hahaha

    ceritanya seru banget mas. Lanjutkan.

    Happy Blogging

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha iya kontek aja, rumahnya terbuka bagi siapapun kok

      Hapus
  9. Belum pernah ke Karimun jawa :(
    semoga ada kesempatan kesana

    BalasHapus
    Balasan
    1. ciyeee yg udah ke vietnam malah belum ke karimun jawa :p

      Hapus
    2. miris ya... eh beneran nginep di rmh sitam?

      Hapus
  10. Pengen banget bisa wisata ke sana, semoga saya juga bisa main ke sana, nice artikelnya ^_^

    BalasHapus
  11. Mirisnya tuh emang kl perkembangan pariwisata ga diimbangi saa mempertahankan kearifan lokal ya mas..misalnya byk pulau yg akhirnya dijual utk dibangun resort dan semacamnya. Masyarakat asli bisa apa :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. dilema sih ya hehehe, semoga lebih bijak demi pariwisata indonesia yg semakin maju :)

      Hapus
  12. Oalah... seru perjalananya... bang nash kan asli karimun jawa...
    kapan2 maen sana ah..

    BalasHapus
  13. Wah Kemujan, sampai ke Bunga Jabe nggak mas? Saya pengen ke Kerimun juga nih. Gegoleran di pantai sama anak bayi asyik juga kayaknya hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. engga, mbak. ga sempet eksplore lebih jauh, cuma gegoleran aja di pantai :D

      Hapus
  14. Pulau-pulau yang dijual, ini juga yang diceritakan saat tour lau pas ke karimun mas. Memprihatinkan memang. BTW nyebrang pakai KM Kelimutu ini tarifnya berapa mas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. 254ribu PP mbak, dpt makan jg 3 kali di kapal ^^

      Hapus
  15. Mesti baca postingan pas naik kapalnya nih supaya nyambung ceritanya, hehe. Pelajaran menginap di alam terbuka, bawa anti nyamuk selalu ya. Tapi memang dengan perjalanan ke daerah bisa merasakan juga kebaikan warga lokal, saya jadi pengen main-main ke Karimunjawa dan ngeteh-ngeteh di rumah Mas Rullah, hihi. Sekalian menyesap pemandangan dan suasana Karimunjawa yang spektakuler itu... sumpah mupeng banget.

    BalasHapus
  16. Duhh,, kangen pantai,, melihat birunya laut,,

    BalasHapus
  17. haduuuh... nyamuknya nggak asyik banget ya..
    akhirnya nggak dapat sunrise?

    BalasHapus
  18. Aku dulu keliling karimun malah sewa mobil bak terbuka rame2 hahaha

    BalasHapus
  19. Wah ini toh penampakan ayahanda mas Rullah *salim*

    Itu serem juga ya serbuan nyamuknya, apakah di rumah keluarga mas Rullah ada serangan kerajaan nyamuk juga?



    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo di rumah engga begitu ganas, mas gio

      Hapus
  20. Curhatnya bu fatima kok sama yo kyk yg punya losmen laras hati...yg losmen kecil kalah sm hotel2 jaringan ituhh...karena beli rumah terlalu mainstream jadi beli pulau yawww ckckckk

    BalasHapus
  21. Pas kesini juga lagi musim nyamuk. Parah bener karimun kalau pas musim nyamuk

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha ya kan, lain kali harus bawa lotion anti nyamuk :D

      Hapus
  22. nice sharing mas :D saya belum keturutan pengen main ke karimun jawa :" Semoga bisa segera kesana. Aamiin :)

    BalasHapus
  23. mungkin ini yang namanya keuntungan punya banyak kenalan sesama blogger walaupun belum pernah tatap muka tapi jadi punya "sesuatu" saat berkunjung ke daerah-daerah. jateng patut berbangga punya daerah karimun jawa dan sudah sepatutnya diperlakukan sama dengan daerah lainnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. yap, seharusnya karimun jawa mendapat perhatian lebih dari pemerintah, khususnya dalam hal ini jawa tengah :)

      Hapus
  24. bener mantab wisata tersebut, pengin rasanya ke karimun jawa, soalnya belum pernah

    BalasHapus
  25. kangen sama pantai di karimunjawa dan keramahan penduduknya
    dulu ke karimunjawa penyeberanganya hanya dari semarang dan jepara, masih pakai kapal cepat Kartini I, berangkat dari semarang hari sabtu jam 9 pagi dan pulang dari karimunjawa ke semarang jam 13.30

    BalasHapus
  26. Dari dulu pengeeeeeeeen banget ke sini, cuma belum ada rejeki jadi belum kesampean :)

    BalasHapus
  27. Karimun Jawa itu sebenernya dipisah atau sambung mas? Aku masih rada bingung hehe
    Tahun lalu sempat kesana liburan, langsung jatuh cinta deh. Menurut saya ini wisata bahari terbaik di Jawa. Semoga saja terus berbenah agar semakin maju masyarakatnya beriringan dengan pariwisatanya, jangan sampai masyarakat hanya menjadi penonton di rumah sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu yg agak membingungkan mas, di google sendiri memang ada dua keyword, yg satu disambung dan yg enggak.
      Memang seharusnya masyarakat sekitarlah yg harus menikmati dari hasil pariwisatanya sendiri

      Hapus
  28. Waw berarti harus bawa autan ya #eh ngiklan hehe

    BalasHapus