KRI Dewaruci dan Cerita Semasa Kecil

Beberapa saat sebelum badai menerjang.
Hampir 3 jam berlalu sejak KM Kelimutu yang membawa kami bertolak dari perairan Karimun Jawa. Itu berarti kapal sudah menempuh hampir setengah perjalanan menuju Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang. Namun tak ada tanda-tanda gelombang akan mereda, meski hujan sudah benar-benar reda.

Sempat terbersit sedikit kekhawatiran di benak saya, pun saya pikir Mas Icang juga merasakan hal yang sama. Bagaimana tidak, belum apa-apa mendung pekat sudah terlihat menggulung dari arah selatan. Ketika kami baru tiba di dermaga Pelabuhan Karimun Jawa, untuk menunggu kapal kecil yang akan membawa kami berpindah ke KM Kelimutu. Arah selatan jugalah yang akan dituju oleh KM Kelimutu untuk mengantarkan kami menuju Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang.
KM Kelimutu terlihat di kejauhan.
Bokong KM Kelimutu.
Benar saja, ketika semua penumpang telah selesai naik ke kapal, hujan disertai angin kencang langsung menghantam KM Kelimutu tanpa ampun. Membuat kapal berputar-putar tak karuan, dan hanya bertumpu pada jangkar kapal agar tidak terbawa arus. Bahkan jarak pandang pun menjadi sangat terbatas. Pulau-pulau di sekitarnya sudah lenyap dari pandangan karena begitu derasnya hujan. Entah bagaimana nasib kapal cepat Bahari Express tadi yang berangkat menuju Pelabuhan Kendal di hadang cuaca buruk seperti itu.

Meski begitu, KM Kelimutu yang kami tumpangi tetap diberangkatkan sesuai jadwal. Tepat pukul 13.00, kapal bergerak perlahan meninggalkan perairan Karimun Jawa di tengah cuaca buruk.

Kapal terus melaju, menerjang gelombang Laut Jawa yang mencapai 2-3 meter. Membuat seisi kapal terombang-ambing tak karuan. Pun angin justru berhembus semakin kencang saja. Namun saya masih betah berada di lorong luar kapal, berbeda dengan penumpang lainnya yang sudah meringkuk di bed masing-masing, karena kelelahan usai berwisata bahari. Konyol sebenarnya, saya hanya berjaga-jaga jika suatu hal buruk terjadi. Saya bisa dengan cepat menuju sekoci tanpa harus menghadapi kepanikan yang berarti.
Tempias-tempias gelombang laut membanjiri lorong kapal.
Ah, lupakan saja imajinasi liar saya tadi.

Cukup malu saya akui, ini adalah pengalaman pertama saya benar-benar naik kapal. Tanpa menghitung sekali menumpang kapal feri untuk menyeberang ke Pulau Bali, ketika study tour SMA dulu. Saya tidak pernah bersinggungan dengan laut sedekat, selama dan seintens ini. Sekalinya naik kapal, sudah dihadapkan dengan gelombang yang sedemikian ganasnya. Berdeda sama sekali ketika berangkat hari sebelumnya.

Ya, mungkin saya sudah banyak melihat dan mendengar cerita tentang laut biru, yang terkadang bisa sangat indah dan bersahabat. Namun saya sadar, saya tidak akan pernah memahai betul seberapa dahsyat dan berkuasanya lautan yang sesungguhnya, sebelum benar-benar berada di dalamnya.
Benderang di bawah langit malam.
Langit sudah benar-benar gelap, ketika kapal yang membawa kami akhirnya merapat ke dermaga Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Tali kapal mulai ditambatkan satu per satu, menandai berakhirnya perjalanan kami bersama KM Kelimutu. Perjalanan yang panjang namun terasa sangat singkat. Mungkin setelah ini saya akan ditertawakan oleh orang-orang. Kenapa tidak snorkling? Bukankah Karimun Jawa terkenal akan surga bawah lautnya? Pun ketika diajak berenang di pantai Batu Putih oleh warga lokal tempo hari, saya berkilah tidak membawa baju ganti. Padahal, sebenarnya saya memang tidak bisa berenang.

***

Saya terlonjak, begitu mengenali sebuah kapal layar tiang tinggi yang sedang bersandar dengan tenang di dekat KM Kelimutu.

" Iku kan Dewaruci..!!"
Merapat ke dermaga.
Ya, tak salah lagi. Itu adalah KRI Dewaruci, salah satu kapal milik TNI Angkatan Laut yang begitu melegenda dan mendunia. Namanya begitu terkenal dan telah mengharumkan nama bangsa. 

Belakangan saya tahu, saat itu KRI Dewaruci singgah di Semarang beberapa hari dalam rangka ASEAN Cadet Sail 2016. Momen langka tersebut tentunya tak bisa dilewatkan begitu saja, kami dan para penumpang KM Kelimutu yang baru turun, tak sungkan lagi untuk mendekat dan berfoto di samping lambung kapal yang terlihat begitu gagah dengan tiga tiang yang menjulang tinggi itu.
Akhirnya kembali ke pulau Jawa dengan selamat.
Tangga sedang dipersiapkan.
Kapal dari kelas barquentine ini, dikenal sebagai kapal latih bagi para taruna atau kadet Akademi Angkatan Laut, yang melayari kepulauan Indonesia dan juga ke luar negeri. Di tahun 2016 ini, KRI Dewaruci sudah menginjak usianya yang ke 63 tahun. Dan masih tetap beroperasi meski sebenarnya sudah berstatus purna tugas.

Tak ada yang menyangka, kapal yang berbobot mati 847 ton itu, sudah beberapa kali menjalani misi keliling dunia. Terakhir pada tahun 2013 silam, KRI dewaruci melakukan pelayaran keliling dunia ke berbagai negara tujuan dalam mengemban misi latihan bagi taruna angkatan laut. Serta misi diplomasi internasional dan memperkenalkan kebudayaan Indonesia ke berbagai negara yang disinggahi.
Bagian belakang kapal.
Saya jadi teringat masa kecil, kapal ini jugalah yang membuat saya pernah bercita-cita menjadi seorang pelaut. Dulu ketika saya masih duduk di bangku TK, dalam rangka mengikuti karnaval Agustusan tingkat kecamatan para siswa TK tempat saya bersekolah diwajibkan mengenakan kostum profesi. Saat itu, saya terpaksa mengenakan baju putih-putih kebanggaan para perwira Angkatan Laut, karena hanya baju itu yang tersisa. Sementara teman-teman lain ada yang memakai baju kebesaran polisi, tentara maupun dokter serta yang lainnya.

Selain itu, sebenarnya dulu saya juga tak suka dengan warna putih. Bagi saya, warna putih terkesan menyeramkan, angker dan identik dengan rumah sakit. Terlebih lagi, tak lama sebelum masuk bangku TK, saya mengalami insiden kecil yang membuat saya harus dirawat di rumah sakit selama satu bulan penuh. Sampai saat ini pun, saya tak pernah bisa berdamai dengan tempat yang bernama rumah sakit. Apalagi kedua orang tua saya juga menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit.
Melihat debih dekat.
Sampai suatu saat ketika saya sudah duduk dibangku sekolah dasar, di buku pelajaran saya menemukan sebuah gambar kapal bernama Dewaruci. Namun bentuknya tentu jauh berbeda dengan apa yang saya lihat di dermaga pelabuhan Tanjung Emas, Semarang itu. Lalu saya memberanikan diri bertanya kepada Bapak apa itu kapal Dewaruci.

Cerita demi cerita yang beliau tuturkan, membuat semangat saya berkobar-kobar. Sejak saat itu, saya memplokamirkan diri bercita-cita menjadi seorang Perwira Angkatan Laut ketika dewasa nanti. Tentunya menjadi pilihan kedua setelah profesi guru, karena bagaimanapun bapak yang seorang guru tetap menjadi idola saya, anak laki-laki satu-satunya di keluarga kami.
Saya, 20 tahun yang lalu.
Namun apa daya, seiring berjalannya waktu saya tak berani bercita-cita lebih jauh menjadi seorang Perwira Angkatan Laut. Karena, sampai detik ini pun nyatanya saya tak bisa berenang.

Ternyata semesta punya cara lain, mempertemukan saya dengan KRI Dewaruci. Melalui rencana panjang untuk sekedar menengok seperti apa Karimun Jawa itu. Lalu pengalaman pertama naik kapal sebesar KM Kelimutu. Hingga tiba kembali dengan selamat di pulau Jawa, meski harus melalui cuaca dan gelombang laut yang tidak bersahabat.

Terima kasih, KM Kelimutu. Semoga suatu saat nanti saya akan mengunjungimu kembali. Dalam wujud yang sesungguhnya, sebuah gunung nun jauh di timur sana.

Baca juga: Menikmati Sepi di Pantai Batu Putih
“Tulisan ini diikutsertakan dalam Postingan Bersama
 – The Best Traveling Moment 2016″ oleh Indonesia Corners


Share this:

Johanes Anggoro

Ceyron Louis

Yang ingin terus berjalan lebih jauh lagi. Berjalan untuk menapaki kisah, bukan meninggalkan. Terimakasih telah kembali, untuk menilik apa yang mungkin pernah terselip, disini. Di sore ini.

41 Komentar:

  1. Aku dapat info dewaruci di tanjung emas dari twitter. Sayang banget tidak bisa ke sana. Padahal aku pengen banget motret dewaruci.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe, sebuah kebetulan banget bisa ketemu :3
      sudah jelas kan mas, dewaruci bukan phinisi ^^

      Hapus
  2. Kayak kapal Titanic yah.

    BalasHapus
  3. boleh lah saya suatu saat nanti diajak naik KRI Dewaruci

    BalasHapus
  4. wihh beneran g bisa renanggg.. toslah sama :D
    nice story jo

    BalasHapus
  5. Kalo dewaruci mau jalan ke Mekkah kudu pesen tiket segera nih hehe biar keangkut.... siapa ya yg bisa ajari kita berlayar keren hehe nenek moyangku sayang mas bukan pelaut sedih T.T keren juga yah naik kapal pas ombak ganas... pasti deg deg nya minta ampun...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan deg2an nya sih, takut jackpot alias muntah aja XD

      Hapus
  6. itu naik kapal dg ombak yang besar...kena jackpot juga ga mas?:D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha untungnya engga mas, tp pas minum jus kemasan dr pelni perut rasanya lgsung muneg
      Dan nggliyengnya itu lho bbrp hri masih kerasa :D

      Hapus
  7. pengen nyoba km kelimutu

    BalasHapus
  8. kayanya kamu harus belajar berenang biar engga takut akan laut.

    BalasHapus
  9. aduh kebayang gimana di kapal, aku takut naik kapal laut karena mersa gak bisa berenang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi seru juga loh mbak, kapan2 boleh dicoba ^^

      Hapus
  10. Waktu balik dari Bawean juga cuaca buruk. Di tiap kursi sudah disediakan kantong kresek buat yang kena jackpot. Puyeng banget deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. resiko melakukan perjalanan laut ya mbak :d

      Hapus
  11. wahh dewaruci ada di Semarang yaakk...aku pernah liat pas masih kecil ketika di Surabaya. hihihi

    BalasHapus
  12. waaa ternyata dirimu ga bisa berenang. haha. dulu aku juga ga bisa mas. tapi sejak pulang dari karimun sudah meniatkan diri buat bisa. laut itu indah e, sayang banget selama ini ga bisa berenang. biarpun susah karna dasarnya takut air, makanya butuh waktu lama. sekarang ya lumayan lah, walau tetep masih belum canggih

    BalasHapus
    Balasan
    1. yap, sepertinya memang saya harus belajar berenang kak, karna saya aslinya ya mupeng pengen nyebur ke laut indonesia yg sungguh awesomne :)

      Hapus
  13. Naik kapal memang hampir sama kayak naik pesawatL harus sama-sama pasrah kalau sudah di atasnya hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haahhaha bener mas, yg penting gak jackpot aja udh bersyukur :D

      Hapus
  14. jadi pengen traveling naik kapal, kapal dewaruci.

    BalasHapus
  15. Wahhh..beruntung y..Mas bisa liat langsung kapal Dewaruci yg melegenda
    Duuh..karimun jawa udah ga heran sering banget denger beberapa wisatawan terjebak beberapa hari karna badai

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setiap perjalanan udh ada resikonya sendiri2 sih mbak, beruntung ketemu dewsruci lgsung :D

      Hapus
  16. Saya paling takut sama air, ga kebayang deh seremnya kalau harus naik kapal pas cuacanya lg ky gt...

    BalasHapus
  17. aku pun tidak bisa berenang dan memberanikan diri naik kapal saat berkunjung ke Cilacap dan menuju pantai pasir putih pun saat kunjungan kedua kalinya. awalnya memang deg-degan, was-was bagaimana kalau kapal terbalik dan tenggelam tapi pas pemilik kapal menyediakan pelampung, akhirnya aku memberanikan diri dan saat di tengah laut suasana begitu tenang dan bisa melihat karang-karang yang tidak terlalu dalam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Was-was itu pasti mas. Tapi bagaimanapun juga sbg penduduk negara kepulauan seperti Indonesia ini, rasanya sulit untuk tidak mencintai laut :)

      Hapus
  18. Akk aku juga belum bisa berenang, resolusi melulu, tapi sempat nyoba sih snorkeling, kan ada pelampung hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. ahahaha bener sih mbak. tapi liat mereka pada bebas berenang tanpa pelampung itu bikin iri pengen ikutan nyemplung juga -_-

      Hapus
  19. Memang bikin deg-degan kok kalau naik kapal pas cuaca buruk, hiks..terima kasih sudah ikutan posting bersama yaa :)

    BalasHapus
  20. Karimunjawa pemandangannya memang Exotis sekali. Airnya biru dan bening. Seru juga ya Mas buka tenda dan kemping di tepi laut seperti itu. Sambil bakar-bakar ikan segar. Sedap!

    BalasHapus
  21. pengen nyobain naik kapal berlayar gitu berhari-hari, tapi kalau inget cuaca dan kondisi laut yang kadang ga ketebak.. agak-agak jiper juga.
    Saya baru tahu ada kapal namanya Dewaruci. hehe

    BalasHapus