Menengok Masa Lalu di Museum Kereta Api Ambarawa

Stasiun Ambarawa.
Entah sejak kapan saya suka dengan berbagai hal yang berkaitan dengan kereta api. Eh gak cuma kereta api ding, saya juga suka pesawat. Eh gak cuma pesawat, saya juga suka kapal. Intinya saya suka dengan benda mati yang bergerak. (maksudnya?) Ya misalnya moda-moda transportasi yang saya sebutkan tadi. Duh kok jadinya malah merembet kemana-mana ini ya. Padahal saya kali ini pengen ngomongin kereta api lho.
 
Ngomongin soal kereta api, saya pribadi lumayan sering menggunakan moda kereta api ketika berpergian jarak jauh. Kalau tujuannya masih bisa diakses dengan kereta api ya pasti naik kereta yang jadi pilihan utama. Kalau tidak memungkinkan baru menggunakan moda transportasi umum lain, misalnya bus atau yang lainnya.

Lampu vintage ala ala.
Korban mutilasi :(
Kereta api juga erat kaitannya dengan sejarah bangsa Indonesia. Karena tahu sendiri lah kereta api (plus infrastrukturnya) ada kan berkat Pemerintah Kolonial belanda pas menjajah bangsa kita dulu! Maka tak heran kebanyakan stasiun-stasiun di Indonesia merupakan bangunan tua yang masih kokoh berdiri dan masih aktif digunakan hingga kini.

Namun karena sudah tidak aktif lagi ada juga yang sudah dialihfungsikan menjadi museum, salah satunya adalah Museum Kereta Api Ambarawa. Museum yang terletak di Jl.Stasiun No.1, Ambarawa ini, juga menjadi salah satu tempat wisata sejarah yang menjadi andalan di Kabupaten Semarang. Saya teringat dulu (lupa kapan persisnya) pernah diajak seorang teman ke tempat ini. Tapi berhubung minim informasi, kami tidak tahu bahwa ternyata museum itu sementara ditutup untuk wisata karena sedang  direvitalisasi. Walah! Alhasil kecele lah kami waktu itu.

Bangunan utama Stasiun.
Libur lebaran lalu sebelum ke Sumurup, saya, Budhe dan Mas Tarom terlebih dulu berkunjung ke Museum Kereta Api Ambarawa ini (20/7). Kami sampai sekitar pukul 8.00 jadi masih agak sepi. Tiket masuk seharga Rp.10.000 perorang menurut saya sih lumayan juga untuk ukuran masuk ke sebuah museum. (Masih gak rela bayar segitu) Bisa saya maklumi, karena setelah sekian lama ditutup museum ini sudah banyak berbenah meski belum sepenuhnya rampung. Itung-itung ikut melestarikan peninggalan sejarah toh?

Museum ini dulunya dikenal sebagai Stasiun Willem I. Stasiun ini awalnya merupakan titik pertemuan antara lebar sepur 1435 mm ke arah Kedungjati/timur dengan lebar sepur 1067 mm ke arah Magelang/Yogyakarta. Terlihat dari kedua sisi stasiun yang memang dibangun untuk mengakomodasi ukuran lebar sepur berbeda. Gak percaya? Silahkan ukur sendiri! :p

Dibangun pada tahun 1873, stasiun ini secara resmi ditutup pada tahun 1976 lalu akhirnya dialihfungsikan sebagai museum. Secara fisik, bangunan utama stasiun terlihat mirip dengan stasiun Kedungjati, yang sering saya lihat ketika kereta api Kalijaga yang saya naiki singgah di stasiun Kedungjati untuk menaik-turunkan penumpang dalam perjalanan dari stasiun Poncol, Semarang ke stasiun Purwosari, Solo.

Nah bangunan utama stasiun tadi sekarang digunakan untuk menyimpan berbagai koleksi peralatan tua perkeretaapian. Salah satu yang paling saya ingat adalah mesin cetak tiket. (Gak sempet motret) Namun sayangnya beberapa koleksi museum tersebut tidak sebanyak yang ada di Lawang Sewu. Malah terakhir kali saya ke tempat ini (5/9), benda koleksi tadi sudah dipindahkan ke tempat yang baru di sebelah barat stasiun, dekat bangunan toilet dan Mushola yang juga merupakan bangunan baru lho! Toiletnya masih bersih! Wah, kalau begini kan menambah kenyamanan pengunjung toh?

Salah satu koleksi lokomotif uap.
Yang paling menarik dari museum Kereta Api Ambarawa ini adalah koleksi beberapa lokomotif uap tua yang kini sudah tidak aktif lagi. Mulai dari ukuran relatif kecil dan hanya bisa melaju dengan kecepatan maksimal 35 km/jam sampai yang terpanjang yaitu 13,015 meter dan bisa melaju 90 km/jam! Kini koleksi lokomotif tersebut ditata berderet-deret serta diberikan atap pelindung. Lalu disampingnya juga dibuatkan jalur pejalan kaki untuk memberikan kenyamanan bagi pengunjung.

Ada juga lokomotif uap yang masih aktif beroperasi untuk kegiatan wisata lho. Dulu sih kalau tidak salah sepertinya biasa melayani rute Stasiun Ambarawa-Stasiun Bedono PP. dengan sistem tiket. Tapi kabarnya sekarang hanya bisa dipesan seharga Rp.10 juta per 2 gerbong! Tenang, jangan putus asa dulu mendengar harga tersebut. Untuk bernostalgia dengan kereta api jadul ini masih bisa kita nikmati CUKUP seharga Rp.50ribu per orang dengan rute berbeda yaitu Staiun Ambarawa-Stasiun Tuntang PP. Itupun hanya dihari tertentu saja dan menggunakan lokomotif diesel tua.

Kalau saya sih mending naik kereta yang berhenti sajaaa >.<
Naik-naik kereta api, tua-tua sekali *nyanyi*
Budhe dan lokomotif tua.
Seperti yang saya bilang tadi, museum ini sudah banyak berbenah. Kawasan museum ditata ulang sehingga kini terlihat lebih estetik. Yang paling mencolok adalah di halaman depan stasiun yang dulunya diletakkan sebuah lokomotif, kini terdapan ikon baru yaitu tulisan I Ambarawa yang ditujukan untuk branding museum dengan mengadopsi tulisan I Amsterdam yang ada di Belanda sana.

I Love Ambarawa.
Selanjutnya, pada penataan koleksi museum di halaman dalam, terdapat juga dinding panjang yang dibuat untuk memuat peristiwa sejarah kereta api di masa lalu dan perkembangannya hingga masa sekarang. Lini masa ini dilukiskan dalam foto-foto yang tajam dan cukup menarik. Saking seriusnya membaca saya sampe lupa motret! :(

Pada kunjungan terakhir saya ke museum Kereta Api Ambarawa ini (5/9) sedang tidak terlalu banyak pengunjung lainnya, mungkin karena masih hari sabtu. Berbeda kondisinya ketika hari minggu atau tanggal merah, bisa dipastikan ramai oleh wisatawan. Siang menjelang sore itu, saya hanya duduk-duduk di depan stasiun sementara teman saya sibuk berkeliling. 

Eh ada yang lago foto model wkwkwk. cekrek!
Berada di stasiun atau bangunan/gedung tua lainnya membuat imajinasi saya melayang, seolah membawa saya kembali ke masa lalu. Itulah kenapa lebih senang berada di tempat-tempat tersebut. Angin berhembus sepoi-sepoi, membuat saya berniat untuk melakukan hal yang sudah seperti kebiasaan saya; tidur di sembarang tempat. Walah! >.<
Liatin apa mas? :p
Liat ginian jadi pengen Zzzz..
Gerbong tua yang masih digunakan untuk kegiatan wisata.

Share this:

Johanes Anggoro

Ceyron Louis

Yang ingin terus berjalan lebih jauh lagi. Berjalan untuk menapaki kisah, bukan meninggalkan. Terimakasih telah kembali, untuk menilik apa yang mungkin pernah terselip, disini. Di sore ini.

14 Komentar:

  1. itu gerbong tua, bagus kalo dijadikan restoran2 unik dan khas tuh

    BalasHapus
  2. asyik juga ya melihat kereta api dari jaman dulu.

    BalasHapus
  3. belum tengok lagi setelah renovasi yg cukup memakan waktu tersebut :(

    BalasHapus
  4. lokomotif tuanya keren :D btw, itu stasiunnya emang sepi gitu ya?

    BalasHapus
  5. Tidak hanya sekedar berlibur, dengan mengunjungi museum ini, kita dapat belajar tentang sejarah :)

    BalasHapus
  6. wahh keren disana masih ada kereta uap..

    BalasHapus
  7. wah, bagaimana y wajah ambarawa skrg. terakhir ke sini 2011. pengen banget ke sini lg

    BalasHapus
    Balasan
    1. kereta uap wisatanya juga udh beroperasi lg loh mas hanif:D

      Hapus
  8. Kereta salah satu transportasi yang kusukai, ambarawa tempatnya juga adem

    BalasHapus
  9. salah satu yg bikin saya cinta sm ambarawa, masa lalu, peninggalan kolonial, kereta api dan toleransi beragamanya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. huum, ambarawa memang meyimpan sejarah yg panjang :)

      Hapus
  10. sepanjang rel jogja, magelang, ambarawa, semarang yang dulu pernah ada... semoga revitalisasi jalur ambarawa-kedung jati cepet kelar :) gak sabar gimana rasanya naik kereta ke semarang dr ambarawa ;)

    BalasHapus